Ilmu Nahwu علم النحو Shorof

Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi.
Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula terbentuknya kaidah-kaidah ini, dan kenapa dikatakan dengan istilah nahwu?. Simak artikel berikut.
Pada jaman Jahiliyyah, kebiasaan orang-orang Arab ketika mereka berucap atau berkomunikasi dengan orang lain, mereka melakukannya dengan tabiat masing-masing, dan lafazh-lafazh yang muncul, terbentuk dengan peraturan yang telah ditetapkan mereka, di mana para junior belajar kepada senior, para anak belajar bahasa dari orang tuanya dan seterusnya. Namun ketika Islam datang dan menyebar ke negeri Persia dan Romawi, terjadinya pernikahan orang Arab dengan orang non Arab, serta terjadi perdagangan dan pendidikan, menjadikan Bahasa Arab bercampur baur dengan bahasa non Arab. Orang yang fasih bahasanya menjadi jelek dan banyak terjadi salah ucap, sehingga keindahan Bahasa Arab menjadi hilang. Dari kondisi inilah mendorong adanya pembuatan kaidah-kaidah yang disimpulkan dari ucapan orang Arab yang fasih yang bisa dijadikan rujukan dalam mengharakati bahasa Arab, sehingga muncullah ilmu pertama yang dibuat untuk menyelamatkan Bahasa Arab dari kerusakan, yang disebut dengan ilmu Nahwu.
Adapun orang yang pertama kali menyusun kaidah Bahasa Arab adalah Abul Aswad Ad-Duali dari Bani Kinaanah atas dasar perintah Khalifah Sayidina Ali Bin Abi Thalib, KW.
Terdapat suatu kisah yang dinukil dari Abul Aswad Ad-Duali, bahwasanya ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anak perempuannya pada malam hari, sang anak mendongakkan wajahnya ke langit dan memikirkan tentang indahnya serta bagusnya bintang-bintang. Kemudian ia berkata, مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ . “Apakah yang paling indah di langit?”. Dengan mengkasrah hamzah, yang menunjukkan kalimat tanya.
Kemudian sang ayah mengatakan, نُجُوْمُهَا يَا بُنَيَّةُ . “Wahai anakku, Bintang-bintangnya”.
Namun sang anak menyanggah dengan mengatakan, اِنَّمَا اَرَدْتُ التَّعَجُّبَ . “Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan kekaguman”.
Maka sang ayah mengatakan, kalau begitu ucapkanlah, مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ . “Betapa indahnya langit”. Bukan, مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِ . “Apakah yang paling indah di langit?”. Dengan memfathahkan hamzah…

****

Dikisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Duali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan, أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya..”
Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan.

Seharusnya kalimat tersebut adalah, أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”
Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad Ad-Duali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah Islam.
Kemudian hal ini disadari oleh khalifah Ali Bin Abi Thalib, sehingga ia memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah (penyandaran), kalimat ta’ajjub (kekaguman), kata tanya dan selainnya, kemudian Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad Adduali, اُنْحُ هَذَا النَّحْوَ “Ikutilah jalan ini”.
Dari kalimat inilah, ilmu kaidah Bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu. (Arti nahwu secara bahasa adalah arah). Kemudian Abul Aswad Ad-Duali melaksanakan tugasnya dan menambahi kaidah tersebut dengan bab-bab lainnya sampai terkumpul bab-bab yang mencukupi. Kemudian, dari Abul Aswad Ad-Duali inilah muncul ulama-ulama Bahasa Arab lainnya, seperti Abu Amru bin ‘alaai, kemudian al Kholil al Farahidi al Bashri (peletak ilmu arudh dan penulis mu’jam pertama) , sampai ke Sibawaih dan Kisai (pakar ilmu nahwu, dan menjadi rujukan dalam kaidah Bahasa Arab).
Seiring dengan berjalannya waktu, kaidah Bahasa Arab berpecah belah menjadi dua mazhab, yakni mazhab Basrah dan Kuufi (padahal kedua-duanya bukan termasuk daerah Jazirah Arab). Kedua mazhab ini tidak henti-hentinya tersebar sampai akhirnya mereka membaguskan pembukuan ilmu nahwu sampai kepada kita sekarang.
Demikianlah sejarah awal terbentuknya ilmu nahwu, di mana kata nahwu ternyata berasal dari ucapan Khalifah Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dasar-Dasar Ilmu Nahwu

Kunci dalam mempelajari bahasa adalah banyaknya kosa kata yang dimiliki (dihafal) dan menerapkannya di dalam kalimat, dengan demikian ia akan mampu berbahasa dalam bahasa tersebut, namun hal itu belum menjamin keselamatan ungkapan dari kefahaman dan ketidak fahaman pendengar atau lawan berbicara yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan suatu kaedah, terutama dalam bahasa arab yang penuh dengan berbagai macam kaedah yang mana bila salah dalam menggunakannya maka akan berakibat fatal terhadap arti dan maksud dari ungkapan tersebut. Untuk itu secara singkat, saya akan menjelaskan sedikit dasar-dasar dari kaedah umum bahasa arab (Nahwu) yang kiranya dapat membantu dalam mempelajari bahasa arab.

Dalam bebicara dan menyampaikan maksud kepada orang lain, tidak akan terlepas dari untaian kata-kata yang terangkai dalam suatu kalimat, dalam bahasa arabnya disebut dengan الكلام yaitu kalimat sempurna, terdiri dari dua kata atau lebih, baik terdiri dari dua isim (kata benda), misalnya الاتحاد قوة (Persatuan adalah power), atau terdiri dari Fiíl (kata kerja) dan Isim (kata benda), misalnya عاد المسافر (telah kembali para musafir), atau terdiri dari Fiíl amr misalnya, استَقِمْ dan faílnya Dhamir tersembunyi (mustatir). Kesemuanya itu menunjukkan bahwa kalimat tesusun dari beberapa kata dan mempunyai arti yang sempurna.

Kata الكلمة secara bahasa berasal dari kata كلم yang berarti melukai dengan anggota tubuh جرح kemudian arti tersebut lebih dikhususkan pada Lafadz yang diletakkan terhadap arti tertentu. Kadang kata الكلمة yang digunakan namun makna yang dimaksudkan adalah Kalimat, misalnya dalam Al Quran: (كلا إنَّها كلمة هو قائلها)Lafadz اللفظ mencakup الكلمة dan الكلام yaitu suara yang terdiri dari beberapa huruf, sedangkan القول yaitu apa-apa yang diucapkan baik itu sempurna maupun tidak sempurna.

Macam-macam kata

Setiap kalimat tersusun dari beberapa kata yang mempunyai arti yang mana dapat menunjukkan akan kedudakan dari kata tersebut di dalam kalimat, misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah SPO (subjek, predikat dan objek), begitu pun halnya dalam bahasa Arab. Sebelum mengetahui kedudukan kata, terlebih dahulu kita mengenal macam-macam kata dan pembagiannya dalam bahasa Arab guna membantu dalam memahami dan mengetahui kedudakannya di dalam sebuah kalimat. Kata di dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga, yaitu:

Isim الاسم (Kata benda)

Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia ناس atau رَجُل adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan manusia atau laki-laki, dan Ahmad أحْمد adalah nama untuk individu yang dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka Isim adalah nominal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna tersendiri dan tidak terikat dengan waktu.

Bagaimana kita bisa mengetahui suatu kata dalam bahasa Arab itu adalah Isim? Sedangkan kita selagi pertama kali belajar Nahwu tidak mengetahui makna kata tersebut dan tidak juga mengetahui apakah suatu kata mengandung makna yang terikat dengan waktu atau tidak. Caranya adalah dengan mengetahui tanda-tanda Isim pada suatu kata yang membedakannya dari dua jenis kata lainnya. Setiap kata yang mengandung atau bisa menerima salah satu dari tanda-tanda tersebut, maka kata tersebut adalah Isim.

Tanda-Tanda Isim

Ada beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim tersebut adalah:

A. Tanda dari segi artinya

Untuk mengetahui apakah kata tersebut termasuk isim, dapat dilihat dari maknanya, atau kata tersebut bisa disandarkan kepada kata yang lain baik dia itu subjek (fail) atau pemulaan kalimat (mubtada). Contohnya عاد المسافرون isim di dini bersandar pada fiíl (kata kerja) yang menunjukkan ia adalah fail, contoh mubtadaمسافر خالد.

B. Tanda dari segi Lafadznya

   1. Tanwin التنوين yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang ditandai dengan harakat double ــًـ ــٍـ ــٌـ. Contohnya, خالدٌ atau زيدٍ,dan قانتاتٍ. Maka kata-kata dalam semua contoh ini adalah Isim karena boleh dimasuki oleh tanwin. Tanwin secara garis besarnya terbagi menjadi, Pertama: Tanwin tamkin تمكين yaitu tanwin yang diikutkan kepada isim mu’rab, contoh محمدٌ. Kedua: Tanwin Tankir تنكير yang mengikuti isim ma’rifah (yang pasti) menjadikannya nakirah (belum pasti) contoh, سيبويهِ (nama ahli nahwu). Ketiga: Tanwin Muqabalah المقابلة yang diikutkan kepada Jamak muannas salim (jamak untuk perempuan) contohnya, قانتاتٍ disamakan dengan Nun yang ada pada Jamak Muzakkar Salim (jamak untuk laki-laki) قانتون. Keempat: Tanwin Ta’wid العِوَض (pengganti) yang diikutkan pada sebagian kata sebagai pengganti terhadap apa yang dihapus dan dihilangkan, baik sebagai pengganti dari huruf yang dihilangkan, contohnya راعٍ جاء kata rain ditanwinkan sebagai pengganti huruf YA yang dihilangkan, aslinya adalah راعي. Ataukah pengganti dari kata yang dihapus, misalnya kata-kata yang terletak setelak Kullu dan Ba’dhu yang terhapus kata yang disandarkan padanya كلٍّ منهم asalnya adalah كل واحد منهم. Ataupun sebagai pengganti dari kalimat yang dihilangkan, contoh زرتني قبل سنتين وكنت حينئذٍ أعمل في الجامعة (dua tahun lalu, engkau menziarahiku dan pada saat itu saya bekerja universitas), kata Hinaizin ditanwinkan karena menggantin kalimat yang hilang, asalnya adalah حينئذ زرتني.

   1. Dapat dimasuki dan dihubungkan dengan Alif dan Lam, ألـ pada awal kata. Setiap kata yang didahului oleh AL atau boleh menerima AL, maka kata tersebut adalah Isim. Contohnya, الكاتب = seorang penulis, المؤمن = orang mukmin, المسافر = orang yang bepergian. Semua kata ini adalah Isim ditandai dengan adanya AL di awal kata.

   1. Dapat dimasuki oleh Jarr الجر. Baik jarr disebabkan oleh adanya huruf jarr maupun karena Idhafah. Contohnya, الحراس على السطحِ , kata Sathi dibaca kasrah karena dimasuki oleh huruf jar yaitu Ála. Contoh Idhafah كتاب الطالبِ kata At Thalibi dibaca kasrah (jarr) karena bersandar kepada buku. Huruf-huruf Jarr adalah مِن = dari (permulaan), إلي = ke, kepada, عَن = dari (lepas, meninggalkan), علي = atas, في = di, di dalam, رُبَّ = barangkali, kadang-kadang [;sedikit atau banyak], الباء = dengan, الكاف = seperti [penyerupaan], اللام = untuk. Dan termasuk juga huruf-huruf sumpah حروف القسم, yaitu; الواو hanya untuk Isim Zhahir,[2] الباء untuk Isim Zhahir dan Dhamir, dan التاء khusus dengan kata الله. Contohnya; واللهِ, بِاللهِِ, تَاللهِ, semuanya bermakna Demi Allah.

   1. Boleh dimasuki oleh Harf Nida (panggilan) contoh, يا زيدُ (Hai Zaid) dimasuki oleh Ya harf nida, contoh lain, يا عبدَاللهِ.

   1. Kata tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi bentuk Tashgir التصغير (mengecilkan) contoh, جبل (gunung) menjadi جبيل(gunung kecil), contoh lain, عصفور menjadi عُصَيْفِير.

   1. Kata tersebut dapat dijadikan Musanna (yang menunjukan atas dua) dan jamak. Contoh, طالبان، طلاب، طالبون، طالبات

Tanda-tanda Fi’il الفِعل

Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

Contohnya كَتَبَ adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang telah lalu, يَكْتُبُ adalah kata yang memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan أكتُبْ juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang akan datang. Demikian juga contoh-contoh lain seperti نَصَرَ ينصُر انصُر = menolong, عَلِم يعلَم اعْلَمْ = mengetahui, جلَس يجلِس اجلِسْ = duduk, ضرَب يضرِب اضرِبْ = memukul, فهِم يفهَم افهَم = mengerti, memahami.

Perubahan bentuk dari setiap kata-kata dalam Bahasa Arab merupakan pembahasan Ilmu Sharaf atau dalam istilah yang lebih luas; Morphologi. Sedangkan dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.

Demikian juga, pembagian fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang, dan kata kerja perintah. Dengan demikian, jenis-jenis Fi’il adalah:

   1. Fi’il Madhi الفعل الماضي yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Contoh, خطب , سمِع , انْطَلَقَ , اسْتَعملَ .Tanda-tandanya dari segi arti yaitu menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Adapun tanda-tandanya secara Lafdzi yaitu: Pertama: dapat dimasuki oleh Lam لـ . Kedua: Dapat dimasuki oleh Ta Al Faíl, contoh سافرتُ سافرتَ سافرتِ . Ketiga: dapat dimasuki oleh Ta ta’nis sakinah, contoh, استمعتْ سافرتْ جلستْ عادتْ. Hukum fiíl Madhi dalm I’rab adalah Mabni (tidak berubah harakah akhir hurufnya).
   2. Fi’il Mudhari’ الفعل المضارع yaitu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang) atau sesudahnya (akan datang). Misalnya يَصلُحُ . Dinamakan Mudhari’karena menyerupai isim. Tanda-tanda Mudhari’adalah dapat dimasuki oleh sin السين dan saufa سوف . Juga dapat dimasuki oleh huruf jazm dan Nashb لم, لا الناهية, لام الأمر , إنْ , أَنْ, لَنْ. Dan kadang bentuknya Mudhari’namun berarti Madhi, apabila dimasuki oleh Lam, misalnya, لم يحضر (belum/tidak datang). Hukum I’rab fiíl Mudhari’ adalah Mu’rab (berubah harakah ahir hurufnya) selama tidak dimasuki oleh Nun Taukid نون التوكيد dan Nun Niswah نون النسوة.
   3. Fi’il Amar فعل الأمر yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang ayah atau kawan dan lain-lain memerintahkan kepada seseorang untuk belajar, dia mengatakan = تعلَّمْ Belajarlah, atau اقرأ bacalah, atau انْطَلِقْ pergilah. Atau اسْتَغْفِر bertobatlah. Tanda-tanda fiíl amar adalah dapat dimasuki oleh Nun Taukid نُونَ التَّوكيد adalah huruf Nun pada akhir kata yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun Taukid Khafifah berbaris sukun ـنْ, sedangkan Nun Taukid Tsaqilah bertasydid dan berharakat fathahـنَّ . atau Ya Al Mukhatabah ياء المخاطبة adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan ditujukan kepada perempuan. Contohnya, قُوْمي = (Kamu perempuan), Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki قُمْ, dan اُكْتُبي = (Kamu perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk laki-laki اكتب. Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan. Hukum fiíl amar dalam I’rab adalah Mabni.

Dari semua penjelasan di atas tadi, dapat disimpulkan Tanda-tanda Fi’il yang paling utama, baik Fiíl Madhi, Mudhari’dan Amar secara umum ketika berada dalam struktur kalimat adalah:

   1. Kata tersebut didahului oleh قد .
   2. Tanda Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf Sin السينُ atau Huruf Saufa سوفَ.
   3. Tanda Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah تاءُ التَّأنيث السَّاكنَة yaitu huruf Ta sukun yang masuk pada akhir kata. Tanda ini hanya untuk Fi’il Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang terpaut dengan Predikat ini berbentuk feminin (muannas).
   4. Tanda Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah ياء المخاطبة atau Nun Taukid نُونَ التَّوكيد.

Huruf الحرف

Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il

Tanda Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kalau kita mengenal Jim dengan titik di bawah dan Kha dengan titik di atas, kita mengenal Ha tanpa titik. Demikian juga, kita mengenal jenis kata Isim dan Fi’il dengan tanda-tanda yang telah disebutkan di atas, maka kita mengenal jenis kata Huruf tanpa tanda dan tidak menerima tanda-tanda Isim atau Fi’il.

Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya, sesuai dengan fungsi maknanya, dan terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Huruf yang dapat masuk ke Isim maupun Fiíl, dan huruf tersebut tidak mempunyai kedudukan apa apa dalam I’rab. Contoh, kata Hal هَلْ dalam وَهَلْ أَتَاكَ حديث الغاشية.

2. Huruf yang dikhususkan pada isim, dan huruf tersebut mempunyai fungsi serta kedudukannya dalam I’rab. Contoh, huruf Inna إنّ dan Fi في, dalam Al Quran : إنّ الله يحب الذين يقاتلون في سبيله.

3. Huruf yang dikhususkan tehadap Fiíl dimana huruf-huruf tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi dalam I’rab. Contoh, huruf Nashab dan Jazam.

I’RAB الإعراب dan BINA البناء

I. Al BINA البناء

Bina adalah suatu keharusan dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata tidak akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata, atau simpelnya, Bina adalah kata yang tidak berubah harakah akhir hurufnya. Contohnya, kata aina أينَ (dimana) dan amsi أمْسِ (kemarin), dimana baris (harakah) akhirnya tidak akan pernah berubah.

Macam-macam Bina البناء

Tanda-tanda bina suatu kata dalam I’rab terbagi menjadi empat, yaitu:

   1. Sukun السُّكونُ yaitu tidak adanya harakah, yang mana terdapat pada huruf, fiíl serta isim, contoh mabni dengan sukun dari huruf هلْ , dan dari fiíl, قمْ , dan dari isim, كمْ .
   2. Fatha الفَتْحُ , berbaris atas dengan fatha, hal ini pun terdapat pada Isim, contohnya أينَ , dan Huruf, contohnya سوفَ , juga pada Fi’il, contohnya, قامَ .
   3. Kasrah الكَسْرُ berbaris bawah dengan kasrah, terdapat pada Isim, contohnya أمْسِ dan huruf, contohnya huruf Lam Al Jarr لامِ الجر misalnya dalam kalimat المالُ لِزَيْدٍ .
   4. Dhamma الضَّمُّ berbaris atas dengan Dhamma, terdapat pada huruf, contohnya منْذُ dan isim yang menunjukkan arah misalnya تحتُ dengan syarat harus Idhafah secara makna tanpa Lafadz.

Bentuk-bentuk Mabni

Setelah mengetahui macam-macam tanda bina, seyogyanyalah untuk mengetahui apa-apa saja dari Isim, Fi’il dan Huruf yang Mabni agar tidak salah dalam menempatkan letak serta hukumnya dalam suatu kalimat.

A.Huruf الحُرُوفُ

Semua huruf adalah Mabni, baik dengan Fatha seperti وَ، كَ، ف، ثمَّ ,maupun Sukun, seperti منْ، في، إلى، هلْ , dan Kasrah seperti لِـ (لتكتبْ درسك، جئت لأشكرَك)، بِـ (كتبت بالقلم) , dan juga Dhamma sperti منذُ.

B. Af’al الأفعال

Semua Fi’il adalah Mabni kecuali Fi’il Mudhari’ yang tidak dimasuki oleh salah satu dari Nun Niswah نون النسوة maupun Nun Taukid نُونَ التَّوكيد .

Bentuk-bentuk Bina Fi’il Madhi

Fatha: Jika tidak berhubungan dengan kata apa pun, contohnya سمعَ , تكلمَ atau Fi’il tersebut bergandengan dengan Ta Ta’nis تاء التأنيث contohnya فهمَتْ , جلستْ atau Fi’il tersebut berhubungan dengan Al Alif Al Itsnain ألف الاثنين yang menunjukan dua orang, contohnya ذهبا، قاما، سعيا. Sukun: Apabila fi’il tersebut bergandengan dengan Dhamir yang kedudukannya adalah marfu’ sebagai subjek misalnya Ta mutakallim dan sebagainya, atau fi’il tersebut bergandengan dengan Nun Niswah, contohnya سمعْتُ، سمعْنا، سمعْتَ، سمعْتِ , سمعْتما، سمعْتُنّ، سمعْنَ. سعيْت، سعيْنا, سعيْتما، سعيْتُنَ. Dhamma: Apabila Fi’il tersebut berhubungan dan bergandengan dengan Wau Al Jama’ah (yang menunjukkan jamak muzakkar salim=laki-laki), contohnya سمعُوا، فهمُوا.

Bentuk-bentuk Bina Fi’il Mudhari’

Fi’il Mudhari’ Mabni apabila dimasuki oleh salah satu dari Nun Taukid dan Nun Niswah, dan tanda bina nya adalah, Sukun: Apabila berhubungan dengan Nun Niswah, contohnya يسمعْنَ، يقرأْنَ، يمشيْنَ، يدعوْنَ . Fatha: Apabila berhubungan langsung dengan Nun Taukid yang disandarkan kepada Mufrad Muzakkar, contohnya, لِتسمعَنْ، لتدعوَنّ.

Bentuk-bentuk Bina Fi’il Amar

Adapun Bina nya Fiíl Amar yaitu, Sukun: Apabila huruf terakhirnya bukan huruf Illat (Alif, Wau dan Ya) dan tidak berhubungan dengan kata apa pun, contoh افهمْ، اسمعْ , atau berhubungan dengan Nun Niswah, contoh أطعْنَ، ادنوْنَ، اسعيْنَ. Fatha: Apabila berhubungan dengan Nun Taukid, contohnya افهمَنْ، اسمعَنّ، ادعوَنْ وادعوَنّ. Khazfu Nun (dihilangkan huruf Nunnya): Apabila berhubungan dengan Alif Itsnain yang menunjukkan Mutsanna, atau Wau Jamaáh yang menunjukkan Jamak Muzakkar Salim atau Ya Al Mukhathabah, contohnya, ارعيا، اقنعوا، اقنعي. Khazfu harfu illah (meniadakan huruf Illatnya): Apabila huruf akhir dari fiíl adalah huruf illah, contohnya, ارعَ، ادعُ، امشِ.

C. Al Asma الأسماءُ

   1. Dhamair الضَّمائِرُ (Pronauns) atau kata ganti baik orang pertama tunggal dan sebagainya yang terbagi menjadi Munfashil (terpisah) yang terbagi menjadi Rafa’dan nasab (kedudukannya dalam I’rab) contoh Rafa’ أنا، نحن، أنتَ، أنتما، أنتم، أنتِ، أنتما، أنتنَّ , هوَ، هما، همْ، , هيَ, هما، هنَّ Contoh Nashab : إيّاي، إيانا، إيّاكَ، إياكما، إياكم، إِياكِ، إياكما، إياكنّ، .dan Muttashil (berhubungan) juga terbagi menjadi Rafa’, Nashab, dan Jarr .Contoh Rafa’(تاء), (نا) قرأتُ, قرأنا. Contoh Nashab, ياء orang yang berbicara, سمعني. كاف (lawan berbicara) misalnya حدثك. Atau هاء (terhadap orang ketiga tunggal) misalnya, أعطيته. Contoh Jarr, Ya (ياء) (orang yg berbicara) misalnya كتبي , Ha هاء (orang ketiga tunggal) misalnya بيتهُ. Kaf كاف (lawan berbicara) misalnya كتابك.
   2. Kata Sambung أسْماءُ المَوْصُولِ seperti الذي (berarti yang untuk sesuatu atau seorang yang menunjukkan Muzakkar = laki-laki), التي (untuk Muannats atau perempuan), الذينَ (jamak Muzakkar) اللاتي، اللاتِ، اللواتي (jamak muannas).
   3. Kata Tanya الاسْتِفْهَامِ , seperti Man=siapa مَنْ (untuk yang berakal), Ma=apa ما (yang tidak berakal) mata=kapan متى (untuk waktu) Aina=di mana أينَ (untuk tempat).
   4. Isim yang menunjukkan pada bunyi-bunyian dan suara, seperti suara bayi dan juga suara binatang, contoh إسَّ وهِسَّ، وهجْ (suara kambing/mengembik), هلا (suara kuda), كِخْ (suara tangisan bayi). Dan sebagainya.
   5. Isim (kata benda) yang mengandung arti fi/íl (kata kerja), contohnya, صهْ، مهْ (cukup!), حيَّ (terimalah), أفٍّ (makian), ويْ (makian), هيهاتَ (jauh). Dan lain-lain yang mengandung makna fiíl.
   6. Sebagian dari keterangan waktu dan tempat, contoh إذْ، إذا، الآنَ، حَيْثُ، أمْسِ.
   7. Isim yang menunjukkan syarat أسْماءُ الشَّرْط , contoh مَنْ, مهما, متى, حيثما, كيفما, أيْ, أيّانَ.

II. AL I’RAB الإعراب

I,rab adalah kebalikan dan lawan dari Bina, dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata dalam kalimat. Yang mana tanda-tanda I’rab itu terbagi menjadi dua, ada tanda yang asli dan farí (bukan asli).

Tanda Asli dari I’rab adalah Dhamma الضمةُ untuk Rafa’, Fatha الفتحةُ untuk Nashab, Kasrah الكسرة untuk Jarr, dan Sukun السكون untuk Jazam. Tanda-tanda ini ada yang dikhususkan untuk Isim dan Fiíl saja yaitu Rafa’dan Nashab, contohnya dalam kalimat المؤمنُ يتقنُ عمله Rafa’ (dibaca dhamma pada ahir harakatnya) kata Mu’min dan yutqinu dengan Dhamma, contoh lain dari yang Nashab, إنّ القطارَ لن يغادرَ قبل المساء Nashab Isim Qitara karena dimasuki Inna (huruf Nashab isim dan rafa’khabarnya) dan Fiíl Yughadir dengan Fatha karena dimasuki oleh haruf nashab yaitu Lan. Dan dari tanda-tanda I’rab tersebut ada juga yang dikhususkan terhadap isim yaitu Jarr, contohnya في مسجدِ المدينةِ عالم Kata masjidi dibaca kasrah karena di dahului huruf Jarr dan kata Madinah di baca kasrah karena Idhafaf. Adapun tanda Jazam dikhususkannya kepada Fiíl, contohny لم يفزْ بالنجاح كسول kata yafuz di sukunkan karena dimasuki oleh huruf jazam.

Tanda-tanda Farí dari I’rab yaitu suatu harakat mengganti kedudukan harakat lainnya seperti kasrah mengganti fatha pada Jamak Muzakkar Salim dan fatha menggantikan kasrah pada Mamnu’min As sharf. Atau kedudukan harakah digantikan oleh huruf, misalnya Wau menggantikan dhamma pada jamak muzakkar salim. Dan kesemuanya itu dapat diperincikan secara garis besarnya (baik harakah yang menggantikan posisi harakah lainnya maupun huruf yang menggantikan kedudukan dari harakah) di bawah ini:

A. Harakah yang menggantikan kedudukan harakah lainnya

   1. Jamak Muannas Salaim (perempuan) جمع المؤنث السالم yaitu yang menunjukkan lebih dari dua (muannats) dengan menambahkan Alif ألف dan Ta تاء pada akhir katanya. Untuk menjadikan suatu isim mufrad menjadi jamak muannats salim, maka isim tersebut Pertama: haruslah menunjukkan kepada nama-nama perempuan, mislanya jamak dari Zainab الزينبا, jamak dari Hindun الهندات , jamak dari Maryam المريمات. Kedua: Isim yang diakhiri dengan tanda-tanda Ta’nits (feminis) baik Ta , Alif Maqsur dan Mamdud , contohnya فاطمة jamaknya adalah الفاطمات, حمزة jamaknya adalah الحمزات , سماء jamaknya سماوات , كبرى jamaknya كبريات . Ketiga: Isim dalam bentuk Tashgir, contohnya kata Dirham yang telah di Tashgir menjadi Duraihim maka jamaknya adalah دُريهمات . Keempat: Isim yang terdiri dari lima huruf yang belum pernah didengar Jamak Taksirnya (tidak beraturan), misalnya kata إسطبل (kandang kuda) jamaknya إسطبلات, dan kata حمّام (Wc) jamaknya adalah حمامات . Jamak Muannats Salim ini, apabila kedudukannya Manshub dalam kalimat maka alamat I’rabnya adalah kasrah menggantikan fatha.
   2. Mamnu’Min As Sharf الممنوع من الصرف Isim yang tidak diikutkan dengan Tanwin atau kasrah, olehnya itu apabila ia Majrur karena dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka I’rabnya adalah Majrur dengan Fatha pengganti kasrah. Adapun yang termasuk dalam Mamnu’Min As Sharf ini adalah, Pertama: nama-nama Ajami seperti إسماعيل، إبراهيم، إسحاق , Kedua: Nama-nama ajam yang terdiri dari dua kata, misalnya حضرموت، بعلبك, Ketiga: Isim yang ditambahkan Alif dan Nun pada akhirnya, misalnya رضوان، سلمان, Keempat: Isim yang timbangannya menyerupai timbangan Fiíl, contohnya أحمد، يزيد، يشكر, Kelima: Atu dalam timbangan Fu’al seperti, عُمَر، زُحَل، هُبل، عُصَم, Keenam: Isim yang bertimbangan Fa’laan فَعْلان misalnya غضبان، عطشان ,Ketujuh: Isim yang bertimbangan Afála أفعل misalnya أحمر، أصغر ,Kedelapan: Isim yang di akhir katanya adalah Alif Mamdudah atau Maqshurah, contohnya حسناء، أصدقاء، أطباء، حبلى، مصطفى ,Kesembilan: Bentuk Muntaha Jumuk, misalnya مساجد، عمائر، دوائر، قناديل. Kata-kata yang termasuk Mamnu’ Min As Sharf ini apabila dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka hukumnya majrur dengan Fatha pengganti kasrah, namun apabila ia dimasuki oleh AL atau ia Idhafah (bersandar pada kalimat lain) maka hukumnya tetap majrur dengan Kasrah, contohnya: في المساجدِ قناديل, karena kata masajid dimasuki oleh AL.

B. Harakah digantikan oleh Huruf

   1. Mutsanna المثنى yaitu yang menunjukkan kepada dua (bernyawa atau tidak bernyawa), antara tunggal dan jamak. Yang ditambahkan Alif ألف dan Nun نون pada akhir katanya untuk menunjukkan hukumnya sebagai Marfu’, contohnya رجلان , dan menambahkan Ya ياء dan Nun نون pada akhir katanya yang menunjukkan Jarr atau Nashab, contohnya رجلين. Adapun untuk mengetahui bentuk-bentuknya adalah pembahasan dalam Ilmu Sharf.
   2. Jamak Muzakkar Salim جمع المذكر السالم yang menunjukkan tiga atau lebih dengan menambahkan Wau واو dan Nun نون pada kondisi Marfu’ contohnya مسلمون , dan menambahkan Ya ياء dan Nun نون pada kondisi Majrur dan Manshub, contohnya مسلمين.
   3. Asma Sittah الأسماء الستة yaitu أب (bapak), أخ (saudara lk), حم (panan), ذو (yg mempunyai), فو (mulut), هن (sesuatu). Tanda Marfu’nya dengan Wau الواو contohnya حضر أبو علي , Manshub dengan Alif الألف, contoh ورأيتُ أبا علي , dan Majrur dengan Ya الياء contohnya مررتُ بأبي علي. Syarat-syaratnya adalah haruslah tunggal (mufrad) tidak boleh mutsanna (dua) dan Jamak. Syarat lainnya adalah harus Idhafah, contohnya حضر أبوه. Dan tidak boleh jika bentuknya tashgir, contohnya أّخيُّه صغير.

C. I’rabnya dengan menghapus atau menghilangkan hurufnya

   1. Al Af’al Al Khmasa الأفعال الخمسة yaitu setiap Fi’il yang berhubungan dengan Alif Itsnain (mutsanna), atau Ya Al Mukhatabah, atau Wau Jama’ah. Dinamakan Af’al Khamsa karena bentuknya ada lima yaitu, تفعلان، يفعلان، تفعلين, يفعلون، تفعلون. Hukum I’rab Fi’il yang lima ini adalah menghilangkan huruf Nun nya apabila Ia Mnshub atau Majzum, contohnya هذه الدار يريد التاجران أن يشتريا dihilangkan Nun pada kata Yasytariyani karena manshub dengan huruf nashb. Atau majzum karena dimasuki oleh huruf jazm seperti contoh di bawah ini لا تشتريا هذه الأرض.
   2. Mudhari’ Mu’tal Akhir, yaitu fi’il mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf Illat (alif, wau dan ya). Apabila ia berada pada posisi Majzum maka hukumnya adalah majzum dengan menghapus huruf illatnya, contohnya يدعو dan يخشى apabila dimasuki oleh huruf jazm لم يدعُ أحدا dihilangkan huruf wau nya خالد لم يخشَ أعداءه. Dihilangkan huruf ya nya.

Macam-macam I’rab

I’rab terbagi menjadi tiga macam, yaitu I’rab Dhahir (nampak) إعراب ظاهر, I’rab Muqaddar (tersembunyi) إعراب مقدر dan I’rab Mahalli إعراب محلي (berdasarkan tempat dan kedudukan dalam kalimat).

I’rab Dhahir إعراب ظاهر adalah nampak dan terlihatnya tanda-tanda I’rab seperti kasrah, dhamma dan fatha pada akhir suatu kata, contohnya في المساجدِ dimana terlihat dengan jelas kasrah pada kata masajidi. I’rab Muqaddar yaitu tidak nampaknya tanda-tanda I’rab dengan jelas pada akhir kata disebabkan oleh beratnya lidah untuk menyebutkannya atau terdapat uzur dalam penyebutan atau karena maksud menempatkannya pada suatu posisi dengan harakat yang sesuai ataupun karena dimasuki oleh huruf jarr tambahan (zaid). Dan semua itu terdapat pada:

   1.
         1. Isim Manquush الاسم المنقوص yaitu isim yang diakhiri dengan huruf Ya dan huruf sebelumnya kasrah, contoh القاضي muqaddar atas dhamma dan kasrah karena berat penyebutannya.
         2. Isim Maqshur الاسم المقصور yaitu isim yang diakhiri dengan Alif dan huruf sebelumnya adalah fatha, contohnya الفتَى dalam kalimat حضر الفتى atau ومررتُ بفتىً I’rabnya adalah dengan menyembunyikan semua harakatnya karena ada uzur.
         3. Isim yang disandarkan kepadanya Ya Mutakallim, contohnya كتابي semua harakatnya disembunyikan karena kedudukannya dengan harakat yang sesuai.
         4. Isim yang dijarr dengan huruf jarr tambahan, contohnya ما حضر من أحدٍ.
         5. Fi’il Mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf illat, baik huruf akhirnya adalah Ya dan sebelumnya kasrah misalnya يمشي، يبني , ataukah huruf akhirnya adalah Wau sebelumnya dhamma, contohnya يدعو، يغزو, maupun huruf akhirnya Alif dan fatha sebelumnya, misalnya يرعى، يخشى, maka tanda I’rabnya adalah muqaddar karena ada uzur yang menghalangnya.

I’rab Mahalli إعراب محلي yang berdasarkan tempat dan kedudukan suatu isim dalam kalimat, dan kebanyakan terdapat pada semua isim yang mabni, contoh dari kata penunjuk هذا كريم , contoh dari kata penghubung أكرمت الذي نجح.

Nakirah (النكرة) dan Ma’rifat (المعرفة)

Nakirah (النكرة) adalah yang tidak dimaksudkan kepada sesuatu yang tertentu atau dengan kata lain nakirah adalah sesuatu yang belum tentu dan pasti, contohnya kata manusia (إنسان) dan laki-laki (رجل) apabila kedua kata tersebut belum jelas ketentuannya, manusia yang manakah atau lelaki yang mana. Sedangkan Ma’rifat (المعرفة) adalah susatu yang pasti dan dimaksudkan kepada susuatu yang tertentu, yang terbagi menjadi tujuh bagian yaitu Dhamir, álam, kata penunjuk, kata penghubung, kata yang ber alif lam (أل), bersandar pada ma’rifah , munada (panggilan=dimasuki oleh huruf nida).

Dhamir (ضمائر) adalah kata yang menunjukkan kepada mutakallim (orang pertama tunggal) atau mukhatab (lawan berbicara) dan ghaib (orang ketiga). Yang terbagi menjadi dhamir Munfashil (terpisah) yaitu dhamir yang boleh dimulai dengannya pada awal kalimat atau terletak setalh Illa (kecuali). Dan dhamir muttashil (bersambung) yaitu dhamir yang bersambungan dengan kata lain, contoh dhamir munfashil, saya (أنا), kamu laki-laki (أنتَ), kami/kita (نحن), dia laki-laki (هو), dia perempuan (هي), mereka (هم) kesemuanya adalah dhamir muttashil yang menempati kedudukan rafa’/marfu’dalam kalimat, adapaun yang menempati nashab yaitu saya (إيّاي), kamu (إيّاكَ), mereka (إياهم) dst. Contoh dhamir muttashil, Ta yang menunjukkan saya (تاء= قرأتُ), Na menunjukkan kita (=قرأنا نا) dan seterusnya.

Al ‘alam (العلم) adalah kata yang menunjukkan sesuatu pada zatnya yang meliputi Kunyah (gelar) yaitu kata yang dimulai dengan ibn, abu atau umm, contohnya (أبو بكر), (ابن الوردي), (أم المؤمنين). Laqab (gelar) yang menunjukkan kebaikan atau memuji dan keburukan atau penghinaan, contohnya (الفاروق =yang dapat membdakan baik dan buruk) dan (الأعشى =yang cacat matanya). Ataupun nama-nama orang selain kuniyah dan laqab, baik yang tunggal maupun yang tersusun dari dua kata, contohnya (أحمد), (هند), (مكة), dan (عبدالله).

Kata penunjuk (اسم الإشارة) yaitu kata yang menunjukkan pada sesuatu yang tertentu baik dekat ataupun jauh, contoh (هذا =ini lk), (هذ ه =ini pr), (ذلك =itu lk) dan (تلك =itu pr).

Kata penyambung (الاسم الموصول) yaitu kata yang menunjukkan pada susuatu yang tertentu yang berhubungan, contohnya (الذي =yang lk) dan (التي =yang pr).

Alif Lam (أل) yaitu isim nakirah yang dimasuki oleh alif dan lam, dan menjadikan sesuatu itu menjadi tertentu (ma’rifat), contohnya kata buku (كتاب) yang belum diketahui buku yang mana maka ditambahkan alif dan lam guna menunjukkan buku tertentu menjadi (الكتاب).

Isim yang disandarkan pada isim ma’rifah yaitu isim nakirah didhafkan (disandarkan) pada isim ma’rifat yang menyebabkan isim tersebut menjadi ma’rifat, contohnya (هذا كتاب عليٍّ =ini bukunya Ali), kata kitab dalam contoh ini adalah nakirah namun karena diidafhkan pada isim ma’rifat yaitu Ali maka kata kitab dengan sendirinya menjadi ma’rifat.

Munada (لمنادى) yaitu memanggil dengan maksud menentukannya sehingga ia menjadi ma’rifat, contohnya (يا بائعُ) dan (يا عبدَاللهِ).


I’rab Fi’il Mudhari’

I’rab Fi’il Mudhari’ ada tiga yaitu Nashab, Jazam dan Rafa’. Dinashabkan Mudhari’ apabila dimasuki oleh salah satu dari huruf Nashab yaitu, An أنْ contohnya وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ , Lan لن, contohnya قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ , Izan إذن contohnya أريد أن أزورك. إذن أُكرمَك , Kay كي, contohnya فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا. Fi’il Mudhari’ juga dinashabkan dengan An yang tersembunyi setelah Lam لِتَغْفِرَ لَهُمْ, atau Hatta حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ, atau Fa sababiah لم تعملْ فتكسبَ, atau Athaf kepada isim sebelumnya.

Fi’il Mudhari’ itu Majzum apabila didahului oleh salah satu dari pada huruf jazam, yaitu Lam لم dan Lamma لمّا,contohnya لم يسافرْ زيد، لما يعُدْ عليٌّ. Lam لام الأمر yang menunjukan perintah, contoh لتحكمْ بين الناس بالعدلِ. La لا الناهية yang menunjukkan larangan, contohnya لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى. Dan Fi’il Mudhari’ juga majzum apabila di masuki oleh salah satu dari huruh Syarth.

Apabila Fi’il Mudhari’ kosong dari huruf Nashab dan Jazam maka I’rabnya tetaplah Rafa’/ marfu’.

Belajar bahasa arab tidak bisa di pisahkan dari ilmu nahwu sebab tanpa ilmu nahwu..atau grammar arab maka bahasa itu akan amburadul gak beres

النحو او مايسمى علوم لغةالعربية هوشيئ لا بد منه لمن يريد أن يتعلم العربية فلايمكن أن يكون اللغة صحيحا بدونها وهو كا لملح في الطعام فهل تستغنى الملح ؟ طبعا لا وكذلك علم النحو في العربيه..لهذا قا الشيج عبدالرحمن السيوط في كتاب عقودالجمان…من ثم وجه النحو في الكلام # كالملح أذ يكون في الطعام .وقال الأخرون ..النحو زين للفتى يكرمه حيث أتى#من لم يكن يعرفه فحقه أن يسكت

Di bawah ini vandi ingin menerangkan sebagian qowai’d ilmu nahwu

Pertama :kalimat:ada 3,Isim,fiil,harfالأسم,والفعل,والحرف

(1) Isim definisinya adalah..وهوكلة دالت على معنى في نفسها ولم تقترن بزمان وضعاsuatu kalimat yang menunjukan dirinya sendiri tanpa di iringi waktu  contoh زيد zaidun..menuduhkan kepada yang bernama zaid tidak terikat waktu/kapanpun itu dia zaid

(2) Fiil definisinya adalahوهوكلمة دالت على معنى في نفسها وأقترنت بزمان وضعاsuatu kalimat yang menunjukan diri sendiri dan diiringi waktu contoh فعلsudah mengerjakan..waktu lampau..يفعلsedang mengerjakan (waktu sekarang) atau akan mengerjakan (waktu akan datang) atau mustaqbal

(3) Harf definisinya  adalahوهوكلمة دالت على معنى في غيرهاsesuatu yang menujukan pada kalimat lain nya bisa ikut isim contoh في المسجدfilmasjidi..fi…itu haraf…menuduhkan/nempel di kalimat isim ya itu al masjidi juga bisa ikut fiil contoh لم ينصر artinya laki-laki tidak menolong…kata..lam..itu harf..kata yansur itu fiil mudore..

(BAB ISIM باب الأسم )

Dalam bab ini akan menjelaskan apa yang berkaitan dengan isim الأسمdefinisi isim telah di ketahui di atas tadi sekarang apa tanda-tanda nya isim itu ? isim bisa di ketahui dengan

(1) خفض/كسرةkasrah..contoh في المسجد filmasjidi..di masjid..nah kalou ada yang kasrah itu pasti kalimat isim

(2) التنوين tanwin L baris dobel..contoh..بزيد bizaedin..kepada zaed ..nah kalau ada tanwin itu pasti kalimat isim

(3) الألف والام..alif lam..ال contoh..المدرسة..al madrasatu..sekolah..kalau kalimat ada alif lam nya itu kalimat isim

(4)  حروف الجرّ huruf jar..ya itu huruf yang suka merubah baris yang di ikutinya menjadi kasroh..contoh..في البيت filbaeti..fi+albaeti..asal nya albaetu..terus ada fi jadi filbaeti..di rumah ..contoh lagi..على السيارة ala sayaroti..ala+sayaroti…asal nya assayarotu ..di tambah ala jadi ala sayaroti..di atas mobil.harkat akhir di ubah menjadi kasrah ..kalo ada huruf jar itu kalimah pasti kalimat isim..sedangkan huruf jar itu adalah ..من min..dari..الى ilaa..ke/arah/tujuan..عن a’n..dari/jauh dari..علىalaa..di atas/kepada..في fi..di dalam/di atas/di..ربّ rubba..terkadang/banyak/agak banyak.

(5)  حروف قسمم huruf untuk bersumpah..jumlah nya ada tiga ب ba contoh بالله billahi..demi allah..و wawu contoh والله wallahi demi allah..ت ta..contoh تا لله tallahi demi allah..nah kalau kalimat di masukin semua huruf yang diatas ini itu pasti kalimat isim

فالأسم يعرف بالخفض والتنوين والدخول الف والام وحروف الجرّ وهي من ,الى,عن,على,في,ربّ,وحروف القسم وهي الباء والواو والتاء

(BAB FIIL باب الفعل)

Definisi fiil الفعل sudah di ketahui di atas sekarang apa tanda-tanda fiil ? fiil bisa diketahui dengan

(1) ..قد..qod..telah..contoh قد قام qod qoma..telah berdiri..qod+qoma asal nya qoma..berdiri ditambah qod kalau kalimat ada qod didepanya itu kalimat fiil..

(2)س..sin.akan waktu dekat.contoh سأذهب saadzhabu..akan pergi ..ini namanya sin tanfis..kalau ada kalimat semacam ini pasti kaliamat fiil

(3) سوف saufa..akan waktu jauh..contoh سوف أذهب saufa adzhabu..akan pergi waktunya nanti masih jauh..(4) تاء تأنيث الساكنة ta tanis/perempuan..dan ta itu sukun/mati tak ber harkat..contoh اتت,جائت atat,jaat..datang seorang wanita..kalau ada kalimat seperti ini ada ta tanis sakinah itu pasti kalimat fiil..والفعل يعرف بقد والسين والسوف والتاء تأنيث الساكنة>>clear enough ?

(BAB HARF باب الحرف)

Definisi harf sudah di atas di sini tinggal mengeahui tanda-tanda harf..harf aga mudah di ketahui dengan mengetahui hurufnya sedikit..satu huruf contoh.ب ba huruf jar,atau dua huruf contoh لو lao..huruf adawat sarat..atau tiga huruf..contoh الى ilaa huruf jar….

(BAB PEMBAGIAN ISIMالباب عن أنواع الأسماء)

Kalimat isim banyak jenis nya di antaranya

1. isim mufrad الأسم المفرد..isim itu nama & mufrad tunggal/satu..definisinya..وهو ماليس مثنا ولا مجموعا ولا ملحقا بهما ولا من الأسماء الخمسة..dia adalah kalimah yang bukan tasniyyah(menujukan dua)dan bukan majmuk(menujukan banyak)dan bukan cabang dari yang dua itu (كلتا+كلا( kita kila..dan bukan isim lima ..isim lima itu adalah..ابوك,اخوك,حموك,فوك,ذو مال..sebenar nya kalau itu isim belum ada syarat adalah..اب,اخوحم,فو.ذو..contoh isim mufrad زيد zaedun.

2. jamak taksir.جمع تكثير.definisi nya وهو ما تغيّر عن بناء مفرده yang berubah dari bentuk mufrad nya contoh..أركان arkanun..artinya sudut banyak…asal mufrad nya ركن ruknun..dan ber ubah menjadi arkanun..ini jamak taksir ..juga jenis isim

3. jamak muanas salimجمع مؤنث سالم definisi nya..وهو ماجمع بألف والتاء مزيدتين yang di jamak kanpakai alif dan ta kedua2 nya tambahan..contoh مسلمات muslimattin..perempuan muslim banyak..asal nya muslim..di tambah alif dan ta di akhiran nya

4. jamak mudzakar salim جمع ذكورالسالم ..definisinya وهوماجمع بواو ونون في حالةالرفع وياء ونون في حالة النسب والجر yang ketika rofa di tambah wawu dan nun dan ya dan nun ketika nasab dan kasrah..contoh ..جاء زيدون..jaa jaeeduna.kami datang jaed banyak.ini rofa..asal nya jaa jaedun..رايت زيدين roaetu jaedina..kami melihat jaed banyak ini sedang nasab..asal nya رايت زيدا roaetu jaedan..مررت بزيدين marortu bi zaedina..ini kasrah..kami melewat kepada zaed banyak..asal nya مررت بزيد marortu bizaedin

5. isim tasniyyah..المثنى definisinya..,وهومادال على أثنيني بزيادة الف ونون في حالة الرفع وياء ونون في حالةالنصب والجر yang menunjukan dua dan di tambah alif dan nun pada waktu rofa dan iyya dan nun pada nasab dan kasrah..contoh جاء زيان jaa zaedani ..datang zaed dua..ini rofa asal nya جاء زيد jaa zaedun..alias isim mufrad..رايت زيدين ro aetu zaedaeni..saya melihat zaed dua ini nasab.asal nya رايت زيدا roaetu zaedan..alias isim mufrad..مررت بزيدين marortu bi zaedaeni..saya melewat ke zaed dua..ini kasrah..asal nya مررت بزيد marortu bi zaedin..alias isim mufrad

6. isim lima الأسماء الخمسة..tidak ada definisi ..yang lima tadi itu di atas .اب,اخوحم,فو,ذو dan ini punya sarat..ya itu harus mufrad/tunggal harus mukabar .besar jangan tasgir perkecili harus idofat.di hubungkan dengan kalimat lain..tpi jangan ke iyya mutakalim..الأسماءالخمسة شروطها..مفردة مكبرة واضافة اضافتها لغير ياء المتكلم

7. isim mu’tal أسم المعتل..definisi nya هو أسم الذي كان آخره الف علي شكل الياء..adalah isim yang akhiran nya alif dalam bentuk iyya..contoh مصطفى Mustafa..مرتقى murtaqi…isim mu’tal di bagi dua.(1)معتل مقصور mu’tal maqsur..yang sebelum hufuf akhiran nya fathah …contoh مصطفى Mustafa..huruf sebelum akhir ..ya’ni ف barisnya fathah  (2)معتل منقوص mu’tal manqus..yang huruf sebelum akhiran nya kasrah..contoh..مرتقى murtaqi..huruf ق qof sebelum akhir kasrah..clear enough ?

CATATAN : isim mufrad:nama satu.زيد.zaedun ..satu orang zaed,,,,jamak taksir..nama bayak dari yang banyak.رجالrizalun..banyak laki-laki …kalau cuma satu .رجل.rojulun…jamak mu’anas salim, perempuan banyak huruf nya tak ada huruf ellat/mati..مسلما ت muslimaatin..kalau perempuan satu ..مسلمة muslimatu..satu perempuan muslim…jamak mudzakar slim..nama lakilaki banyak…زيدون zaeduna…zaed banyak…isim tasniyyah…nama menuduhkan dua…زيدان zaed dua…isim lima…tadi sudah jelas di atas….isim mu’tal nama yang akhiran hurufnya huruf ellat/mati…alif dalam form iyya

(BAB AL  I’RAB  DAN MABNIباب الأعراب والمبني )

i’rab definisi nyaالأعراب هو تغييرأواخرالكلم لأختلاف لعوامل الداخلة عليها لفظا او تقيرا i’rab itu berubah nya akhiran kalimat karena beda beda  yang masuk pada kalimat itu pada pengucapan nya atau beda pada perkiraan nya..contoh..kata زيد bisa zaedun,,bisa zaedan bisa zaedin,,pergantian ini namanya i’rab…dan i’rab /baris.itu .. ada empat..1.fathah..2..rofa’..3..kasrah..4..sukun..الأعراب تنقسم الى أربعة الرفع والفتحة والكسرة والسكون..yang empat kita terapkan ke poko kalimat..isim.dan.fiil..isim الأسم bisa menerima..3 dari i’rab itu..ya itu fathah,rofa’,kasrah, dan isim tidak bisa sukun,jadi bisa zaedan..zaedun..zaedin…sedangkan fiil  الفعل bisa menerima 3 dari i’rab itu..ya itu fathah,rofa’.dan sukun..dan fiil tidak bisa kasrah..conto,نصر nasoro,ينصر yansuru, أنصر unsur..clear enough ?..sekarang kita cerita mabni المبني mabni itu..الذي لم يتغير yang tak bisa ber ubah..bisa fathah ,rofa’,,kasrah,,sukun,,jadi kalau sudah fathah ya fathah selamanya..contoh..بها biha ..ini isim domir..mufrad muanas ..satu perempuan..atau..به bihi..ini satu lakilaki..هم hum..banyak laki…هنbanyak perempuan..كم kam..berapa harf istifham..pegtanyaan…YANG HARUS mabni adalah kalimat harf..itu wajib..mabni.seperti huruf jarr yang telah di ceritakan di atas.ada juga isim  yang mabni..dan isim domir itu wajib mabni tak ber ubah..contoh..هو,هما,هم,هي,هن,أنت, انتما أنتم ,انتن,أنا ,نحن huwa,huma,hum,hiyya,hunna,anta,antuma,antum,antunna,ana,nahnu…FIIL..fiil madi..wajib mabni fathah..Contoh نصر nasoro..fiil amar wajib mabni sukun/mati contoh  انصر unsur..dan nanti fiil akan di ceritakan di bab al af’al باب الأفعال ..clear enough ?… وللأسماء من الأعراب الرفع والنصب والكسرة ولاجزم فيها..وللأفعال من ذلك الرفع والنصب والجزم ولا خفض فيها..زأمالمسمى بالمبني هو ثبوت الكلمة على حالةواحدة..وكل حرف مستحق للبناء مثل حرف الجر وغيره أيضا بعض الأسما يكون مبنيا مثل أسم الضمير ..هو,هما,هم,هي,هن,أنت,أنتما.أنتم,أنتن,أتا.نحن…..والفعل أيضا فالماض مبني على الفتح ..والأمر مبني على الجزم  ……

CATATAN : kata-kata.dommah+rofa’=sama/fathah+nasab=sama/kasrah+hofadz=sama/jazem+sukun=sama…jelaskan ?

(BAB MENGETAHUI TANDA I”RAB باب معرفة علتمة الأعراب)

I’RAB ADA 4 (RAFA) (NASAB) (KHOFADZ) (JAZEM)

1(I’RAB. RAFA).untuk rafa’..ada empat..tanda..1.dommah 2.alif .wawu  4.nun للرفع أربع علامات..الضمة والألف والواو والنون..kita sekarang bahas yang nomor :

(1).dommah الضمة dommah bisa jadi alamat rafa untuk ..paa empat kalimat….a…isim mufrad الأسم المفرد contoh جاء زيد nah kata zaedun ini rafa tandanya dommah sebab isim mufrad..2.jamak taksir جمع التكثير contoh جاء رجال ja,a rijalun nah kata rijalun rafa’ alamat rafa nya pakai dommah sebab jamak taksir….3.jamak muanas salim جمع مؤنث سالم contoh جائت مسلمات ja,at muslimaatun..nah kata muslimatun rafa ..tanda nya pake dommah sebab jamak muanas salim….4.fiil mudhore yang masih utuh..belum ada ..amil nawasib atau amil jawazim الفعل المضارع الذي لم يدخل فيه ناصب اوجازم..conto..ينصر yansuru..nah kata yansuru rafa’ tanda nya dommah sebab fiil mudhore mulus…clear ?

(2) alif..الألف..alif bisa jadi tanda rafa pada isim tasniyyah الالف يكون علامة للرفع في التثنية contoh زيدان zaedani..nah kata zaedani wlaupun di baca ni tapi ini rafa tanda nya alif sebab kalimat nya isin tasniyyah

(3) wawu الواو wawu bisa jadi tanda pada rafa pada kalimat ..isim lima أماالواو فتكون علامة للرفع في أسماءالخمسة وهي أبوك,أخوك,حموك,فوك,ذومال..contoh جاء أبوك,جاءأخوك  ja.,a abuka nah kata abuka ini rafa .tanda nya rafa wawu sebab kalimat nya isim lima

(4) nun النون..nun bisa jadi tanda dalam rafa pada jama mudzakar salim واماالنون فيكون علامة للرفع في جمع ذكورالسالم…contoh جاء زيدون..ja,a zaeduuna..kata zaeduna ini rafa tanda nya wawu sebab kalimatnya jamak mudzakar salim…clear enough ?

**(I’RAB. NASAB) untuk nasab ada empat tanda ya itu..1.fathah 2.kasrah 3.alif 4. nun للنصب أربع علامات الفتحة والكسرة والالف والنونdisini kita bahas yang pertama (1)fathah..fathah bisa jadi tanda pada nasab di tiga tempat ..a..isim mufrad الأسم الفردcontoh رايت زيدا roaetu zaedan nah kata zaedan nasab tanda nya pake fathah sebab kalimat nya isim mufrad..b..jamak taksir..جمع تكثير contoh..رايت رجالا roaetu rijalan nah rijalan ini adalah nasab dan tandanya  fathah sebab kalimatnya isim jamak taksir…fiil mudhore yang kemasukan amil nawasib..فعل مضارع الذي دخل فيها نا صب contoh أن ينصر anyansuro..nah anyansura nasab tanda nya fathah sebab kalimatnya fiil mudhore yang sudah di masukin amil nawasib

2.kasrahالكسرة bisa jadi tanda di nasab pada kalimat jamak muanas salim فأماالكسرة فتكون علامة للنصب في جمع مؤنس السالم contoh رايت مسلمات roaetu muslimaatin..nah kata muslimaatin adalah nasab tandanya pkai kasrah sebab kalimat nya jamak mu,anas salim

3.alif .الألف.alif jadi tanda dalam nasab pada isim lima فأماالالف فتون علامة للنصب في أسماءالخمسة contoh..رايت أباك roaetu abaaka..nah kata abaaka adalah nasab tandanya alif sebab kalimatnya isim lima

4.nun النون nun bisa jadi tanda pada nasab di dua kaliamah…a…isim tasniyyah المثنى contoh رايت زيدين roaetu zaedaeni kata zaedaeni..adalah nasab tanda nya iyya sebab kalimah nya isim tasniyyah…b..jama mudzakar salim جمع الذكورالسالم contoh رايت زيدين roaetu zaediina nah kata zaediina adalah nasab tandanya iyya sebab kalimat nya jamak mudzakr salim

***(I’RAB HOFADZ)untuk tanda khofaz ada tiga ya itu 1.kasrak.2.fathah.3.iyya..kita bahas kasrah bisa jadi alamat pada khofadz pada

..isim mufrad الأسم المفرد contoh مررت بزيد marortu bizaedin nah kata bizaedin adalah khofadz tandanya pakai kasrah sebab kalimatnya isim mufrad..

..jamak taksir جمع التكثير..contoh مررت برجال marortu bi rijalin..nah kata rijalin dalah khofadz tandanya kasrah sebab kalimat nya jamak taksir….

..jamak muanas salimجمع مؤنث السالم contoh مررت بمسلمات marortu bi muslimaatin..nah kata muslimatin adalah khofadz tanda nya pakai kasrah sebab kalimat nya jamak muanas salim

2..fathah .. الفتح fathah bisa jadi tanda pada khofadz pada isim goer munsorif فاماالفتحة فتكون علامة للخفض في الأسم الذي لا ينصرف..contoh مررت بأ حمد marortu bi ahmada..kata bi ahmada adalah khofadz tandanya pakai fathah sebab kalimatnya isim goermunsorif..disini aku perlu terangkan isim goermunsorif..definisinya..كل اسم أشبه الفعل في علتين فرعيتين ترجع أحدا هما الى الفظ والآخرى الى المعنى او علّة واحدة تقوم مقام العلتين..semua isim yang menyerupai fiil dalam punya ..alasan dua..yang alasan itu satu kembali ke bentuk nya /form..yang ke dua kembali ke ma’na nya ..atau isim punya alasan satu tapi menempatia alasan dua…rincian nanti di bawah..مزيد من التفاصيل حول الأسم الذي لا ينصرف لاحقفا

(1) iyya..الياء..iyya bisa jadi tanda pada khofadz pada tiga kalimat..a..tasniyyah..التثنية contoh مررت بزيدين marortu bi zaedaeni..kata zaedaeni adalah khofadz tandanya iyya karena kalimat nya isim tasniyyah…b…isim limaالأسماءالخمسة contoh مررت بأ بيك marortu biabika akat biabika adalah khofadz tanda nya iyya sebab kalimat nya isim lima…c…jamak mudzakar salim جمع مذكرالسالم..contoh مررت بزيدين marortu bizaediina..kata bizaediina adalah khofadz tandanya iyya sebab kalimatnya jamak mudzakar salim,cukup jelas?..

,فأما الياء فتكون علامة للخفض في ثلاث مواضع في االتثنية وفي الأسماءالخمسة وجمع الذكورالسالم..واضح بما يكفي ؟

(BAB ISIM GHOIR MUNSHORIF الأسم الذي لا ينصرف)

Definisinya وهو كل أسم أشبه الفعل في علتين فرعيتين ترجع أحداهما الى الفظ والآخرى الى المعنى او علّة واحدة تقوم مقام العلتين…yaitu semua isim yang menyerupai fiil dalam mempunyai elat..alasan dua..yang cabang dua2nya satu kembli ke bentuk nya yang satu kembali ke ma’na nya.atau punya alasan satu tapi mendiami alasan dua..perlu aku jelaskan..fiil dulu..bagai mana fiil punya alasan dua ?fiil itu menurut ulama basroh irak bukan kalimat asal..kalimat asal itu adalah masdar..jadi fiil perlu alasan asal mustaq ini satu(1)alasan yang kembali ke bentuk /form..istiqoq)الفعل عند البصريين ليس أصل الكلكة بل الأصل هو المصدر توكي (نصرا) وليس (ينصر) لذلك فالفعل مستق من صيغة المصدر هذه ,واحد من العلة الفعل الذي يرجع الي الفظ…yang kedua ..fiil itu tidak bisa sempurna artinya kecuali kalau ada fa’il..conto..قام berdiri..kata qoma ..tidak sempurna kecuali ada zaedun jadi قام زيد..berdiri zaed itu…subject harus ada object..jadi fiil itu perlu fail untuk menyempurnakan kalimat..namanya iftiqor>>ini alasan kedua.2. yang kembali ke ma’na..الفعل يحتاج الى الفاعل لأنه لن تكمل الكلمه الفعل الا بالفاعل..مثل لفظ ..قام..لن يفهم الا بوجودالفاعل ظهيرا كان او مستتيرا..نحو قام زيد..لذلك فالفعل تفتقرّ للفاعل وهذه الأفتقار علّة ثانيةللفعل التي تعود الى المعنى….clear enough ?..sekarang isim goermunsorif seperti itu prosesnya cuma alasan nya gak sama dia punya alasan dua satu kembali ke bentuk lafadz dua kembali ke ma’na .oleh sebab mirip piil maka dia tidak bisa nerima tasrif/tanwin  karena fiil juga gak bisa terima tanwin..gak boleh di baca ahmadan.no way..lagi pula karena mirip fiil dan fiil tak bisa nerima kasrah..maka isim semacam ini waktu kasrah nya pake fathah..conto مررت بأ حمد marortu biahmada..gak bisa biahmadi walaufun ada huruf jar no way…فالأسم الذي لا ينصرف شابه للفعل لديه علّتا ن أحداهما يعود للفظ والآخر يعود للمعنى..مثل أحمد..الأولى أنه موزون بوزن أفعل (وزن الفعل) هذه علّة الأسم الذي يعود الى الفظ…والثاني..أحمد أسم للعالم..بمعنى أنّه عالميه وهذه علّة أخرى الذي يعود الى المعنى لذالك ولتشابهه للفعل فهذالنوع من الأسم لاينصرف لأن الفعل لايقبل التصريف ولهذالسبب علامةالخض مثل النوع من الأسم بالفتح لأنه يشبه الفعل فالعل لا يقبل الكسرة..نحو مررت بأ حمد بالفتح الدال…واضح بما يكفي ؟ dalam isim goermunsorif terbagi 3..(1 alamiyah عالمية ) (2 wasfiyyah وصفية) (adal عدل)

1..Dari alamiyah..alamiyah + wazan fiil..ahmada عالمية+الفعل= أحمد..marortu biahmada

alamiyyah+bahasa ajam=ibrohimaعالمية +اللغةالعجم+ابراهيم marortu biibrohima

alamiyyah+ta tanis..makkata ,arfata.fatimata..عالمية+تاءتانيث=مكة,عرفة,فاطمة dahabtu ila makkata..waqoftu biarfata..

2..dari wasfiyyah..sifat..warna..وصفية

wasfiyyah +wazan fiil=aswada..وصفية+وزنالفعل+أسود…marortu bi aswada..dan sebagai nya الى آخره

3.adal/pindah bentuk..عدول اي تحول..disini ada segat muntahaljumu..contoh nawasiro..banyak sekali yang menolong..pindah dari nussor banyak ke nawasiro banyak sekali..صيغة منتهى الجموع..مثل نواصر تحول من النصار الى نواصر…marortu binawasiro..مررت بنواصر.. هذه لمحة سريعة عن الأسم الذي لا ينصرف

(FASAL  فصل)

 yang suka di pasang i”rab ada dua..1..harkat 2 Huruf هلمعربات قسمان قسم بالحركة وقسم بالحروف فالحركة هو الضمة والفتح والكسرة والسكون..harkat itu adalah dommah,fathah,kasroh,sukun di sini di bagi yang suka pake harkat iyalah kalimat الذي يعرب بالحركة هوا..الأسم المفرد وجمع التكثير وجمع مؤنث السالم والفعل المضار..isim mufrad jamak taksir jamak muanas salim fiil mudhore

ada juga yang suka pakai huruf..seperti pakai alif atau wawu…yang suka pakai ini adalah..isimtasniyyah,jama mudzakar salim,isimlima dansebagian dari fiil lima…fiil lima itu adalah..يفعلان,تفعلان,يفعلون,تفعلون,تفعلين>>yafalani,tafalani,yafaluna tafaluana,tafalina…

ada juga yang tandanya pakai buang huruf akhir..seperti fiil lima wktu nasob..conto ,ان يفعلا ,anyafalaa..dsb..بعض الكلمة يكون علامة أعرابه بخذف الحرف الآخر مثل أفعال الخمسةةفي حالةالتثنية عندالنصب…نحو أن يفعلا..

(BAB I’RAB ISIM MU’TAL  أعراب الأسم المعتل)

isim mutal adalah yang di ceritakan diatas ..dibagi dua 1. maqsur dua mamdud..isim maqsur i’rabnya semuanya di perkirakan pada dommah ,nasab dan kasroh..contoh جاءالفتى,رايت الفتى ,مررت بالفتى..jaa alfata ,roaetu alfata <marortu bilfata..الأسم المقصورجميع أعربه مقدّر

2.isim manqus i’rab nya waktu rafa dan kasrah..di kira-kirakan dan waktu nasab di jelaskan contoh ….جاءالمرتقى,رايت المرتقي,مررت بالمرتقى>>ja,a murtaqi,,roaetulmurtaqiyya,,marortu bilmurtaqi..الأسم المنقصوص أعرابه مقدر في حالة الرفع والجر وظاهر علىالفتح في حالةانصب jelas ? هل هذا واضح ؟..bereslah kita bahas isim sekarang pindah bahas fiil

(BABUL AL AF’AL باب الأفعال)

 Disini kami akan menceritakan Fiil..masih ingat kan definisi fiil pada awal tulisan di atas..yaitu suatu kalimat yang menunjukan dirinya sendiri dengan diiringi waktau(time) seperti ضرب doroba ,telah memukul/ waktu nya udah selesai…atau يضرب yadribu ,sedang memukul,waktunya masih berjalan sekarang…nah fiil ini di bagi tiga…

(1) fiil madi فعل ماضي definisinya..وهو مادال على حدث مضى وأنقضى…suatu kalimat kerja yang menujukan kerjaan selesai/lewat..contoh..نصر..nasoro,sudh menolong..kata sudah kan berarti udah beres…nah  fiil madi seperti ini harkatnya/mabni fatah selamanya..(fathah) nasoro,fataha,alima,doroba فالماضي مفتوح الأخر أبدأ

(2) fiil amar فعل الأمر ..definisinya..,وهومادال على صيغة أمر والطلب suatu kalimat yang menunjukan perintah dan permintaan..contoh أنصر unsur,kamu harus menolong, nah harkatnya kalimat fiil seperti ini jazen/sukun…unsur.iftah.idrib.idzhab فأ مرمجزوم أبدا

(3) fiil mudhore فعل مضاري definisinya ,وههو مادال على حدث يقبل الحال والأستقبال suatu kalimat yang menujukan kejadian bisa sekarang bisa di masadepan contoh يضرب yadribu..sedang memukul..yaftahu..sedang membuka..ini sekarang …سيضرب sayadribu..akan memukul..sayaftahu..akan memuka..nah ini di waktu akan datang..harkatnya fiil seperti ini selamanya rofa../dommah..kecuali kalau kemasuka amil nawasib dan amil jawazim فالمضارع مرفوع أبدا حتى يدخل عليه ناصب او جازم ..contoh yang kemasukanamil nawasib..أن ينصر anyansuro..asal nya yansuru terus masuk AN jadi anyansuro..tadinya rofa jadi nasab..contoh yang ke masukan amil jawazim..لم ينصر Lamyansur…asalnya yansuru..terus di masukan LAM jadi Lamyansur..asal rofa jadi sukun,jelas ? واضح بمايكفي ؟

Sesudah itu ini terusan cerita fiil mudore apa amil nawasib itu ? dan apa amil jawazim itu ?…baiklah ..(1)  .yang namanya amil nawasib النواصب itu sebuah group dari harf yang suka masuk fiil mudhore dan merubah harkat nya menjadi nasab..jumlah nya lumayan bayak …diantaranya..أن , للن ,أذا ,كي ,لام كي ,لام جهود…an , lan , idan , kae . lamkae , lam juhud, Contoh..أن ينصر anyansuro لن ينصر Lanyansuro..كي ينصر ..kaeyansuro..atau lam kae pakai lam didepan nya لكي تنصر likaeyansuro..untuk lam juhud ada definisinya..contoh ماكان لينصر atau لم يكن لينصر..makana liyansuro,Lamyakun liyansuro..semuanya ber asal dari yansuru..definisi lam juhud..أن يسبقها كان المنفية بما او يكن المنفية بالم..huruf Lam yang didahului kata makana..atau didahului Lamyakun..kalau fiil mudhore kemasukan huruf yang diatas ini maka harkatnya harus ganti jadi nasab

(2) Amil jawazim.الجوازم.adalah group dari huruf yang suka masuk fiil mudhore..dan merubah harkatnya menjadi jazem/sukun..contoh لم ينصر..Lamyansur..diantara amil jawazim adalah لم ,لما ,لام أمر ..Lam , Lamma ,Lam amar ,,contoh..Lamyansur..tak menolong..لما ينصر.Lamma yansur..لينصر Liyansur…semuanya sukun asalnya semua itu yansuru واضح ؟

(BAB AL MARFU’AT باب المرفوعات)

Dalam bab ini adalah terusan dari i’rab yang empat telah vandi ceritakan di atas dan di antara yang empat itu adalah i’rab rofa الرفع berapakah yang harus rofa itu ? dalam hal ini ada tujuh 7 bab..yang baris nya harus rafa

1.Fa’il.اافاعل.

2.Naibulfail..نائب الفاعل.

3.Mubtada..المبتد

4.Khobar..الخبر

5.Isim kana..أسم كان..

6.Khobar inna..خبر أنّ..

7.Attawabe’..التوابع

nah sekarang mari kita jelaskan satu persatu.

(1) Fa’il..definisinya وهو الأسم المرفوع المذكور قبله فعله..isim yang harkatnya rofa’ dan sebelumnya di ceritakan fiil nya/kerjaannya…contoh zaedun dalam kata ضرب زيد..doroba zaedun..nah kata zaedun adalah fail harkatnya harus rafa dan sebelum nya ada fiil kata kerja yaitu doroba /memukul…Fa’il ini di bagi dua..(A) Fail isim dohir..أسم ظاهر/jelas ..dengan kata..seperti contoh di atas tadi..(B) Fa’il isim domir..الأسم ضمير..yaitu fail..yang mengerjakan nya tersembunyi..contoh ضربه..dorobahu..artinya sudah  zaed sudah memukul orang itu..yang ada di sini ..fiil dan maf’ul doroba dan hu..sedangkan zaed tersembunyi…jumlafail isim domir 14 ضرب..ضربا..ضربو..ضربت..ضربتا…ضربن..ضربت..ضربتما..ضربتم..ضربت..ضربتما..ضربتن..ضربت..ضربنا..doroba..dorobaa..dorobuu..dorobat…dorobata..dorobna..dorobta..dorobtuma..dorobtum..dorobti..dorobtuma..dorobtunna..dorobtu..dorobna..

apa isim domir itu..definisinya adalah..وهو مادال على متكلم او مخاطب او غائب..adalah huruf yang menuduhkan pada mutakalim/pembicara atau mukhotob..yang di ajak bicara /ada didepankita atau gaib..yang tidak ada di depan kita…contoh..mutakalim..انا..نحن..ana/sayah..kata sayah adalah ganti dari kata nama orang yang bicara..nahnu..kita semua/kami..kata nahnu adalah ganti dari nama orang banyak misalnya umsr zaed saad ahamad..mereka tidak nyebut nama tapi pakai kita semua ..itu adomir matakalim..dan juga ada mutakalim wahdah ..ANA..ada muatkalim maal goer..NAHNU…….contoh domir mukhotob..أنت أنتما أنتم..anta antuma antum..anta..kamu..antuma kamu berdua..antum kalian..ini mukhotob artinya kita bicara pada orang yang ada di depan kita…conto go,ib..هو هما هم هي هن..huwa..dia lakilaki sendiri tak ada depan kita..huma lakilaki duwa…hum mereka..hiyya..perempuan sendiri..hunna..perempuan banyak…ISIM DOMIR di bagi dua..1..Muttasil..متصل ..dan 2..munfasil منفصل..yang muttasil bagai mana definisinya وهو ما لا يبتدأبه ولا يلي بعد الا في الأختيار..yang tak bisa di bikin awalan kalimat dan tidak bisa diam sesudah kata illa..contoh..ضربت..dorobtu…gak boleh di baca tu dorob..domir semacam ini ada 14..yaitu..ه,هما,هم,ها,هما,هن,ك,كما,كم,ك,كما,كن,ني,نا..hu,huma,mum,ha,humma,hunna,ka,kuma,kum,ki,kuma,kunna,ni,na,..bagian kedua dari domir adalah ISIM DOMIR..munfasil..definisinya..وهو الذي قد يبتدأبه وقد يلي بعد الا في الأختيا ..adalah yang kadang jadi awalan kalimat..dan bolek diam sesudah kata illa..contoh نصر هو nasoro huwa..sudah menolong dia..bisa هو يقومhuwa yaqumu dia berdiri…yang jenis ini ada 14 ya itu..هو,هما,هم,هي,هما,هن,أنت,أنتما,انتم,انت,انتما,انتن,انا,نحن…huwa,huma,hum,hiyya,huma,hunna,anta,antuma,antum,anti,antuma,antunna,ana,nahnu…

CATATAN : kata huma sama lakilaki dan perempuan..antuma laki-laki dan perempuan juga sama tulisan dan ucapan membedakan nya adalah pake siyaqul kalam..سياق الكلام…jurusan percakapan kalau sedang menceritakan laki-laki huma dan antuma laki-laki juga kalau menceritakan perempuan huma dan antuma perempuan..

(BAB NAI’BUL FA’IL باب نائب الفاعل)

(2) Dari marfua’t adalah naibul fa’l atau yang di namakan almafululadzi lam yusamma fai’luhu..orang yang mengerjakan nya tidak di ceritakan ،نا ئب الفاعل او ما يسمى المفعول الذي لم يسمى فاعله…ini sebenarnya maf,ul yang barisnya harus nasab dikarenakan dia menggantikan fa’il maka i’rab dia/harkat dia harus rofa mengikuti i’rabnya fa’il..contoh..ضرب زيد…duriba zaedun…asal nya…ضرب عمر زيدا..doroba amrun jaedan.. umar memukul zaed..buang fa’il kata amrun masuakan kata zaedan di tempatnya dan rubah i’robnya /harkatnya..jadi duriba zaedun..artiya zaed sudah di pukul..dan umar tidak di ceritakan lagih..ada atura khusus dalam bab ini ya itu fiil nya/kata kerjanya…kalaulah itu dari fiil madi maka..ضم اوله وكسر ما قبل الأخر…di dommah kan awalan huruf dan di kasrohkan huruf sebelum akhir…contoh..ضرب..duriba..asalnya doroba…jadi ضرب زيد..duriba zaedun…dan kalau fiil nya dari fiil mudhore maka..ضم اوله وفتح ما قبل الأخر..dommah kan awal huruf dan fathah kan huruf sebelum akhir …contoh..يضرب زيد..yudrobu zaedun..aslal fiil yadribu..jadi yudrubu…yudrobu zaedun…asalny yadribu amrun zaedan..terus buang amrun tetapkan zaedan pada tempatnya dan harkatnya seperti amrun..jadi..yudrobu zaedun…zaed sedang di pukul…DAN naibul fa’il di bagi dua ..persist seperti fa’il..(1) isim dohir..seperti contoh tadi..(2) isim domir..contoh..ضربت..أ..duribtu..asal nya doroba amrun ana..umar mukul sayah..buang umar..masukan ana..dan ana ini di gantikan ke domir muttasil jadi tu…jadinya duribtu..dan jenis ini ada 14 seperti fa’il..ضرب..ضربا..ضربو..ضربت..ضربتا..ضربن…ضربت..ضربتما..ضربتم..ضربت..ضربتما..ضربتن..ضربت..ضربنا..duriba ..duribaa..duribuu..duribat..duribata..duribna..duribta..duribtuma…duribtum..duribti..duribtuma..duribtunna..duribtu..duribna…dan dari fiil mudhore nya juga 14..يضرب..يضربان..يضربون..تضرب..تضربان..يضربن..تضرب…تضربان..تضربون..تضربين..تضربان..تضربن..اضرب..نضرب..yudrobu..yudrobaani..yudrobuuna..tudrobu…tudrobaani..yudrobna..tudrobu..tudrobaani..tudrobuuna..tudrobiina..tudrobaani tudrobna..udrobu..nudrobu..

(BAB MUBTADA & KHOBAR باب المبتدا والخبر)

Mubtada itu adalah..وهو الأسم المرفوع العاري عن العوامل الفظية ..isim yang harkatnya rofa’ dan tak ada amil/perintah yang berbentuk lafadz…dan apa itu KHOBAR..khobar itu adalah وهو اسم امرفوع المسنداليه..adalah isim yang harkatnya rofa’ dang di sandarkan ke mubtada contoh..زيدقائم..zaed itu berdiri..dan sepertinya mubtada dan khobar adlah sesuatu yang tak bisa di pisahkan karena satu memerlukan sama yang lain..kalimat tidak akan sempurna kalau tidak kumplit(subject&object) kita kalau bicara zaedun aja ..orang bertanya ..apa..bagaimana zaed itu..dan kalau kita bicara..qo,imun aja ..orang akan bertanya siapa yang qoimun itu/berdiri itu ? jadi harus kumplit زيدقائم zaed berdiri

Mubtada..di bagi dua..1..mubtadaisim dohir..مبتد اسم الظاهر..contoh yang tadi itu kata zaedun nya..2..mubtada isim domir..contoh..هو قائم huwa qo,imun..zaed itu berdiri..kata huwa adalah mubtada isim domir..jumlah nya ada 14..yaitu..هو,,هما,,هم,,هي,,هما,,هن,,أنت,,أنتما,,انتم,,أنت,,أنتما,,أنتن,,أنا,,نحن..huwa huma,,hum,,hiya,,huma,,hunna,,anta,,antuma,,antum,,anti,,antuma,,

antunna,,ana,,nahnu

Sekarang KHOBAR..khobar itu di bagi dua juga (1) khobar mufrad الخبرالمفرد..yaitu khobar yang terdiri dari satu kalimat contoh yang tadiزيد قائم zaedun qo.imun..kata qo,imun adalah khobar mufrad sebab terdiri dari satu kalimat…(2) khobar jumlah..الخبرالجملة..yaitu khobar yang terdiri dari kalimat jumlah..disini ada empat..(A) dorof&madruf الظرف والمظروف..atau wadah,tempat..contoh..زيد عندك..zaedun indaka..zaed ada di kamu..nah kata indaka عندك ..adalah khobar jumlah..terdiri dari dorof=inda&madruf isim domir=ka..(B) Jar& majrur الجر والمجرور..yang terdiri dari huruf jar& majrur kalimat yang di ikuti khuruf jar itu..contoh..زيد في الدار..zaedun fiddari..zaed di rumah..kata fiddari adalah khobar jumlah sebab terdiri dari huruf jar=fi & majrur = addari..(C) fiil&fail..yang terdiri dari fiil & fa’il.الفعل والفاعل.contoh زيد قام أبوه zaedun qoma’ abuhu  zaed berdiri bapanya zaed..nah kata qoma’ abuhu adalah khobar jumalh sebab terdiri dari fiil=qoma’ & fa’il + abuhu…(D) terdiri dari mubta dan khobar .المبتد والخبر..contoh..زيد جاريته ذاهبة..zaedun jariyyatuhu dzahibatun..zaed pelayannya itu pergi..kata jariyyatuhu dzahibatun adalah khobar jumlah sebab terdiri dari mubtada =jariyyatuhu & khobar=dzahibatun…

(BABU YANG SUKA MERUBAH MUBTADA DAN KHOBAR..باب العوامل الداخلة على المبتد والخبر)

Bab ini mengatur sesuatu yang suka merubah kondisi mubtada dan khobar..disini di bagi tiga..1.kana dan sudara sudaranya كان وأخوتها ..dan 2..inna dan saudara saudara nya..أنّ وأخوتها..dan..3. donna dan saudara saudara nya..

(1) kana dan saudara saudaranya..aksinya..ترفع الأسم وتنصب الخبر meng rofakan isimnya(mubtadanya) dan me nasabkan khobar nya…contoh كان زيدقائما kana zaedun qoiman..asalnya زيدقائم zaedun qoimun terus masuk lafad kana jadi rubah khobarnya nasab jadi kana zaedun qoiman..saudaranya adalah..كان,,ظل,,بات,,اضحى,,أصبح,,أمس,,صار,,ليس,ما زال,,مابرح,مافتئ,,ماأنفك,مادام,kana,,dolla,,bata,,adha,,asbaha,,amsa,soro,,laesa,,mazala,,mabariha,,mafati,a,,mainfakka,,madama..dan tasrifan nya dari semua ini..tasrifan dari kana..كان,,يكون,,كائن ,كن,,لا تكن kana,,yakunu,,kai,nun,,kun ,,latkun..contoh dari tasrif kana,,يكون زيد قويا yakunu qowiyyan..asalnya zaedun qowiyyun ..masuk yakunu robah khobarnya jadi kowiyyan…dan teman nya kana juga sama tasrif seperti itu…

(2) INNA dan sudara nya أنّ وأخوتها..aksiny adalah sebaliknya kana تنصب الأسم وترفع الخبر..menasabkan isimnya(mubtada) dan merofakan khobar nya ..contoh..أنّ زيدا قائم..inna zaedan qooimun..asalnya zaedun qooimun terus masuk inna jadi rubah mubtadanya jadinya inna zaedan qooimun..saudara saudaranya adalah ,,أنّ,,أنّ لكنّ,,كأنّ ليت,,لعل..inna..annan..lakinna..kaanna,,laeta,,laala..contoh..لكن الأمر سهل..lakinna alamro sahlun..tapinya urusannya enteng..asalnya..al amru sahlun ..masuk lakinna jadi lakinna alamro sahlun

(3) DONNA dan sudaranya….ظن و أخوتها..group ini sebenarnya bukan isim marfuat..melainkan amil nawasih ..sesuatu yang suka menyalin harkat mubtada dan khobar..yang aksinya..تنصب المبتدا والخبر..menasabkan mubtada dan khobar ..contoh..ظننت زيدا منطلقا ..donantu zaedan muntoligon..asal nya زيد منطلق zaedun muntoliqun masuk lah kata donantu jadi donantu zaedan muntoliqon..rubahlah harkat kalimat maubtada dan khobar..group ini ada beberapa kata ya itu..ظننت ,حسبت ,حلت, رايت,donnantu , hasibtu ,hiltu, roaetu ,,dan sebagainya..kenapa mubtadu dan khobar di ubah menjadi nasab ? karena dua kalimat itu menjadi maful dua2nya dari donnantu yang menjadi fi’il dan fa’il  kata donna adalah fii’l dan kata tu adalah fa’il…karena mubtada dan khobar jadi maf’ul maka harkatnya nasab karena maful isim mansubat..donna..dalam arti..menyangka/prasangka dan juga di artikan meyakinkan..contoh donantu zaedan muntolikon…aku sangka bahwa zaed berangkat…

(BAB ATTAWABE’الباب التوابع )

Dari isim marfu’at المرفوعة yang suka rafa harkatnya adalah tawabe’التوابع artinya pengikut..ikut ikutan ..pada harkat sebelumnya..attawabe’ ada empat 4 jenis…A..نعت..NA’AT…B..عطف..ATAF..C..توكيد..TAOKID…D…بدل…BADAL..يتبع في الأعراب الأسماءالأول # نعت وعطف وتوكيد ودل…

(A) Na’at..النعت..artinya sipat/sipatan sesuatu na’at itu adalah..وهو الأسم المتبوع لمنعوته adalah isim yang harkatnya di ikut kan ke yang di sipatinya..contoh..جاء زيد العاقل..jaa zaedun al aaqilu..datang zaed yang ber akal..kata yang berakal adalah sipat dari zaed..kalo ada orang bertanya zaed yang mana oooh zaed yang berakal..bukan yang gila..umpamanya ada zaed 2 orang satu berakal satu gila..nah kata sipat itu ..(AL AAQILU) di samakan dengan harkat zaedun..karena zaedun rofa maka al aqilu juga rofa’..kalao yang diikutinya nasab maka ikut nasab..contoh..رايت زيدا العاقل..roaetu zaedan al aaqila…مررت بزيد العاقل..marorrtu bizaedin al aaqili…

(B) ATAF..العطف..diantara tawabe’ juga al ataf artinya disambungkan ke kalimat sebelum nya pakai huruf khusus(hiruf ataf) diantaranya..واو.,ثم..الفاء..لكن..حتى..أم..او..بل..wawu..tsumma..fa..lakin..hatta..am..ao..bal..contoh جاء زيد وعمر jaa zaedun wa amrun..datang zaed dan amr..kata amrun adalah ataf ..di hubungkan ke kata zaed fakai wawu nah yang di hubungkan begini harkatnya harus di ikutkan ke ma’tufnya/yang depan..رايت زيدا وعمرا..roaetu zaedan wa amron..مررت بزيد وعمر..marorrtu bizaedin wa amrin..جاء زيد او عمر..jaa zaedun ao amrun..datang zaed atau amr..اكلت السمكة حتى راسها..akaltu assamakata hatta rosaha..saya makan ikan sampai kepalanya..ataf ada dua jenis..1 ataf nasaq..2..atab bayan..yang kami jelas kan di atas adalah ataf nasaq..ataf bayan yang tidak pakai huruf penyambung contoh..ابو حفص عمر..abu hafsin umaru..bapa hafs umar..kata umaru di ataf kan ke kata abu /isim lima rafa maka brisnya/harkatnya rafa jadi umaru..mirip sipar tapi bukan sipat..واضح ؟

(C) ATTAOKID التوكيد..taokid artinya memperkuat hukum…disini di lengkapi dengan beberapa kalimat taokid..diantaranya..نفس..عين..كل..أجمع..nafsu..aenu..kullu..ajmau..contoh…جاء زيد نفسه..jaa zaedun nafsuhu..datang zaed dirinya dia..kata nafsuhu..harkat nya di samakan dengan zaedun karena taokid..memperkuat bahwa yang datang itu dirinya sendiri..bukan assisten nya رايت القوم كلهم roaetu alqaoma kullahum..saya melihat ummat/kaom semuanya..مررت بالقوم أجمعين marortu bil qaomi ajmaiina..saya melewati kaom semuanya…TAOKID ada dua ..1..Lafdi/kata…2..manawi/arti…yang kami jelaskan dia atas taokid manawi /arti hukum…dan taokid lafdi adalah memperkuat kalimat dengan mengulanginya..contoh..اذهب  اذهب…idzhab  idzhab..pergi pergi…nah kata berulang-ulang ini adalah taokid lafdi memperkuat kata dengan menyebut kembali kata itu.

(D) AL BADAL البدل…badal artinya ganti..artinya adalah yang ikut ke isim pertama yang dimaksud hukum tampa ada pelantara huruf..هو التابع المقصود بالحكم بلا واسطة..contoh..جاء زيد أخوك..jaa zaedun ahuka..datang zaed saudaramu..kata ahuka adalah badal /ganti /tegasnya..dari kata zaedun jadi yang di maksud zaedun itu saudaramu…harkatnya ahuka samakan dengan zaedun karena zaedun rafa maka ahika rafa..tandanya pakai wawu karna kalimatnya isim lima..dadal di bagi empat …1..بدل الشي من الشي..badal syae min syae..sesuatu dari sesuatu itu..contoh جاء زيد أخوك jaa zaedun ahuka..datang zaed saudara mau..kata ahuka saudarmu itu adalah kumplit zaed tak kurang tak lebih..2..badal ba’di minal kul بدا بعض من الكل…ya itu sebagian dari sesuatu…contoh اكلت الرغيف نصفه..akaltu arrogifa nisfahu..saya makan roti setengahnya..kata nisfa badal dari  arrogifa maka barisnya di ikutkan..dan kata nisfahu/setengahnya adalah bagian dari roti yang satu…3..badal isti’mal..بدل أستعمال…Badal istimal adalah mengganti kata tujuan awal dengan tujuan yang kedua dengan secara sengaja ..contoh خذ ثوبا سكينا hudz tsaoban sikkinan…ambil baju eh pisau…nah kata sikkinan di ikutkan harkatnya kepada kata tsaoban..di sini semua nasob/nasab…4…Badal golat. بدل غلط ..artinya ganti kesalahan …Badal golat ialah pengganti kata tujuan awal dengan kata tujuan kedua dengan murni karena kata yang awal itu kesalahan ini persis seperti badal isti’mal tadi bedanya ini jelas tidak di sengaja alias kesalahan..contoh yang tadi di badal isti’mal.

FASAL ISIM MANSUBAT  isim yang harkatnya nasob/nasab أسماء المنصوبات

Disini akan di ceritakan tentang isim yang harkatnya harus nasab/fathah  dalam fasal ini ada beberapa bab jumlahnya tidak kurang dari 15 bab tapi sebenarnya sebagian bab yang lima belas itu sudah di bahas di isim marfu’at. nanti kita jelaskan lagi secara singkat  mari kita mulai ..Rincian dan urutanya adalah

1. Maf’ulbih.. مفعول به

2. Masdar مصدر

3.Dorof Jaman ظرف الزمان

4.Dorof makan ظرف مكان

5.Al hal الحال

6.Tamyiz التميييز

7.Istisna الأستثناء

8.Isim La الأسم لا

9.Munada منادى

10.Maf’ul min ajlih مفعول من أجله

11.Maf’ul maah مفعول معه

12.Khobar kana خبر كان

13.Isim inna اسم انّ

14.Maf’ul donna مفعول ظن

15. Tawabee..التوابع …naat نعت…ataf..عطف …Taokid.التوكيد…Badal..البدل

ya…mari kita mulai nomer 1 Maf’ul bih apa mafulbih itu ? maf’ulbih itu adalah suatu ising yang harkatnya selalu nasob yang menjadi sasaran kata kerja المفعول به هو الأسم المنصوب الذي يقع به الفعل contoh ضرب زيد عمرا doroba zaedun amron..coba perhatikan artinya doroba ..memukul..ini kata kerja(fiil) zaedun..orang nama zaed..yang punya kerjaan..fail..amron..kepada umar..ini maf’ulbih..dimana pukulan zaed bersarang di umar..neh harkatnya umar harus nasab di baca amron عمرا..lanjut maf’ulbih di bagi dua formatnya seperti di bab fa’il

1.maf’lbih isim dzohir  2. maf’ulbih isim domir…apa sih isim dzohir ? adalah suatu kalimat isim nama yang di sebutkan dengan jelas. contohnya zaed, umar, bakar dsb ما يقال بصريح العبارة ..dan contohnya yang tadi di atas

dan bagaimana maf’ulbih isim dzomir ? مفعول به اسم ضمير ..sebelum menerangkan ini kita beri penjelasan tentang isim dzomir ..sebenarnya sih sudah jelas di atas mengenai isim domir..tapi ok…isim domir iyalah satu nama yang memakai kata ganti..orang yang tidak ada di depan kita ..atau si pembicara..atau orang yang ada di depan kita ..ringakasnya ..dia..kamu..saya..mereka..nah ini kata ganti dari agus umpamanya . ketika agus gak ada di depan kita..kita katakan dia ..dzomir ada 14 tapi ada yang sama formatnya antara wanita dua orang & laki laki dua orang pada mukhotob (ada di depan kita) kalian berdua ..dan gai,b yang tidak ada di depan kita ..dia berdua ..jadi sepertinya 12 aja rincian nya

ketika nasab ,, ah saya kataka ketika nasab sebab domir agak sulit membedakan nasab, karrah dan dommahnya …formatnya sama karena domir itu mabni (tetap pada satu format gak berubah) dan juga di bagi 3 golongan ..Gaig غائب gak ada di hadapan kita …Mukhotob..مخاطب..ada di hadapan kita…Mutakalim متكلم…si pembicara

ه hu…..        dia lakilaki 1 orang  (gak ada di depan kita ) namanya gaib(غائب)

هما huma       dia lakilaki 2 orang

هم..hum        mereka laki2 lebih dari 3 orang

 ها..ha  dia perempuan sendiri

هما..huma  dia perempuan berdua

هن..hunna….mereka perempuan banyak..lebih dari 3 orang…ini semua gaib

ك ..ka….kamu lakilaki satu….ada di depan ini mukotob مخاطب.

كما ..kuma….kamu lakilaki berdua

كم kum…kamu lakilaki banyak lebih dari 3 orang

ك ..ki ..kamu perempuan satu

كما..kamu peremouan dua

كن..kunna …kalian perempuan banyak…ini group mukhotob

ني…ni….saya ..ini mutakalim.si pembicara sendiri متكلم..mutakalim wahdah

نا..na…kita..si pembicara dan temanya متكلم مع الغير..mutakalim maalgoer

insyaallah domir saya jelaskan lebih detail nanti ..ada fasal khusus.

sesudah ini kita cek bagaimana maf’ulbih isim domir ..yang kata kerja itu bersarang di kata ganti yang tadi contoh ضربك dorobaka…takdirnya zaedun dorobaka…zaed mukul kamu …umpanya nama kamu umar …daripada mengatakan zaed mukul umar ..kita katakan zaed mukul kamu…atau contoh lagi ضربهما doroba huma …zaed memukul dia berdua(umar dan bakar)  sekian maf’ulbih mudah2an jelas bisa di mengerti.

             BAB MASDAR اليلب المصدر

Masdar dalam arti kata adalah sumber. dan definisinya dalam ilmu nahwu adalah suatu isim yang harkatnya nasab yang biasa datang pada urutan ketiga dari tasrifan atau susunan fiil المصدر هو الأسم المنصوب الذي يجيئ ثالثا في تصريف الفعل  ..kalau anda sudah punya wawasan tentang tasrifan fiil maka anda kan tahu apa nomer tiga dari tasrifan itu ..contoh tasrifan fiil

نصر

ينصر

نصرا

ناصر

منصور

انصر

لاتنصر

منصر

منصر

منصر

lihat nomer tiga kata nasron نصرا yang artinya dengan menolong sebenarnya…..contoh ضربته ضربا..dorobtuhu dorban…saya memukul dia dengan pukulan sebenarnya….dorban adalah masdar kalimatnya isim dan termasuk isim mansubat..isim yang harkatnya nasab.

                            BAB DZORF الظرف

Dorf artinya adalah wadah dan juga di artikan amplop atau keadaan juga dikatakan dorf…tapi apa menurut ilmu nahwu ? adalah isim yang menujukan tempat atau waktu yang harkatnya nasab dengan mengirakan arti fi في artinya (di) هو الأسم الزمان اوالمكان المنصوب بتقدير في…contoh عند inda …artinya(di) kalau di sambungkan kata lain sepert كم kum ..jadi عندكم indakum..di kalian..nah inda ini dorf yang menunjukandi satu  tempat  …EH jangan lupa dorf terbagi dua

1.Dorf zaman.ظرف الزمان…sesuatu yang menujukan di suatu waktu

2.Dorf makan..ظرف مكان..sesuatu yang menunjukan di satu tempat

ada beberapa yang menujukan pada suatu waktu seperti di bawah ini

اليوم..alyaoma..hari ini…ليلة..laelatan..malam …غدوة gudwatan ..pagi..مساء masaan ..sore..سحرا saharon..waktu makan sahur (dawn) غدا..goddan…besok…dsb …contoh جئت اليوم ji,tu alyaoma ..saya datang hari ini…kata alyaoma harkatnya nasab sebab kalimat dorf zaman

2.Dorf makan..diantaranya adalah ..امام amama…di depan…خلف..kholfa ..di belakang ..وراء ..waro,a ..belakang..قدم ..qudama ..depan..عند ..inda..di…مع..ma’a ..bersama..dsb..contoh..خلف المسجد…kholfa almasjidi..di belakang masjid..امام اليت..amama albaeti…di depan rumah….nah kata amama….adalah dorf makan sebab menujukan suatu tempat..dan barisnya harus nasab.



        BAB ALHAL الباب الحال

Hal artinya tingkah dan kelakuan…dalam ilmu nahwu diartikan…sesuatu isim yang dengannya di jelaskan keadaan fiil….ringkasnya isim untuk menjelaskan kata kerja….contoh جاء زيد ماشيا ja,a zaedun masiyan….datang zaed berjalan kaki..atau dalam bahasa kita bisa di implikimpliki ..sembari…nah kata masiyan (berjalankaki) menjelaskan kata kerja /fiil kata(ja,a)datang..dan bukannya naik mobil…jadi yang mendengarkan obrolan gak perlu bertanya dengan apa zaed itu datang..contoh lain..قام زيد باكيا …qoma zaedun bakiyan..zaed berdiri sembari menangis…kata bakiyan..(menangis)menerangkan kata kerja (Qoma)berdiri..nah kata bakiyan itu namanya Hal dan harkatnya nasab.

       BAB TAMYIZ باب التميز

Tamyiz adalah kalimat yang menjelaskan perbedaan karena kalimat masih belum jelas ..contoh تصبب زيد عرقا…tasobbaba zaedun arqon..telah mengucur pada zaed keringatnya…kata arqon(عرقا) keringatnya menjelaskan apa yang mengucur dari badan zaed karena masih belum jelas …apa itu air matanya , darah nya atau keringatnya…atau dalam bahasa kita adalah yang suka di pakai jawaban pertanyaan apanya ? nah ini dia tamyiz. contoh lagi..شبر ارضا..sibru ardon…sejengkal tanahnya …kata ardon ارضا..tanahnya menjelaskan kata sejengkal..dan menjawab pertanyaan apanya yang sejengkal ? jenis kalimat begini namanya tamyiz dan harkatnya nasab.

               BAB ISTISNA باب الأستثناء

Istisna dalam arti pengecualian….dengan kata الا ..illa..kecuali…غير..goeru..selain..عدا..a’da…kecuali…dsb….disini agak rumit karena berhubungan dengan rentetan format kalimat ..تام ..tam..sempurna ..موجب..mujab..positive…ناقص…naqis ..kurang/gak sempurna…نفي….nafyi…menyangkal atau negative..kami coba jelas;an secara singkat…pertama pengecualian dengan kata illa مستثنى بالا….kalau kalimatnya taam dan mujab..sempurna dan positive…maka harkat yang di kecualikannya harus nasab فالمستثنى بالاينصب اذا كان الكلام تاما موجبا….contoh قام القوم الا زيدا…qoma alkaomu illa zaedan berdirilah orangorang kecuali zaed …contoh lain باك الناس الا عمرا…baka annasu illa amron….menangislah orangorang kecuali umar..kata zaedan dan amron harkatnya nasab karena datang sesudak alat pengecualian kata (الا illa) dan kalimatnya taam dan mujab…disini aku ceritakan apa itu taam…apa itu mujab…kaliamt taam (sepurna) adalah kalimat yang sudah ada rangkaiannya..kalau fiil sudah ada failnya ..kalau mubtada sudah ada khobarnya..subject sudah ada objectnya.dalam contoh tadi قام qoma ..berdiri(fiil/kata kerja) القوم…alkaomu..orang orang (fa’il/yang mengerjakan) الا..illa..kecuali>>huruf alat istisna ..ادهوات..alat pengecualian …زيدا..zaedan ..yang di kecualikan….ini gambaran taam…..dan apa itu mujab موجب…positive ..bukan kalimat negative.

Ada juga kalimat تام tam..sempurna…tapi ..منفي…manfi ..negative..contoh ماقام القوم الا زيدا…ma qoma alkaomu illa zaedan..tidak berdiri manusiamanusia kecuali zaed..nah kata tidak di depan menunjukan kata negative…dalam keadaan seperti ini pengecualian pakai kata الا illa…hukumyang berlaku menuruti awamil..atau aturan yang ada ..dalam arti kalau yang di kecualikan posisinya jadi fa’il فاعل maka harkatnya harus rofa’ ..kalau jadi maf’ulbih  مفعول به harkatnya harus nasab..dan kalau di masukin huruf jar حرف جر ..maka harkatnya harus kasroh..contoh yang rofa’ …ماقام ال زيد …ma qoma illa zaedun..tidak berdiri kecuali zaed..kata zaedun rofa’ sebab jadi fa’il dari kata qoma yang di dahului negative..kata ما ma…contoh yang nasab..ما ضربت الا زيدا..ma dorobtu illa zaedan..saya tidak mukul kecuali kepada zaed…kata zaedan..jadi maf’ulbih مفعول به ..dari fi’il dan fa’il kata dorobtu..yang di dahului huruf negative..ما ma..harkatnya nasab karena maf’ulbih sebagian dari isim mansubat…contoh yang kasroh…مامررت الا بزيد…ma marortu illa bizaedin..saya tidak melewat kecuali pada zaed..kata بزيد bizaedin..di dahului huruf jar ya itu ب ba..maka harkatnya harus kasroh..dibaca bizaedin.

Seterusnya  dari huruf istisna adalah goeru غير..selain..عاد..aa’da..selain..سوى ..siwa..selain.خال ..hola..حاشى…hasa..dsb.. Nah kalimat yang di kecualikan pakai salah satu yang di atas ini harkatnya harus kasroh…contoh ..قام القوم غير زيد…koma alkaomu goeru zaedin…orangorang berdiri selain zaed…kata zaedin harus kasrah karena berada di belakang alat pengecualian kata goeru غير…contoh lagi..ذهب القوم عاد عمر …dzahaba alkaomu aa’da amrin….kata amrin harkatnya harus kasrah sebab ada sesudak alat pengecualian kata عاد..aa’da….dan begitu juga yang lainnya. ..tapi bagi…hola..haasa..bisa dua jalan bisa juga nasab..contoh خال زيدا..hola zaedan…dan خال زيد…hoola zaedin…begitu juga haasa.

                                BAB ISIM LA بان لا لنفي الجنس

La لا ..yang di maksud di sini .adalah kata menyangkal لا لنفي الجنس..

RATIB AL HADDAD

Doa sebelum membaca Ratib Al-Haddad

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim

Alhamdulillaahi rob-bil 'aalamiin, Allahumma sholli wasallim 'alaa sayyidina muhammadin,

wa 'alaa aali sayyidina Muhammad,sub-haana rob-bika robbil 'izzati 'amma yasifuun

wa salaamun 'alal mursaliin. wal hamdu lillaahi robbil 'aalamiin

Innallooha wa malaa-ikatahu yusholluuna 'alan-nabiy

yaa ay yuhal-ladziina aamanuu,sholluu 'alaihi wasallimuu tasliimaa.

Ash-sholaatu wassalaamu 'alaika yaa sayyidil mursaliin..

Ash-sholaatu wassalaamu 'alaika yaa khootaman nabiyyin..

Ash-sholaatu wassalaamu 'alaika yaa man arsalakalloohu rohmatal lil 'aalamiin

Wasallim wa rodhiyalloohu ta'aala, 'an ash-haabi rosuulillaahi ajmaiin. Aamiin…3X

Alfaatihata lishoohibi haadzaa rootib, wa-ilaa hadlrotin nabiyyi sayyidina Muhammadin
shollalloohu 'alaihi wasallam, Al-Faatihah

لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ,لَهُالْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Tiada Tuhan selain Allah Maha Tunggal dan tiada sekutu bagi Nya, bagi Nya Kerajaan, bagi Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mewafatkan dan Dia atas segala sesuatu berkuasa
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ الله وَاللهُ اَكْبَرُ
Maha Suci Allah, Segala Puji bagi Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar
سُبْحَانَ اللهِ وَبِِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Maha Suci Allah dan bagi Nya segala puji, Maha Suci Allah Yang Maha Agung
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّ ابُ الرَّحِيْمُ
Wahai Tuhan kami ampunilah kami dan limpahkanlah taubat kepada kami, sungguh Engkau adalah Maha Menerima taubat dan Maha Berkasih Sayang
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحّمَّدٍ.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
Wahai Allah limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad saw, wahai Allah limpahkanlah shalawat atasnya beserta limpahan salam.
اَعُوْذُبِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّمَاخَلَقَ
Aku berlindung dengan keagungan kalimat Allah swt Yang Maha Abadi dari segala apa-apa ciptaannya.
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرَّمَعَ اسْمِهِ شَئٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Dengan nama Allah yang tiada akan membawa mudharat atau kecelakaan jika menyebut nama Nya, jika bersama nama Nya segala sesuatu dilangit dan bumi. Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui
رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلاِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍنَبِيًّا
Kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan kami dan Islam sebagai agama kami dan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi kami
بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرِوَالشَّرِّ بِمَشِيْئَةِ اللهِ
Dengan nama Allah dan segala puji milik Allah, dan segala kebaikan dan keburukan adalah dengan kehendak Allah

آمَنَّابِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ, تُبْنَا اِلَى اللهِ بَا طِنًا وَظَاهِرًا
Kami beriman kepada Allah di hari kiamat dan kami bertaubat kepada Allah swt dzahir dan batin
يَارَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا. وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا
Wahai Tuhan kami maafkanlah kesalahan-kesalahan dari kami dan hapuskanlah apa-apa yang ada dari kami dari dosa dan kesalahan

ياَذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ. اَمِتْنَا عَلَىدِيْنِ اْلاِسْلاَمِ
Wahai Yang Maha memiliki kebesaran dan kemuliaan wafatkan kami kedalam dienul Islam (agama Islam)
ياَ قَوِيُ يَامَتِيْنُ. اِكْفِشَرَّاظَّا لِمِيْنَ
Wahai Yang Maha Kuat dan Wahai Yang Maha Menguasai kekuatan jagalah kami dari kejahatan orang-orang yang dzalim
اَصْلَحَ اللهُ اُمُوْرَالْمُسْلِمِيْنَ. صَرَفَ اللهُ شَرَّالْمُؤْذِيْنَ
Semoga Allah swt memperbaiki keadaan orang-orang muslimin dan Allah swt meninggalkan kejahatan-kejahatan orang-orang yang mengganggu muslimin
ياَعَلِيُّ يَا كَبِيْرُ يَاعَلِيْمُ يَاقَدِيْرُ يَاسَمِيْعُ يَابَصِيْرُ يَالَطِيْفُ يَاخَبِيْرُ
Wahai Yang Maha Tinggi, Wahai Yang Maha Agung Kebesarannya, Wahai Yang Maha Mengetahui, Wahai Yang Maha Menentukan, Wahai Yang Maha Mendengar, Wahai Yang Maha Melihat, Wahai Yang Maha Berlemah-lembut, Wahai Yang Maha Mengetahui segala keadaan
يَافَارِجَ الْهَمِّ يَاكَاشِفَ الْغَمِّ يَامَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرْ وَيَرْحَمُ
Wahai Yang  Maha Menyingkirkan dan menyelesaikan segala kesulitan dan kegundahan, Wahai Yang Maha Menghapuskan segala keluhan hati, Wahai Yang Mengampuni dan mengasihani hamba-hamba Nya
اَسْتَغْفِرُاللهَ رَبَّ الْبَرَايَا, اَسْتَغْفِرُاللهَ مِنَالْخَطَايَا
Aku mohon pengamunan dari Allah swt Tuhan seluruh manusia dan Aku memohon pengapunan dari Allah swt dari segala dosa-dosa
لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ. وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ اَهْلِ بَيْتِهِ الْمُطَهِّرِيْنَ وَاَصْحَابِهِ الْمُهْتَدِيْنَ وَالتَّا بِعِيْنَ لَهُمْ بِااِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِالدِّ يْنِ
Dan segala kemuliaan dan segala keluhuran dan segala hal yang terpuji dan keagungan atas Allah swt atas Baitin Nabi saw yang suci dan sahabat-sahabatnya yang dilimpahi hidayah dan para pengikutnya dari Tabiin yang mengikuti Nabi, Ahlul Bait dan sahabatnya dengan bimbingan-bimbingan mulia samapi hari kebangkitan.

Kemudian Membaca :

Surah Al Ikhlas, Surah Al Falaq, Surah Annas

Keutamaan Surat al-Fatihah
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, Penguasa hari pembalasan, Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu
kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jalan mereka yang telah Engkau beri kenikmataan.
Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad mengawali susunan dzikir ratibnya yang mulia ini dengan surat al-
Fatihah, surat pilihan dari surat-surat yang ada dalam al-Quran yang memiliki keagungan, rahasia dan keutamaan yang
tidak dapat dibandingkan dengan surat-surat yang ada dalam al-Quran, bahkan dengan keseluruhan ayat-ayat Allah
yang pernah diturunkan kepada segenap Nabi-nabi-Nya.
Diriwayatkan bahwa seorang kaisar melayangkan surat kepada amirul mu`minin Umar bin Khaththab ra, dalam
suratnya ia bertanya, “Kami dapati dalam Injil bahwa barangsiapa membaca surat yang di dalamnya tidak terdapat
tujuh huruf, yaitu : tsa, kha, zha, fa, zay, jim dan syin, maka Allah mengharamkan jasadnya dari siksa api neraka, dan
kami telah cari dalam kitab Zabur dan Taurat akan tetapi kami tidak menemukannya. Apakah surat tersebut terdapat
dalam kitab kalian?” kemudian Sayyidina Umar bin Khaththab mengumpulkan para sahabat dan memberitahukan hal
ini. Maka berkata kepada beliau Sayyidina Ubay bin Ka`ab ra, “Surat itu adalah al-Fatihah.” Kemudian dijawablah surat
sang kaisar dan akhirnya dia pun memeluk Islam.
Al-Imam Abu Su`ud bin Muhammad al-Imadiy dalam tafsirnya menyebutkan sebuah riwayat tentang surat al-Fatihah
yang agung, dari Hudzaifah al-Yamani, telah bersabda Rasulullah saw, “..bahwasanya Allah menimpakan adzab yang
sangat pedih kepada suatu kaum, maka salah seorang anak dari anak-anak pada kaum itu membaca al-Fatihah dan
Allah swt mendengarnya, maka Dia mengangkat adzab dari kaum tersebut selama empat puluh tahun berkat bacaan
mulia tersebut.

Keutamaan Ayat Kursi
“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Dzat yang Maha Kekal dan senantiasa mengurus (makhluk-
Nya), Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi
syafaat di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka,
sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah
(Kekuasaan Allah) meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Dan Allah Maha Tinggi
lagi Maha Besar.”
Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi bahwa barangsiapa membaca ayat kursi disaat akan berbaring tidur, maka Allah
memberikan keamanan pada dirinya, tetangganya dan rumah-rumah disekitarnya.
Diriwayatkan pula bahwa tidak dibacakan ayat kursi di suatu rumah kecuali setan akan pergi dari rumah tersebut selama tiga puluh
hari dan tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut pengaruh ahli sihir laki-laki maupun perempuan selama empat puluh hari.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap selesai dari shalatnya
maka tidak ada lagi jarak antara dia dengan surga kecuali maut, dan barangsiapa yang membacanya ketika akan tidur
maka dia akan berada di dalam lindungan Allah dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi hari.”

Keutamaan Ayat Amanah Rasul saw

“Rasul saw telah beriman pada al-Quran yang diturunkan dari Tuhannya. Demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya
beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, (mereka mengatakan), “Kami tidak
membeda-bedakan diantara para Rasul-Nya”, dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat, (mereka berdoa),
“Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepadamulah tempat kembali.” Allah tidak membebani seseorang melainkan yang
sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa
atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami, jangan Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau
bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak
sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah
kami atas orang-orang kafir.”
Diriwayatkan dari Sayyidina Abi Mas`ud al-Anshari dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Dua
ayat terakhir dari surat al-Baqarah, barangsiapa membaca keduanya di malam hari maka (cukuplah) baginya kedua
ayat tersebut melindunginya (dari segala keburukan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, ketika Jibril sedang bersama Rasulullah saw, ia mendengar pintu yang
berbunyi di atas kepalanya, kemudian ia mengangkat kepalanya lalu berkata, “Ini adalah suara sebuah pintu di surga
yang tidak pernah dibuka.” kemudian satu Malaikat turun dan Jibril kembali berkata, “Ia adalah Malaikat yang tidak
pernah turun ke bumi.” Kemudian Malaikat tersebut memberi salam seraya berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya
yang diberikan kepadamu yang belum pernah diberikan kepada para Rasul sebelummu, yaitu surat al-Fatihah dan dua
ayat terakhir dari surat al-Baqarah, engkau akan mendapat manfaat yang sangat besar setiap kali engkau
membacanya.”

Dzikir pertama

لاِلَهَ اِلّالُ وَحْدَهُ لَشَرِيْكَ لَهُ,لَهُالْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (X3 )

“Tiada Tuhan selain Allah yang Esa, Tiada sekutu bagi-Nya, Tuhan yang memiliki kerajaan dan bagi-Nya segala pujian.
Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (3 kali)
Dalam kitab al-Adzkar karya Imam Nawawi disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan la
ilaha illallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu wahuwa ala kulli syain qadir, maka
baginya pahala memerdekakan budak dari anak keturunan Ismail, tertulis baginya sepuluh kebaikan, terhapus baginya
sepuluh kesalahan, terangkat baginya sepuluh derajat, dan ia akan terjaga dari godaan setan hingga sore hari, apabila
ia mengucapkannya pada sore hari, maka ia akan terjaga hingga pagi hari.”
Diriwayatkan dalam hadits bahwa barangsiapa memerdekakan budak dari anak keturunan Ismail, maka ia bagaikan
memerdekakan dua belas budak selain dari anak keturunan Ismail.
Ketahuilah barangsiapa mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagaimana telah ditartibkan dalam ratib ini, maka
baginya pahala memerdekakan tiga budak dari anak keturunan Ismail, yang berarti tiga puluh enam budak selain dari
anak keturunan Ismail. Dan tertulis baginya tiga puluh kebaikan, terhapus baginya tiga puluh kesalahan dan terangkat
baginya tiga puluh derajat.
Diriwayatkan pula bahwa Allah swt memerhatikan orang yang mengucapkan dzikir tersebut. Dan sesungguhnya dzikir
tersebut adalah sebaik-baik kalimat yang pernah diucapkan Nabi saw dan para Nabi sebelumnya.
Ketahuilah bahwa dzikir pertama dalam ratib ini adalah dzikir yang paling mulia diantara dzikir-dzikir yang ada pada
ratib ini, dan kami tidak memperpanjang penjelasannya. Cukuplah kiranya keutamaan dzikir ini adalah sebaik-baik
kalimat yang pernah diucapkan oleh Nabi saw dan para Nabi sebelumnya, dan Allah swt memerhatikan orang yang
mengucapkannya. Barangsiapa diperhatikan Allah, niscaya ia akan selamat dari siksa-Nya.

Dzikir kedua

سُبْحَانَ الِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَل اِلَهَ اِلّ ال وَالُ اَكْبَر (X3 )

“Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.” (3 kali)
Adapun dzikir kedua dalam ratib ini adalah termasuk dari al-Baqiyatush shalihat (amalan-amalan yang kekal lagi
shalih), sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih, betapa agung, sempurna dan mulianya pujian Allah terhadap
dzikir yang disebut sebagai al-Baqiyatush shalihat. Allah swt berfirman :
“Dan amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi
harapan.”
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya mengucapkan subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar
lebih aku cintai daripada terbitnya matahari.”
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian melewati taman-taman surga maka nikmatilah!” Salah seorang
sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah taman-taman surga itu?” Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah
walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar.”
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw melewati sebuah pepohonan yang gersang daunnya. Kemudian
Beliau saw memukul pohon tersebut dengan tongkatnya sehingga daunnya jatuh berguguran. Kemudian Beliau saw
berkata, “Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Bergugurlah dosa
seorang hamba seperti bergugurnya daun-daun ini dari pohonnya.”
Shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata dalam salah satu nasehatnya bahwa dari berbagai dzikir
yang ada diantaranya yang paling utama dan paling banyak kumpulan dzikirnya adalah dzikir tersebut di atas.
Rasulullah saw bersabda, “Aku berjumpa dengan Ibrahim as pada malam aku di isra`kan. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai
Muhammad, sampaikanlah salamku kepada umatmu. Beritahulah kepada mereka bahwa surga tanahnya sangat subur,
airnya sangat jernih dan tanaman-tanamannya adalah subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar’.”
Dalam hadits lain Beliau saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan keempat kalimat ini, maka baginya dari setiap
kalimat satu pohon di surga.”
Disebutkan dalam kitab “Mujibati Rahmat” karya Imam ar-Raddad bahwa suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada
para sahabatnya, “Persiapkanlah senjata kalian!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa musuh yang telah
datang?” Rasulullah saw menjawab, “Bukan itu, akantetapi senjata kalian dari api neraka. Ucapkanlah subhanallah
walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar, sesungguhnya kalimat tersebut akan menjauhkan dan mencegah
seseorang dari api neraka kelak di hari kiamat, dan kalimat tersebut merupakan al-Baqiyatush shalihat.”
Disebutkan dalam kitab “Safinah” karya Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi bahwa empat kalimat, yaitu subhanallah
walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar, tidak mengapa anda mengucapkannya dengan kalimat yang ingin
anda dahulukan. Dan subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar adalah sebaik-baik kalimat setelah
al-Quran, dan ia berasal dari al-Quran serta menggantikan kedudukan al-Quran bagi yang tidak dapat membacanya.
Barangsiapa mengucapkannya, maka tertulis baginya dari setiap huruf sepuluh kebaikan.
Jika anda memahaminya, sesungguhnya kalimat subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar terdiri
dari empat puluh huruf. Dan jika anda membacanya sebanyak tiga kali sebagaimana yang telah ditartibkan dalam ratib
ini, maka akan tertulis bagi anda seribu dua ratus kebaikan.
Dalam kitab “al-Muhadzab” disebutkan bahwa Rasulullah saw suatu ketika bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa dari
kalian yang dapat beramal setiap harinya suatu amalan yang besarnya seperti gunung Uhud?” Para sahabat bertanya,
“Siapa yang dapat wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Kalian semua dapat.” Para sahabat bertanya, “Amalan
apakah itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah lebih mulia dari gunung Uhud, walhamdu lillah lebih
mulia dari gunung Uhud, wala ilaha illallah lebih mulia dari gunung Uhud dan wallahu akbar lebih mulia dari gunung Uhud.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dari Ka`ab bahwa sesungguhnya Allah swt memilih satu kota dari beberapa kota, dan Ia
memilih Makkah, memilih bulan dari seluruh bulan, dan Ia memilih bulan hurum (mulia), memilih satu bulan dari bulan
hurum, dan Ia memilih Dzul Hijjah, dan memilih hari dari bulan Dzul Hijjah, dan Ia memilih sepuluh hari pertamanya, dan
memilih satu hari dari seluruh hari, dan Ia memilih hari Jumat, dan memilih waktu yang ada pada siang dan malam, dan Ia
memilih waktu-waktu shalat, dan memilih kalimat dari kalimat-kalimat yang ada, dan Ia memilih empat kalimat, yaitu Allahu
akbar, subhanallah, wala ilaha illallah, walhamdu lillah. Barangsiapa mengucapkan Allahu akbar maka tertulis baginya dua
puluh kebaikan dan terhapus baginya dua puluh kesalahan, barangsiapa mengucapkan subhanallah maka tertulis
baginya dua puluh kebaikan dan terhapus baginya dua puluh kesalahan, barangsiapa mengucapkan la ilaha illallah maka
tertulis baginya dua puluh kebaikan dan terhapus baginya dua puluh kesalahan, dan barangsiapa mengucapkan alhamdu
lillah maka tertulis baginya tiga puluh kebaikan dan terhapus baginya tiga puluh kesalahan.
Disebutkan dalam kitab “Ihya` Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali, Zaid bin `Asham meriwayatkan dari Anas bin Malik
bahwa suatu ketika sekelompok kaum fakir miskin mengutus salah seorang dari mereka menjumpai Rasulullah saw.
Utusan tersebut berkata, “Aku adalah seorang utusan yang diutus oleh kaum fakir miskin untuk menjumpaimu.”
Rasulullah berkata, “Selamat datang, engkau datang dari sekelompok kaum yang kucintai.” Utusan tersebut kemudian
berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka orang-orang kaya dapat bepergian untuk melaksanakan kebaikan,
mereka dapat menunaikan ibadah haji sedangkan kami tidak, mereka dapat menunaikan ibadah umrah sedangkan
kami tidak. Dan jika mereka sakit, mereka dapat berbuat apa saja demi kebaikan mereka.” Kemudian Rasulullah saw
berkata kepada utusan itu, “Sampaikanlah dariku kepada kaum fakir miskin bahwa barangsiapa dari kalian bersabar
dan ikhlas, maka ia akan mendapatkan tiga keuntungan yang tidak akan didapatkan oleh orang-orang kaya. Pertama,
di surga terdapat suatu tempat yang mana penduduk surga memandanginya sebagaimana penduduk bumi
memandang bintang yang ada di langit. Tidak seorangpun masuk ke dalamnya kecuali Nabi yang fakir atau syahid
yang fakir atau mukmin yang fakir. Kedua, kaum fakir masuk ke dalam surga setengah hari lebih dahulu dari orangorang
kaya, dan setengah hari tersebut adalah lima ratus tahun lamanya. Ketiga, jika kaum fakir mengucapkan
subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar, dan orang-orang kaya mengucapkannya pula, maka
orang-orang kaya tidak dapat menandingi kaum fakir.” Utusan tersebut kemudian kembali dan menyampaikan apa yang
telah dikatakan oleh Rasulullah saw untuk kaumnnya. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw
melalui utusan tersebut, merekapun berkata, “Kami rela.. kami rela..”

Dzikir ketiga

سُبْحَانَ الِ وَبِِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الِ الْعَظِيْمِ (X3 )

“Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.” (3 kali)
Diriwayatkan oleh at-Turmudzi bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan subhanallah wa bihamdihi
maka akan ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga.”
Ketahuilah barangsiapa mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagaimana yang telah ditartibkan dalam ratib ini, maka
akan ditanamkan baginya tiga pohon kurma di surga.
Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada para sahabatnya, “Ucapkanlah
subhanallah wa bihamdihi sebanyak seratus kali. Barangsiapa mengucapkannya satu kali maka tertulis baginya
sepuluh kebaikan, barangsiapa mengucapkannya sepuluh kali maka tertulis baginya seratus kebaikan, barangsiapa
mengucapkannya seratus kali maka tertulis baginya seribu kebaikan, barangsiapa menambahnya maka Allah pun akan
menambahnya, dan barangsiapa memohon ampun, niscaya Allah akan mengampuninya.”
Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua kalimat yang ringan bagi lisan untuk
mengucapkannya, berat ketika diletakkan di atas mizan (timbangan di akhirat), dan sangat dicintai oleh Dzat yang
Maha Pengasih, yaitu subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.”
Disebutkan dalam kita “Ghayatul Qashd Wal Murad” bahwa al-Arif billah Sayyid Hasan putra shahibu ratib al-Habib
Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, “Empat puluh hari menjelang wafat ayahku dan ia dalam keadaan sakit, yang
paling banyak beliau ulang-ulang adalah dzikir tersebut.”
Dalam kitab “Syarhul Washiyah” diterangkan sebuah hadits mengenai keutamaan dzikir subhanallah wa bihamdihi.
Dikatakan bahwa kalimat subhanallah wa bihamdihi adalah kalimat yang sangat dicintai Allah swt dan merupakan
kalimat yang paling utama dari kalimat-kalimat lainnya. Barangsiapa mengucapkannya maka akan tertulis baginya
seratus dua puluh empat ribu kebaikan, dan kalimat tersebut lebih dicintai Allah swt daripada bersedekah di jalan Allah
dengan emas sebesar gunung Uhud, dan Allah akan menghapus dosa orang yang mengucapkannya walau dosa orang
tersebut lebih banyak daripada buih yang ada di lautan.
Ketahuilah barangsiapa yang mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagaimana yang telah ditartibkan dalam ratib ini,
maka akan tertulis baginya tiga ratus tujuh puluh dua ribu kebaikan.
Dalam musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa ketika menjelang ajal Rasulullah saw, Beliau memanggil putrinya dan
berkata, “Aku perintahkan engkau agar selalu mengucapkan subhanallah wa bihamdihi, karena kalimat tersebut
merupakan doa seluruh makhluk dan dengan kalimat itulah semua makhluk mendapat limpahan rezeki.”
Abu Dzar berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw amal apakah yang paling dicintai Allah swt. Beliau menjawab,
‘Yang telah dipilih Allah untuk para Malaikat-Nya, yaitu subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.”
Diriwayatkan dalam “Shahih Bukhari” bahwa suatu ketika datang seorang lelaki mengeluhkan keadaannya kepada
Rasulullah saw. Ia berkata, “Dunia ini telah berpaling dariku dan yang telah kuperoleh dari tanganku sangatlah sedikit.”
Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak pernah membaca doanya para Malaikat dan tasbihnya
seluruh makhluk yang dengan itu mereka mendapat limpahan rezeki?” Lelaki itu bertanya, “Doa apakah itu wahai
Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim, dan beristighfarlah kepada
Allah sebanyak seratus kali diantara waktu terbitnya fajar hingga menjelang waktu shalatmu, dengan itu dunia akan
tunduk dan merangkak mendatangimu, dan Allah menciptakan dari setiap kalimat tersebut Malaikat yang selalu
bertasbih kepada Allah hingga hari kiamat dan untukmu pahalanya.”

Dzikir keempat

رَبّنَا اغْفِرْلَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا اِنّكَ اَنْتَ التّوّ ابُ الرّحِيْمُ (X3 )

“Ya Allah, ampunilah kami dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (3 kali)
Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan Abu Daud dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw membaca dan mengulang-ulang
dzikir tersebut sebanyak seratus kali sebelum berdiri dari setiap majelisnya.
Allah swt berfirman :
“Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah,
niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima
Taubat.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa banyak beristighfar, niscaya Allah akan membebaskannya dari segala
kesusahan, memberinya jalan keluar dari setiap kesulitan dan memberinya rezeki dengan tanpa disangka-sangka.”
Walaupun sudah pasti Rasulullah saw adalah manusia suci yang segala dosa-dosanya diampuni Allah swt, akan tetapi
setiap harinya Beliau senantiasa beristighfar memohon ampun kepada Allah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak
tujuh puluh kali.”
Disebutkan dalam kitab “Ihya` Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak meletakkan
seorang hamba kepalanya bersujud kepada Allah dan mengucapkan ‘Tuhanku ampunilah aku’ sebanyak tiga kali
kecuali ketika ia mengangkat kepalanya Allah swt telah mengampuninya.”
Dalam kitab “Syarah al-Hikam” diceritakan bahwa ada seorang lelaki dari Bani Israil yang gemar melakukan perbuatan
dosa. Suatu hari ketika ia sedang berjalan, ia teringat akan dosa-dosa yang dahulu pernah ia lakukan. Kemudian ia
berkata, “Ya Allah ampunilah aku”, dan ia mati dalam keadaan tersebut, dan Allah pun mengampuninya.
Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba berbuat dosa dan ia berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku’, maka Allah
akan berkata, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa dan ia tahu bahwa ada Tuhan yang menhukum karena perbuatan dosa
dan memberi ampun. Duhai hamba-Ku, lakukanlah sesukamu karena Aku telah mengampunimu’.”

Dzikir kelima

اَللّهُمّ صَلّ عَلَى مُحّمّدٍ.اَللّهُمّ صَلّ عَلَيْهِ وَسَلّمْ (X3 )

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada Muhammad.” (3 kali)
Mengenai keutamaan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw sesungguhnya telah banyak disebutkan dalam al-
Quran dan hadits-hadits Nabi saw. Dan cukuplah kiranya dari keutamaan tersebut adalah bahwa shalat, khutbah jumat
dan lain sebagainya tidak menjadi sah apabila tidak ada shalawat dan salam kepada Nabi saw di dalamnya. Akantetapi
kami akan tetap menyebutkan sedikit dari keutamaan tersebut dengan harapan mendapat berkah darinya.
Allah swt berfirman :
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah
kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”
Diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi saw datang dengan wajah yang berseri-seri, kemudian Beliau saw berkata, “Telah datang
kepadaku Jibril as dan ia berkata, ‘Tuhanmu berkata : Wahai Muhammad, tidakkah engkau rela apabila salah seorang dari
umatmu bershalawat kepadamu sekali maka Aku bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali. Dan tidak bersalam
salah seorang dari umatmu kepadamu sekali kecuali Aku bersalam (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali?’.”
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku maka para Malaikat akan
bershalawat (memohon ampun) untuknya selama ia bershalawat kepadaku. Maka dalam keadaan tersebut ucapkanlah
(bershalawatlah) sedikit atau sebanyak mungkin.
Disebutkan dalam kitab “Ihya` Ulumuddin, al-Qirthas dan al-Mughnim” bahwa Nabi saw bersabda, “Wahai Aba Kaahil,
sesungguhnya barangsiapa bershalawat kepadaku sebanyak tiga kali setiap harinya karena rasa cinta dan rindu
kepadaku, maka berhak bagi Allah untuk mengampuni dosa-dosanya pada malam itu dan hari itu.”
Sebuah riwayat mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt menugaskan Malaikat yang dapat
mendengar suara seluruh makhluk berjaga di kuburku. Tidak seorang pun yang bershalawat kepadaku hingga hari kiamat
kecuali akan disampaikan kepadaku namanya dan nama ayahnya, fulan bin fulan telah bershalawat kepadamu.”
Diriwayatkan pula bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali maka akan dikabulkan
untuknya seratus hajat.”
Riwayat lain menyebutkan, “Bershalawat kepadaku dapat mencegah kefakiran (kemiskinan).”
Riwayat lain mengatakan, “Setiap sesuatu ada pensucinya, dan pensuci hati orang-orang yang beriman dari kotorankotoran
dosa adalah shalawat kepada Nabi saw.”
Abdullah bin Umar berkata, “Barangsiapa bershalawat kepada Nabi saw sekali, maka Allah dan para Malaikat-Nya
akan bershalawat kepadanya sebanyak tujuh puluh kali.”
Disebutkan dalam kitab “al-Mustathraf” bahwa Nabi saw bersabda, “Suatu hari datang kepadaku Jibril as dan berkata,
‘Wahai Muhammad, aku datang memberi kabar gembira yang belum pernah diberikan kepada para Nabi sebelummu.
Allah swt berkata kepadamu, barangsiapa dari umatmu bershalawat kepadamu sebanyak tiga kali maka Allah
mengampuninya. Jika ia mengucapkannya sewaktu berdiri maka Allah mengampuninya sebelum duduk. Dan jika ia
mengucapkannya sewaktu duduk maka Allah mengampuninya sebelum berdiri’.” Setelah mendengar berita gembira ini
Beliau saw langsung bersujud syukur kepada Allah.
Oleh karena itu shahibu ratib menjadikan shalawat dan salam kepada Nabi saw dalam ratibnya sebanyak tiga kali tidak
lain adalah agar pembacanya mendapatkan keutamaan yang terdapat dalam hadits ini dan hadits sebelumnya yang
diriwayatkan dari Aba Kaahil.
Disebutkan dalam kitab “Syarful Musthafa” dari Muqaatil bin Sulaiman sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Allah swt
menciptakan Malaikat di bawah arsy yang di kepalanya terdapat jambul. Tidak sehelai pun dari rambut yang ada di
kepalanya kecuali tertulis la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Jika salah seorang hamba bershalawat kepada Nabi saw
maka tidak tersisa sehelai pun dari rambut yang ada di kepalanya kecuali memintakan ampun untuk seorang hamba yang
bershalawat.
Rasulullah saw bersabda, “Dimana pun kalian berada bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya shalawat kalian
sampai kepadaku.” (HR. Thabrani)
Salah seorang ulama bercerita, “Dahulu aku menulis hadits dan mencamtumkan shalawat kepada Nabi saw tanpa salam.
Kemudian dalam tidurku aku mimpi bertemu Nabi saw dan Beliau berkata kepadaku, ‘Tidak sempurna shalawat yang ada
dalam bukumu’. Setelah kejadian itu tidak kucantumkan shalawat dalam bukuku kecuali kucantumkan pula salam
menyertainya.”
Diriwatkan bahwa tertulis pada tiang-tiang arsy, “Barangsiapa rindu kepada-Ku niscaya ia Ku-rahmati, barangsiapa
meminta kepada-Ku niscaya ia Ku-beri, barangsiapa mendekat kepada-Ku dengan bershalawat kepada Muhammad
saw niscaya Ku-ampuni dosa-dosanya walaupun dosa-dosanya bagaikan buih pada lautan.”
Sebagian sahabat meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Tidak dari suatu majelis yang terdapat di dalamnya
shalawat kepada Nabi saw kecuali keluar darinya aroma harum yang sampai ke atas langit. Dan berkatalah para
Malaikat, “Ini adalah aroma majelis yang terdapat di dalamnya shalawat kepada Nabi saw’.”
Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Jika telah tiba hari kamis maka Allah mengutus Malaikat
yang bersamanya buku-buku yang terbuat dari perak dan pena-pena yang terbuat dari emas untuk mencatat manusia
yang banyak bershalawat kepada Nabi saw pada hari kamis dan malam jumat.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepada Nabimu pada
malam al-Gharra dan hari al-Azhar, yaitu malam jumat dan hari jumat.” Sebagian perawi menambahkan dari Umar bin
Khaththab, “…sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku dan aku mendoakan kalian serta memintakan ampun
kepada Allah untuk kalian.”
Abi Hurairah berkata, “Barangsiapa takut lupa hendaknya ia memperbanyak shalawat kepada Nabi saw.”
Ali bin Abi Thalib kwh berkata, “Jika aku tidak takut lupa akan dzikir kepada Allah swt maka aku tidak akan
mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan shalawat kepada Nabi saw.”
Ats-Tsa`labi berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki makhluk di belakan gunung Qaaf, tidak ada yang mengetahui
jumlah mereka kecuali Allah, dan mereka tidak memiliki amal ibadah kecuali bershalawat kepada Nabi saw.”

Dzikir keenam

اَعُوْذُبِكَلِمَاتِ الِ التّامّاتِ مِنْ شَرّمَاخَلَقَ (X3 )

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala kejahatan apa-apa yang diciptakan-Nya.” (3 kali)
Dalam kitab “al-Adzkar” karya Imam Nawawi disebutkan bahwa suatu ketika datang seorang lelaki kepada Rasulullah
saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam aku tersengat kalajengking.” Kemudian Rasulullah saw berkata
kepada lelaki tersebut, “Jika engkau di waktu petang mengucapkan audzu bikalimatillahit taammati min syarri ma
khalaq maka tidak akan ada yang membahayakanmu.”
Dalam kitabnya Ibnu Sunni mengatakan, “Barangsiapa mengucapkannya sebanyak tiga kali maka tidak akan ada
sesuatu yang membahayakannya.”
At-Turmudzi meriwayatkan, “Barangsiapa mengucapkannya sebanyak tiga kali maka ia tidak akan terserang penyakit
panas pada malam itu.”
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu petang maka tidak akan
ada sesuatu yang akan membahayakannya hingga pagi hari, dan barangsiapa yang mengucapkannya di waktu pagi
hari maka tidak ada sesuatu yang akan membahayakannya hingga petang.”
Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Adzkar” menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dalam shahih muslim, al-
Muwaththa`, at-Turmudzi dan lain-lainnya sebuah riwayat dari Khaulah binti Hakim ra. Ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa singgah di suatu tempat (rumah) dan mengucapkan audzu bikalimatillahit taammati
min syarri ma khalaq maka tidak ada sesuatu yang akan membahayakannya hingga ia meninggalkan tempat (rumah) itu’.”
Hendaknya seorang ayah selalu membiasakan putra-putrinya untuk selalu membaca dzikir tersebut. Habib Hasan dan
ayah beliau shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad selalu mengajarkan dan membiasakan anak-anak
mereka untuk selalu mengucapkan dzikir tersebut setiap malam.

Dzikir ketujuh

بِسْمِ الِ الّذِيْ لَيَضُرّمَعَ اسْمِهِ شَئٌ فِى اْلَرْضِ وَلَفِى السّمَاءِ
وَهُوَالسّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (X3 )

“Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya itu tidak ada sesuatu pun yang dapat mendatangkan bahaya di bumi dan
di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (3 kali)
Disebutkan dalam kitab “al-Adzkar” bahwa terdapat dalam kitab “Sunnah at-Turmudzi” sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Utsman ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang hamba mengucapkan di pagi hari setiap hari dan di
petang hari setiap malam bismillahil ladzi la yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi wala fis samai wahuwa samiul alim
maka tidak akan ada sesuatu apa pun yang akan membahayakannya.”
Disebutkan dalam kitab “Tashilul Manafi” karya al-Azraq dan diriwayatkan pula dalam kitab-kitab pengobatan dari Anas bin
Malik bahwa suatu ketika datang salah seoran Arab kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku
merasakan sakit pada lambungku sehingga sulit untuk makan dan minum. Berdoalah kepada Allah agar menyembuhkan
penyakitku.” Kemudian Rasulullah saw berkata kepadanya, “Apabila engkau memakan makanan atau meminum
minuman maka ucapkanlah bismillahil ladzi la yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi wala fis samai wahuwa samiul alim,
sesungguhnya dengan dzikir tersebut tidak ada penyakit yang akan membahayakanmu walau sebesar apapun.”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Ali al-Hanafi dalam kitabnya “Syarah al-Lum`ah al-Buniyah” menceritakan
bahwa Abi Darda` memiliki seorang pelayan wanita yang meracuni makanannya selama empat puluh hari. Akantetapi
racun tersebut tidak membahayakannya karena ia selalu membaca dzikir tersebut.
Diceritakan pula oleh Ibnu Zhafar dalam kitab “an-Nashaih” bahwa pelayan tersebut bertanya kepada Abi Darda`, “Termasuk
jenis makhluk apakah engkau ini?” Abi Darda` menjawab, “Aku seorang manusia sepertimu.” Pelayan tersebut bertanya
kembali, “Bagaimana mungkin engkau seorang manusia biasa sedangkan aku telah meracunimu sebanyak empat puluh kali
akantetapi tidak membahayakanmu?” Abi Darda` menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwasanya orang yang berdzikir kepada
Allah tidak akan ada sesuatu yang akan membahayakannya, dan ketika engkau meracuniku aku sedang berdzikir kepada Allah
dengan nama Allah yang Agung.” Pelayan tersebut bertanya kembali, “Dzikir apakah itu?” Abi Darda` menjawab, “Bismillahil
ladzi la yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi wala fis samai wahuwa samiul alim. Apa yang membuatmu melakukan semua ini?”
Pelayan tersebut menjawab, “Kebencianku kepadamu.” Kemudian Abi Darda` berkata kepada pelayan tersebut, “Mulai saat ini
engkau kumerdekakan dan engkau kumaafkan atas segala perbuatan yang telah engkau lakukan itu.”
Asy-Syaikh Syariffuddin dalam kitabnya “al-Lathifah al-Mardhiyah” menerangkan tentang keutamaan dzikir tersebut
sebagai berikut. “Ini adalah doa yang agung dan teramat mujarab, besar manfaat dan berkahnya. Hendaknya seorang
hamba selalu mengucapkannya setiap pagi dan petang.”
Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang selalu mengucapkan bismillahil ladzi la yadhurru
maasmihi syaiun fil ardhi wala fis samai wahuwa samiul alim di waktu pagi dan petang sebanyak tiga kali, maka tidak
ada sesuatu apapun yang akan membahayakan dirinya.” (HR. At-Turmudzi)
Dari keberkahan kalimat basmalah adalah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan di waktu pagi
bismillahil ladzi la yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi wala fis samai wahuwa samiul alim sebanyak tiga kali maka ia
tidak akan tertimpa musibah yang mendadak datangnya hingga petang, dan barangsiapa mengucapkannya sebanyak
tiga kali di waktu petang maka ia tidak akan tertimpa musibah yang mendadak datangnya hingga pagi hari.”
Dan dari keberkahan dzikir tersebut diceritakan bahwa datang salah seorang utusan dari pembesar kaum Nasrani
kepada Khalid Ibnu Walid dengan membawa racun seraya berkata, “Jika engkau benar-benar beranggapan bahwa
racun ini tidak akan membahayakanmu dengan sebab kalimat ini (dzikir tersebut), maka minumlah!” Kemudian
diambillah racun tersebut oleh Khalid Ibnu Walid dari tangan utusan pembesar kaum Nasrani itu seraya mengucapkan
bismillahil ladzi la yadhurru maasmihi syaiun fil ardhi wala fis samai wahuwa samiul alim, lalu diminumlah racun
tersebut di hadapan para sahabatnya dan sedikitpun tidak membahayakan dirinya, hanya saja tubuhnya sedikit
mengeluarkan keringat.

Dzikir kedelapan

رَضِيْنَا بِالِ رَبّا وَبِاْلِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمّدٍنَبِيّا (X3 )

“Kami rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami.” (3 kali)
Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Adzkar” meriwayatkan hadits dari kitab “Sunan at-Turmudzi” dari Tsauban ra bahwa Nabi saw
bersabda, “Barangsiapa pada petang hari mengucapkan radhina billahi rabba wabil Islami dina wabi Muhammaddin nabiyya, niscaya
Allah akan ridha kepadanya.”
Abi Said al-Khurdi meriwayatkan dari Tsauban bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkannya maka ia akan
dimasukkan ke dalam surga.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada Abi Said, “Wahai Abi Said,
barangsiapa yang rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya, niscaya ia akan
dimasukkan ke dalam surga.”
Disebutkan dalam hadits lainnya bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan radhina billahi rabba wabil Islami dina wabi
Muhammaddin nabiyya, berarti ia telah merasakan kelezatan iman.”
Shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata dalam salah satu kitabnya yang berjudul “an-Nashaih ad-Diniyyah”,
“Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, barangsiapa yang rela Allah sebagai Tuhannya, hendaknya ia harus rela dengan sesuatu
yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh-Nya, rela dengan pemberian rezeki dari-Nya, selalu dalam keadaan taat kepada-Nya,
selalu mengerjakan kewajiban yang telah diwajibkan oleh-Nya, menjauhi seluruh larangan-Nya, bersabar atas segala musibah yang
menimpanya yang diturunkan oleh-Nya, bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya, merasa senang untuk berjumpa dengan-
Nya, rela kepada-Nya, ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, selalu bersandar kepada-Nya baik zhahir maupun batin dan tidak
memohon agar terpenuhi hajatnya kecuali kepada-Nya.
Dan barangsiapa rela Islam sebagai agamanya hendaknya ia menjunjung tinggi kehormatan dan syiarnya, selalu bersungguhsungguh
mengerjakan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Islam serta berpegang teguh dan istiqamah dengan menambah ilmu dan
amal, memiliki cita-cita tinggi dalam agama dan merasa takut jika hilang dari dirinya, selalu menghormati sesama saudaranya yang
muslim dan tidak menyukai serta menentang terhadap siapa saja yang memusuhi agamanya.
Barangsiapa rela Muhammad sebagai Nabinya hendaknya ia selalu mengikuti ajaran dan syariat Beliau, berpegang teguh pada
sunah-sunahnya, menghormati hak-haknya, memperbanyak shalawat kepadanya, mencintai keluarganya, memiliki rasa kasih
sayang dan senang menasehati terhadap umatnya.”

Dzikir kesembilan

بِسْمِ الِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَالْخَيْرِوَالشّرّ بِمَشِيْئَةِ الِ (X3 )

“Dengan nama Allah, segala puji bagi-Nya, segala kebaikan dan keburukan (hanya akan terjadi) dengan kehendak Allah.” (3 kali)
Kalimat basmalah dan hamdalah tidak diragukan lagi keutamaannya. Imam Ramli dalam kitabnya “an-Nihayah”
menyebutkan bahwa Allah menurunkan sebanyak seratus empat kitab kepada tujuh orang Nabi-Nya, dan seluruh kitab
tersebut terkumpul dalam empat kitab, yaitu al-Quran, Taurat, Injil dan Zabur. Dari keempat kitab tersebut terkumpul dalam
satu kitab yaitu al-Quran. Dan semua surat yang ada dalam al-Qur`an terkumpul dalam satu surat yaitu al-Fatihah, dan
seluruh ayat yang terdapat dalam al-Fatihah terkumpul dalam bismillahir rahmanir rahim. Ada riwayat lain yang menyebutkan
bahwa semua yang terdapat dalam kalimat basmalah terkumpul dalam huruf ba dan semua yang terdapat dalam huruf ba
terkumpul dalam titiknya.
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali kwh berkata, “Jika mau aku akan membebani delapan puluh unta untuk memuat
makna dari huruf ba dalam kalimat basmalah.”
Dalam kitab “asy-Syarji” disebutkan bahwa barangsiapa menulis nama Allah pada sebuah kendi (tempat air), dan
kemudian menyiramkan air yang ada di dalamnya ke wajahnya, niscaya setan yang mengganggunya akan terbakar.
Sebagian kaum arifin berkata, “Dengan kalimat basmalah terselamatkan kapal Nabi Nuh, dengan rahasia basmalah
kapal Nabi Nuh dapat berlayar dan berlabuh, dengan basmalah terselamatkan jiwa Nabi Nuh, dengan basmalah
terselamatkan kapal Nabi Nuh dari angin taufan, dengan basmalah terselamatkan orang-orang yang beriman dari api
neraka, dengan basmalah seluruh umat mendapatkan kenikmatannya, dengan basmalah orang-orang yang beriman
mendapat kemuliaan, dengan basmalah kita dapat mengusir setan, dengan basmalah terkabulnya seluruh doa, dengan
basmalah kita ridha kepada Dzat yang Maha Pengasih, dengan basmalah tertutupnya semua keburukan, dengan
basmalah turunnya keberkahan, dengan basmalah kita selamat dari kehancuran, dan basmalah adalah cahaya bagi
langit dan bumi.”
Dalam “Shahih Ibnu Hibban” dan beberapa kitab hadits lainnya disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi
Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan bismillahir rahmanir rahim maka
perkara tersebut tidak ada keberkahannya.”
Asy-Syaikh Ahmad bin Ma`ad at-Tujibi al-Iqlisi menyebutkan dalam kitabnya “al-Haqaiq al-Wadhihat” sebuah riwayat dari
adh-Dhahak, dari Ibnu Abbas, “Barangsiapa mengucapkan bismillah maka ia telah mengingat Allah, barangsiapa
mengucapkan alhamdulillah maka ia telah bersyukur kepada Allah, barangsiapa mengucapkan Allahu akbar maka ia telah
mengagungkan Allah, barangsiapa mengucapkan la ilaha illallah maka ia telah mengesakan Allah, barangsiapa
mengucapkan la haula wala quwwata illa billah maka ia telah berserah diri kepada Allah, dan itu semua baginya adalah
simpanan di surga.”
Mengenai keutamaan bismillahir rahmanir rahim disebutkan dalam kitab “Lubbil Akhbar Anin Nabi al-Mukhtar”, “Tidak
seorang pun dari hamba mengucapkan bismillahir rahmanir rahim kecuali setan akan meleleh sebagaimana timah yang
meleleh bila terkena api.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas`ud bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan bismillahir rahmanir rahim
maka tidak akan tersisa dosa-dosanya walau sekecil biji atom.”
Disebutkan oleh asy-Syarji dalam kitabnya bahwa suatu ketika Nabi Isa as melewati suatu kuburan yang mana penghuni kubur
tersebut sedang disiksa. Jelang beberapa waktu kemudian Nabi Isa kembali melewati kubur tersebut dan ia melihat berbagai
macam karamah dari kuburan tersebut. Kemudian Nabi Isa as bertanya kepada Allah swt dan Allah pun memberitahu kepadanya
bahwa penghuni kubur tersebut disiksa karena perbuatan dosanya. Ketika penghini kubur itu mati, ia meninggalkan seorang isteri
yang sedang hamil. Setelah isterinya melahirkan dan ketika usia sang anak menginjak tujuh tahun, isterinya menyekolahkan
anaknya. Ketika seorang guru mengajarkan anaknya bismillahir rahmanir rahim maka terangkatlah siksa kubur ayahnya.
Kemudian Allah swt berkata, “Bagaimana bisa Aku menyiksanya di dalam perut bumi sedangkan anaknya di muka bumi
menyebut-nyebut nama-Ku.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Doa tidak akan ditolak jika diawali dengan
bismillahir rahmanir rahim. Kelak di hari kiamat ada segolongan dari umatku yang sering mengucapkan bismillahir
rahmanir rahim ketika ditimbang amal kebaikan mereka menjadi sangat berat, maka umat-umat lainnya berkata,
‘Alangkah beratnya timbangan umat Muhammad.’ Para Nabi dan Malaikat menjawab, ‘Karena setiap memulai setiap
pembicaraan dan melakukan suatu perbuatan mereka selalu menyebut tiga nama Allah yang Agung. Apabila kebaikan
mereka diletakkan pada timbangan dan dosa-dosa seluruh makhluk diletakkan pada sisi lain dari timbangan itu, maka
kebaikan mereka akan lebih berat, hal tersebut dikarenakan keberkahan bismillahir rahmanir rahim’.”
Sedangkan keutamaan kalimat alhamdulilah sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Ghazali bahwa Nabi saw bersabda,
“Apabila seorang hamba mengucapkan kalimat alhamdulilah sekali maka akan meliputi langit dan bumi, jika mengucapkan
alhamdulilah yang kedua kalinya maka akan meliputi tujuh lapis langit dan bumi, jika mengucapkan alhamdulilah yang ketiga
kalinya maka Allah akan berkata, ‘Mintalah apa yang engkau inginkan, niscaya akan Aku berikan’.”
Oleh karena itu shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad mengulangnya dalam dzikir ratib susunannya sebanyak tiga kali.
Dalam kitab “Ithafus Sail” disebutkan bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang apabila
memakan makanan kemudian ia bersyukur kepada Allah dan meminum minuman kemudian ia bersyukur kepada Allah.”
Diriwayatkan oleh Nu`man bin Bisyr bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur atas pemberian
Allah yang sedikit maka ia pun tidak akan bersyukur dengan pemberian Allah yang banyak. Dan barangsiapa tidak
mengenal syukur kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.”

Dzikir kesepuluh

آمَنّابِالِ وَالْيَوْمِ اْلخِرِ, تُبْنَا اِلَى الِ بَا طِنًا وَظَاهِرًا (X3 )

“Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, dan kami bertaubat kepada Allah lahir dan batin.” (3 kali)
Dzikir ini merupakan petikan dari firman Allah dan merupakan pengamalan dari perintah Allah dalam firman yang berbunyi :
“..katakanlah (hai orang-orang yang beriman), kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami..”
Diriwayatkan oleh al-Baghawi dengan sanadnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi bahwa ia berkata kepada Rasulullah
saw, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu kalimat dalam Islam agar aku tidak bertanya kepada orang lain
sepeninggalmu.” Kemudian Rasulullah saw berkata, “Ucapkanlah ‘Aku beriman kepada Allah’ kemudian beristiqamahlah.”
(HR. Muslim)
Menurut riwayat at-Turmudzi Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, hal
apakah yang paling engkau khawatirkan dari diriku?” kemudian Rasulullah saw menunjuk lisannya seraya berkata,
“Inilah yang paling aku khawatirkan.”
Imam Nawawi berkata bahwa para ulama mengatakan hadits ini merupakan kalimat yang sedikit akantetapi memiliki
makna yang teramat luas. Dan hal ini sesuai dengan firman Allah swt :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka beristiqamah, maka tidak
ada kekhawatiran atas mereka dan mereka tidak pula merasa sedih.”
Disebutkan dalam kitab Ibnu Sunni dari Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa merasakan adanya waswas
dalam dirinya, hendaknya ia mengucapkan amantu billahi warasulihi (aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya)
sebanyak tiga kali, sesungguhnya kalimat tersebut menghilangkan was-was dari dirinya.”
Berhati-hatilah, jangan sampai engkau mengucapkan amanna billahi walyaumil akhir (kami beriman kepada Allah dan
hari akhir) dengan lisanmu sedangkan hatimu lalai dari hakikat makna yang kau ucapkan. Allah swt berfirman :
“Ada sebagian orang yang mengatakan ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’, akantetapi pada hakikatnya
mereka bukanlah orang-orang yang beriman.”
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt sangatlah senang dengan
taubatnya seorang hamba yang beriman.”
Shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, “Dzikir tersebut dan masih banyak lagi dari firman-firman
Allah swt yang menggandengkan kalimat iman dengan taubat secara berpasangan, dan menyerukannya kepada
orang-orang yang beriman untuk bertaubat. Sebagaimana dalam firman-Nya :
“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan sebaik-baik taubat..”
Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang bertaubat adalah kekasih Allah, dan orang-orang yang bertaubat dari
dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa.” Abi Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda,
“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.”

Dzikir kesebelas

يَارَبّنَا وَاعْفُ عَنّا. وَامْحُ الّذِيْ كَانَ مِنّا (X3 )

“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan hapuslah dosa-dosa yang telah kami perbuat.” (3 kali)
Sebenarnya makna dari dzikir ini termasuk dari dzikir yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang kewajiban dan
keutamaan bertaubat. Akantetapi pada dzikir ini menyebutkan permintaan maaf atas dosa-dosa dan permintaan
penghapusan dosa-dosa. Dzikir ini merupakan suatu pengakuan dari seorang hamba dari kekurangannya dalam
memenuhi hak-hak Tuhannya. Dan hal ini adalah derajat kesempurnaan seorang hamba.
Makna dari permohonan maaf lebih besar dari permohonan maghfirah (pengampunan). Karena permohonan ampun
berarti permohonan untuk menutup kesalahan, sedangkan permohonan maaf maknanya adalah permintaan untuk
menghapus kesalahan, dan penghapusan kesalahan lebih besar daripada penutupan kesalahan.
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdul Muththalib pernah berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah
aku suatu kalimat yang dapat kugunakan untuk memohon kepada Allah.” Rasulullah saw berkata kepadanya, “Wahai
Abbas, wahai paman Rsulullah, mohonlah kepada Allah permintaan maaf dan keselamatan di dunia maupun akhirat.”
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Suyuti dalam tafsirnya “ad-Durrul Mantsur” menjelaskan dalam tafsir surat al-Jumu`ah,
dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Hilal bin Yasar bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya pada hari jumat ada
suatu waktu yang apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah pasti memberinya.” Salah
seorang sahabat bertanya, “Apa yang sebaiknya aku mohonkan?” Rasulullah saw menjawab, “Mohonlah kepada Allah
maaf dan keselamatan di dunia maupun akhirat.”
Shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam kitabnya “an-Nashaih ad-Diniyyah” berkata, “Hendaknya
seorang hamba memperbanyak permohonan keselamatan dunia maupun akhirat. Sebab ada hadits yang menyebutkan
bahwa Allah lebih senang bila seorang hamba memohon keselamatan dunia maupun akhirat kepada-Nya, karena hal
tersebut merupakan doa yang paling utama dan mencakup segalanya.”
Dalam kitab “Ghayatul Qasd Wal Murad” disebutkan bahwa al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata,
“Barangsiapa telah sembuh dari penyakit maksiat, penyakit melanggar perintah Allah dan mendapat petunjuk agar
bersungguh-sungguh dalam bertaat kepada Allah semata-mata karena-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan
keselamatan dari Allah. Semoga Allah swt menjadikan kita sebagai orang yang mendapatkan keselamatan dan
memuliakan kita sehingga kelak kita dapat berjumpa dengan-Nya dalam keadaan ridha.”
Beliau juga berkata, “Keselamatan zhahir adalah selamatnya diri dari perbuatan dosa serta berbagai macam penyakit,
dan keselamatan batin adalah selamatnya hati dari keragu-raguan dan khayalan serta dari sifat memiliki niat buruk
terhadap saudaranya sesama muslim. Barangsiapa mendapat kemuliaan dengan mendapatkan dua keselamatan
tersebut, maka ia akan selalu menghadapkan dirinya kepada Allah dan taat kepada-Nya.”
Maka dengan mengetahui makna keselamatan engkau akan mengetahui makna doa ini dan kebesaran manfaat serta
berkahnya. Walhamdulillahi rabbil alamin.

Dzikir kedua belas

ياَذَالْجَلَ لِ وَاْلِكْرَامِ. اَمِتْنَا عَلَى دِيْنِ اْلِسْلَمِ (X7 )

“Wahai yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, matikanlah kami dalam keadaan (beragama) Islam.” (7 kali)
Kalimat ya dzal jalali wal ikram adalah petikan dari firman Allah swt yang bunyinya :
“Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia.”
Dan juga merupakan pengamalan dari hadits Nabi saw, “Sering-seringlah dalam mengucapkan doa ya dzal jalali wal
ikram.”
Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, al-Qazwaini, Ibnu Hibban dan Hakim dalam kitabnya “al-Mustadrak” bahwa Nabi saw
mendengar salah seorang lelaki mengucapkan kalimat ya dzal jalali wal ikram, kemudian Beliau saw berkata kepada
lelaki itu, “Sungguh telah dikabulkan doamu, mohonlah apa yang kau inginkan.”
Diriwayatkan bahwa diantara doa dari doa-doa yang dibaca Rasulullah saw setelah salam dari shalatnya adalah
allahumma antas salam waminka salam… hingga seterusnya hingga sampai pada kalimat tabarakta wa ta`alaita ya
dzal jalali wal ikram. Keduanya adalah merupakan nama-nama Allah yang Indah, dan barangsiapa yang selalu
membacanya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga.
Allah swt berfirman :
“Dan Allah mempunyai nama-nama yang Indah, maka berdoalah kalian dengan menyebut nama-Nya..”
Oleh karena itu shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyertakan permohonan agar diwafatkan dalam
Islam setelah bertawasul dengan kedua nama yang Mulia itu. Sebagaimana difirman Allah dalam al-Quran :
“..dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Dzikir ini juga menjadi penyebab remuknya punggung iblis yang dilaknat oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam
hadits bahwa Nabi saw bersabda, “Iblis mengatakan, ‘Punggungku menjadi remuk disebabkan oleh seseorang yang
memohon husnul khatimah, aku berkata kapankah orang ini menjadi ujub dengan amalnya’.”
Al-Amri berkata, “Barangsiapa selalu mengucapkan dua nama Allah (al-Jalal dan al-Ikram), maka akan menjadikannya
berwibawa di hadapan orang-orang yang melihatnya, dan barangsiapa selalu mengucapkan nama Allah al-Karim maka
Allah akan memberikan rezeki kepadanya tanpa harus bersusah payah.”
Sebagian ulama berkata, “Dari keberkahan nama Allah ini, Allah memberikan keagungan, kewibawaan dan kemuliaan
kepada para Nabi dan para wali-Nya. Dan barangsiapa mengharapkan sesuatu dan membacanya sebanyak tujuh ratus
kali, niscaya Allah akan memberikan yang dimintanya.”
Adapun mengenai permohonan matikanlah kami dalam keadaan Islam, shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-
Haddad dalam kitabnya “an-Nashaih ad-Diniyyah” berkata, “Ketahuilah bahwa mengingat kematian adalah sesuatu
yang amat dianjurkan karena dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi seseorang. Diantaranya adalah
seseorang tidak akan panjang berangan-angan, menimbulkan sifat zuhud akan dunia, merasa cukup atas sesuatu yang
diberikan Allah kepadanya, menjadikannya lebih mengutamakan kepentingan alkhirat daripada kepentingan dunia dan
memperbanyak bekal dengan beramal shalih selama hidup di dunia.”

Dzikir ketiga belas

ياَ قَوِيُ يَامَتِيْنُ. اِكْفِشَرّاظّا لِمِيْنَ (X3 )

“Wahai yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh, selamatkan kami dari kejahatan orang-orang yang zhalim.” (3 kali)
Kedua nama ini juga merupakan nama Allah yang mana Allah swt memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa
dengan nama-nama-Nya yang Indah. Dan dari khasiat kedua nama Allah yang Mulia ini adalah untuk memohon
perlindungan dan menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang zhalim.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw memohon perlindungan untuk dirinya dari kejahatan binatang buas, musuh-musuh yang
mengganggu, dari segala kejahatan dan dari kemurkaan Allah serta hukuman-Nya dan lain sebagainya.
Ketahuilah bahwa kalimat ikfi syarra zhalimin (hentikanlah segala kejahatan dari orang-orang yang zhalim) dan dzikir
setelah ini, yaitu sharafallah syarral mudzin (selamatkanlah mereka dari dari kejahatan orang-orang yang suka
mengganggu), keduanya adalah doa yang teramat besar manfaatnya bagi yang berdoa menggunakannya. Kedua doa
tersebut juga bermanfaat bagi seluruh umat Islam agar tercegah dari segala kejahatan, bahkan juga bermanfaat bagi
orang yang zhalim dan suka mengganggu agar selamat dan berhenti dari perbuatan tersebut.

Dzikir keempat belas

اَصْلَحَ الُ اُمُوْرَالْمُسْلِمِيْنَ. صَرَفَ الُ شَرّالْمُؤْذِيْنَ (X3 )

“Semoga Allah memperbaiki semua urusan kaum muslimin, selamatkanlah mereka dari kejahatan orang-orang yang
suka mengganggu.” (3 kali)
Doa ini bersifat umum dan disunahkan serta sangat dianjurkan. Dan cukuplah kiranya keutamaan dari dzikir ini adalah
setiap khatib jumat selalu membaca doa pada akhir khutbahnya doa yang sifatnya umum untuk kaum muslimin. Bahkan
doa tersebut menjadi salah satu rukun dalam sahnya khutbah jumat. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya doa yang
paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk orang lain.” (HR. Abu Daud, at-Turmudzi dan al-Bayhaqi)
Allah swt berfirman :
“..dan mohonlah ampun atas dosamu dan dosa orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita..”
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Nabi saw bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim
tanpa diketahui oleh orang yang di doakan adalah mustajab, dan berdiri di atas kepala orang yang berdoa Malaikat
yang selalu berkata, ‘Amin.. dan bagimu sepertinya’ setiap kali seseorang berdoa untuk saudaranya sesama muslim.”

Dzikir kelima belas

ياَعَلِيّ يَا كَبِيْرُ يَاعَلِيْمُ يَاقَدِيْرُ يَاسَمِيْعُ يَابَصِيْرُ يَالَطِيْفُ يَاخَبِيْرُ (X3 )

“Wahai Tuhan yang Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha
lembut dan Maha Mengamati.” (3 kali)
Dzikir yang kelima belas ini adalah termasuk dari nama-nama Allah yang Indah, yang mana setiap hamba dianjurkan
untuk selalu berdoa menggunakannya, sebagaimana telah kami jelaskan pada dzikir sebelumnya.
Adapun keistimewaan yang terkandung dalam nama-nama Allah yang Mulia dalam dzikir ini tidak dapat dihitung
nilainya dan tidak ada yang mengetahui hakikat dari makna dzikir ini kecuali hanyalah Allah swt.
Salah seorang khatib di ribath Ba`Asyan yang berasal dari lembah Dau`an berkata bahwa salah seorang yang dapat
dipercaya bercerita, “Ketika kami berlayar dan sampai diantara Mukha dan Jeddah terjadi badai yang sangat dahsyat
sehingga kapal yang kami tumpangi pecah berkeping-keping. Para penumpang semuanya berjatuhan ke laut
sedangkan kami bersama delapan orang dapat menggapai sepotong kayu sehingga kami terapung bersama kayu
tersebut selama sehari semalam. Dan pada malam itu juga hingga keesokan harinya kami membaca salah satu dzikir
ratib al-Haddad, yaitu ya aliyyu ya kabir ya alimu ya qadir ya samiu ya bashir ya lathifu ya khabir sehingga kami sampai
ke suatu daratan dengan selamat berkat dzikir yang mulian ini.”

Dzikir keenam belas

يَافَارِجَ الْهَمّ يَاكَاشِفَ الْغَمّ يَامَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرْ وَيَرْحَمُ (X3 )

“Wahai Dzat yang menghilangkan segala kesedihan, wahai Dzat yang menghapus segala kesusahan, wahai Dzat yang
memberi ampun dan mengasihi hamba-Nya.” (3 kali)
Disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya “ad-Durrul Mantsur”, dari Aisyah ra, ia berkata, “Ayahku berkata kepadaku, ‘Maukah
Aku ajarkan padamu sebuah doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw dan doa ini juga pernah diajarkan oleh Nabi Isa as
kepada kaum Hawariyyin, dan keutamaan doa ini jika engkau memiliki hutang walau sebesar gunung Uhud maka Allah pasti akan
melunaskannya’. Kemudian aku bertanya, ‘Doa apakah itu?’ Ayahku menjawab, ‘Ucapkanlah ya farijal hamm ya kasyifal ghamm’.”
Disebutkan oleh Imam ar-Raddad dalam kitabnya “Mujibat ar-Rahmat” bahwa kemudian Abu bakar berkata, “Pada saat
itu aku masih memiliki sisa hutang, sadangkan aku adalah orang yang paling tidak suka memiliki tanggungan hutang.
Kemudian aku berdoa dengan doa ini sehingga Allah memberikanku kemudahan dalam melunasinya.”

Dzikir ketujuh belas

اَسْتَغْفِرُالَ رَبّ الْبَرَايَا, اَسْتَغْفِرُالَ مِنَالْخَطَايَا (X4 )

“Aku mohon ampun kepada Allah, Tuhan Pencipta manusia, aku mohon ampun kepada Allah dari segala kesalahan.” (4 kali)
Dzikir ini merupakan permohonan ampun yang disunahkan dan sangat dianjurkan, sebagaimana telah disebutkan
banyak sekali dalam al-Quran dan hadits mengenai keutamaan istighfar.
Allah swt berfirman :
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu
memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain daripada Allah..”
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah,
niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“..dan Allah sekali-kali tidak akan menyiksa mereka, sedang kamu berada diantara mereka.”
Rasulullah saw bersabda, “Beruntunglah bagi mereka yang terdapat dalam buku catatan amalnya terdapat banyak istighfar.”
Rasulullah saw bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan penyakit kalian dan penawarnya? Ketahuilah bahwa penyakit
kalian adalah dosa-dosa dan penawarnya adalah istighfar.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar maka Allah akan menghilangkan segala
kesusahannya, memberi jalan keluar dari berbagai kesulitan dan menambah rezeki dengan tanpa disangka-sangka.”
Rasulullah saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai para hamba-Ku, kalian semuanya berdosa kecuali yang telah Kumaafkan,
mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya kalian Ku-ampuni. Barangsiapa mengetahui bahwa Allah memiliki
kemampuan untuk mengampuni dirinya maka pasti akan Ku-ampuni seluruh dosanya dan Aku tidak peduli’.”
Allah swt berfirman :
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Ia akan memberikan
kenikmatan yang baik kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan..”
“Maka Aku katakan pada mereka, ‘Mohonlah ampun pada Tuhanmu, sesungguhnya Ia Maha Pengampun, niscaya Ia
akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan
untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula (di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaihi sebanyak lebih dari tujuh puluh kali
dalam sehari maka Allah akan mengampuni tujuh ratus dosa-dosanya.”
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”
Dalam hadits disebutkan bahwa iblis yang dilaknat oleh Allah swt berkata, “Wahai Tuhanku, demi kemuliaan dan
keagungan-Mu, aku tidak akan berhenti menggoda hamba-Mu selama ruh mereka masih melekat pada jasad mereka.”
Allah swt berkata kepada iblis, “Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan selalu mengampuni mereka selema
mereka memohon ampun kepada-Ku.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menginginkan buku catatan amalnya menyenangkan hatinya, hendaknya ia
memperbanyak istighfar.”
Imam Muhyiddin an-Nawawi mengutip dari kitab shahih Bukhari dan shahih Muhslim sebuah riwayat dari Abi Hurairah
bahwa Nabi saw bersabda, “Pada sepertiga malam terakhir Allah swt turun ke langit dunia seraya mengatakan,
‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku niscaya Ku-kabulkan doanya, barangsiapa memohon kepada-Ku niscaya Ku-penuhi
permohonannya, barangsiapa memohon ampun kepada-Ku niscaya ia Ku-ampuni’.”
Aisyah ra berkata bahwa Nabi saw pernah berkata kepadanya, “Jika engkau merasa berbuat dosa maka mintalah
ampun kepada Allah, karena taubat dari perbuatan dosa itu dengan penyesalan dan istighfar.”
Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang di surga, kemudian
orang itu bertanya, ‘Wahai Tuhanku, dengan sebab apa Kau naikkan derajatku?’ Allah menjawab, ‘Karena anakmu
memonkan ampun untukmu’.”
Diriwayatkan oleh al-Hakim bahwa dalam “Shahih al-Isnad” terdapat sebuah hadits marfu` yang mengatakan, “Tidak
seorang pun dari umat Islam yang berbuat dosa kecuali Malaikat berdiam selama tiga jam. Jika orang tersebut
memohon ampun atas dosa yang telah ia perbuat maka tidak dicatat perbuatannya itu dan ia tidak akan dihukum kelak
di hari kiamat atas perbuatan dosanya itu.”
Imam Ali kwh berkata, “Aku heran dengan seseorang yang tertimpa kecancuran sedangkan ia memiliki cara untuk
menyelamatkan dirinya.” Salah seorang bertanya, “Apakah itu?” imam Ali menjawab, “Istighfar.”

Dzikir kedelapan belas

“Tiada Tuhan selain Allah, tiada Tuhan selain Allah.” (50 kali)
Hendaknya kedua kalimat tahlil ini dibaca dengan satu nafas, paling sedikit dibaca sebanyak dua puluh lima kali agar jumlah
kalimat tahlil yang dibaca genap lima puluh, dan dianjurkan tidak kurang dari lima puluh. Tidak mengapa jika seseorang ingin
menambahnya, karena tidak ada batasan untuk membacanya lebih dari lima puluh kali, walaupun sebanyak ribuan. Setelah
membaca kedua kalimat tahlil ini sebanyak lima puluh atau lebih, kemudian hendaknya ditutup dengan bacaan sebagai berikut :
Imam al-Qadhi `Iyadh berkata dalam kitabnya “asy-Syifa`” dari ibnu Abbas ra bahwa pada pintu surga terdapat tulisan
yang mengatakan, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, Muhammad adalah utusan-Ku.
Barangsiapa mengucapkan kalimat itu, niscaya Aku tidak akan menyiksanya.”
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas ra disebutkan bahwa ia berkata, “Dalam sehari semalam itu ada dua puluh empat
jam, dan kalimat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah terdiri dari dua puluh empat huruf. Barangsiapa mengucapkan
la ilaha illallah Muhammad Rasulullah maka setiap hurufnya akan menghapus dosanya selama satu jam, maka
terhapuslah seluruh dosanya jika ia mengucapkannya setiap hari dan setiap malam.”
Keutamaan kalimat la ilaha illallah sangatlah banyak dan sudah tidak asing lagi. Dan cukuplah kiranya dari keutamaan
tersebut sebagai salah satu dari rukun Islam, dan inti dari kalimat tauhid. Dan barangsiapa di akhir ucapannya sebelum
ajal menjemputnya mengucapkan kalimat la ilaha illallah maka ia masuk ke dalam surga.
Rasulullah saw bersabda, “Para ahli la ilaha illallah tidak merasakan kesunyian di dalam kubur mereka dan ketika mereka
dibangkitkan. Seakan-akan aku melihat mereka sedang membersihkan tanah yang ada di kepala mereka seraya berkata,
‘Segala puji bagi Allah yang melenyapkan kesedihan pada diri kami, Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri’.”
Rasulullah saw berkata kepada Abi Hurairah, “Wahai Abi Hurairah, sesungguhnya setiap kebaikan yang pernah dikerjakan
seseorang akan ditimbang kelak di hari kiamat, kecuali kesaksian la ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah) tidak akan
ditimbang. Karena apabila seseorang mengucapkan kesaksian tersebut dengan sungguh-sungguh dan diletakkan pada
salah satu sisi timbangan dan di letakkan pada sisi lain timbangan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, maka kalimat
la ilaha illallah akan lebih berat dari semua itu.”
Rasulullah saw bersabda, “Jika datang salah seorang yang mengucapkan kalimat la ilaha illallah dengan sungguhsungguh
ke hadapan Allah dengan membawa dosa sebesar bumi, niscaya Allah tetap akan mengampuninya.”
Rasulullah saw berkata kepada Abi Hurairah, “ Wahai Abi Hurairah, talqinkanlah kepada orang yang sudah mati
diantara kalian kalimat la ilaha illallah, karena kalimat tersebut dapat melebur dosa.” Seseorang bertanya kepada
Rasulullah, “Kalau itu bagi orang yang sudah mati, bagaimana dengan yang masih hidup?” Rasulullah menjawab,
“Akan sangat lebih dalam melebur dosa mereka.”
Shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata dalam salah satu nasehatnya, “Dan dari macam-macam
dzikir bahkan yang paling mulia dan utama adalah kalimat la ilaha illallah. Nabi saw bersabda, ‘Kalimat yang paling
utama yang pernah kuucapkan dan diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah la ilaha illallah’.”
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa Allah swt berfirman, “La ilaha illallah adalah benteng-Ku, barangsiapa masuk ke
dalam benteng-Ku maka ia aman dari siksa-Ku.”
Rasulullah saw bersabda, “Perbaruilah iman kalian” para sahabat bertanya, “Bagaiimana caranya kami memperbarui iman
kami?” Rasulullah menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan kalimat la ilaha illallah.”
Rasulullah saw bersabda, “Datang kepadaku utusan dari Tuhanku, dan ia mengabarkan kepadaku bahwa barangsiapa
yang mati dan ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, maka ia akan masuk ke dalam
surga.” Kemudian Abu Dzar bertanya, “Walau orang tersebut pernah mencuri dan berzina?” Rasulullah menjawab,
“Walaupun ia pernah mencuri dan berzina.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa masuk ke dalam kubur dengan la ilaha illallah maka Allah akan
menyelamatkannya dari neraka.”
Rasulullah saw bersabda, “Kunci surga adalah la ilaha illallah.”
Dalam kitab “Ghayatul Qashd Wal Murad” disebutkan bahwa dari kebiasaan shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-
Haddad adalah membaca dzikir kalimat la ilaha illallah sebanyak seribu kali setiap selesai dari shalat zhuhur. Dan pada
bulan Ramadhan beliau menambahnya menjadi dua ribu kali dan menggenapkannya menjadi tujuh puluh ribu pada hari
keenam di bulan Syawal.
Dalam kitab “Tatsbitul Fuad” disebutkan bahwa shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, “Aku
wasiatkan kepada kalian untuk selalu mengucapkan kalimat la ilaha illallah setiap saat, dan khususnya pada saat
kesusahan dalam mencari rezeki. Sesungguhnya dzikir tersebut melapangkan rezeki.”

Dzikir kesembilan belas

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan. Ia
tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan. Dan tidak ada siapapun yang sebanding dengan-Nya’.” (3 kali)
Disebutkan dalam kitab “al-Muwaththa`”, diriwayatkan oleh Abi Hurairah bahwa ketika ia sedang berjalan bersama
Rasulullah saw, Beliau saw mendengar seseorang membaca surat al-Ikhlas dan Beliau berkata, “Wajiblah.” Abi Hurairah
bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa yang wajib wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Surga (wajiblah surga
bagi si pembaca itu).”

Dzikir kedua puluh

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
“Katakanlah (wahai Muhammad) : ‘Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, dari kejahatan makhlukmakhluk
yang Ia ciptakan. Dan dari kejahatan malam apabila ia gelap gulita. Dan dari (ahli-ahli sihir) yang menghembus
pada simpulan-simpulan ikatan. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya’.” (1 kali)
Diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwasanya jika salah seorang dari keluarga Rasulullah saw ada yang sakit, maka
Rasulullah saw meniupnya dengan membaca ayat tersebut, dan ketika Rasulullah saw sakit, maka aku meniupnya dan
mengusap Rasulullah saw dengan tangannya, karena tangan Beliau lebih berkah daripada tanganku.

Dzikir kedua puluh satu

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
“Katakanlah (wahai Muhammad) : ‘Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian
manusia. Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia. Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul
tenggelam. Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia’.” (1 kali)
Diriwayatkan oleh at-Turmidzi dari Abu Said al-Khudri bahwasanya Rasulullah saw selalu meminta perlindungan dari
kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia dengan membaca surat ini.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca surat-surat tersebut diwaktu pagi dan sore tiga kali, maka ia akan
terlindungi dari segala sesuatu.” (H.R. Abu Dawud)

2. ALFAATIHATA ILAA ARWAAHI SAADAATINAAS SHUFIYYATIL MUHAQQIQIIN WAL ‘ULAMAA-IL ‘AAMILIIN AINAMAA
KAANUU MIM MASYAARIQIL ARDHI ILAA MAGHOORIBIHAA, ANNALLOOHA YU’LI DAROJAATIHIM FIL JANNAH,
WA AYYU’IIDU ‘ALAINAA MIM BAROKAATIHIM WA ASROORIHIM WA ANWAARIHIM WA’ULUUMIHIM FIDDIINI
WADDUNYA WAL AAKHIROH, ALFAATIHAH........

3. ALFAATIHATA ANNALLOOHA YAHFADHOL HUJJAAJI, WAZZUWARO WAL MUSYAAFIRIINA, MINAL MUSLIMIINA FIL
BARRI WAL BAHRI AJ-MA’IIN, ANNALLOOHA YAS-HABUHUMUS SALAAMATA, WAYARUDDUHUM ILAA AUTHOONIHIM
SAALIMIINA GHOONIMIINA MAHFUUDHIINA MARZUUQIINA, FII KHOIRIN, WALUTH FIN, WA ‘AAFIYATIN, WA
ANNALLOOHA YUDHIILU A’MAARONAA FII THOO’ATILLAAHI WAYASY FI MURDHOONAA WAMURDHOL MUSLIMIIN,
WAANNALLOOHA YUJANNIBNAL FITANA WAL MIHANA, MAA DHOHARO MINHAA WAMAA BATHON, (sebutkan ahli
kubur masing-masing)………………
TSUMMA ILAA ARWAAHI AMWAATINAA KHOOSSHOH, WA AMWAATIL MUSLIIMIINA AJMA’IINA ‘AAMMAH, WA
HUSNUL KHOOTIMAH ‘INDAL MAUTI, FII ‘AAFIYAH, WA ILAA HADROOTIN NABIYYI MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU
‘ALAIHI WA AALIHI WASALLAM. ALFAATIHAH ........

Tartib Dan Tata Cara Membaca Ratib Al-Haddad

Membaca Ratib al-Haddad dengan tata cara yang telah dicontohkan oleh sang penyusun tentunya menjadi lebih
sempurna. Sebagaimana telah kami sebutkan dalam bab Ratib al-Haddad bahwa ratib ini dibaca setiap harinya setelah
menunaikan shalat isya`, kecuali di bulan Ramadhan ratib ini dibaca sebelum shalat isya` guna mengisi kesempitan
waktu menunaikan shalat tarawih.
Mengenai pembacaannya secara berjamaah atau sendiri, tentunya secara berjamaah lebih utama daripada sendiri.
Sebagaimana sabda Nabi saw, “Aku lebih mencintai berdzikir kepada Allah swt bersama sekelompok kaum setelah
shalat shubuh hingga terbitnya matahari daripada dunia seisinya.”
Dalam hadits lain Beliau saw bersabda, “Aku lebih mencintai duduk bersama sekelompok kaum berdzikir kepada Allah
swt setelah shalat ashar hingga terbenamnya matahari daripada memerdekakan empat orang budak.”
Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian melewati taman-taman
surga, maka nikmatilah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu taman-taman surga?” Rasulullah menjawab,
“Halaqu dzikir (sekelompok orang yang duduk melingkar).”
Kemudian, mengenai keutamaan berdzikir secara sirr (suara pelan) atau jahr (suara keras) adalah sebagai berikut :
Berdzikir dengan sirr tentunya lebih utama bagi mereka yang khawatir terkena riya`, atau takut mengganggu orang
yang sedang shalat, dan lain sebagainya. Jika keadaan di atas dapat dihindari, maka berdzikir dengan jahr tentunya
lebih utama, karena di dalamnya terkandung amal yang lebih luas, bermanfaat bagi orang lain, serta dapat
menggoreskan kesan yang lebih kuat pada hati orang yang berdzikir dan orang-orang yang mendengarkannya.
Akan tetapi bagi hati yang lemah, yang belum dapat berdzikir dengan hudhur (dengan penuh konsentrasi), yang belum
dapat menghayati dzikirnya, maka dzikir sebaiknya diamalkan dengan sirr sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
Nabi saw, “Sebaik-baik dzikir adalah (yang diamalkan) dengan suara pelan.”
Maka jelaslah bahwa masing-masing memiliki kelebihan tersendiri tergantung pada keadaan pribadi orang yang
berdzikir. Mereka yang hendak berdzikir seyogyanya memilih mana diantara keduanya yang lebih mendatangkan
maslahat, lebih sesuai kebutuhan, dan lebih cocok dengan keadaan.
Kemudian, tartib dan tata cara membaca ratib ini adalah sebagai berikut : Para jamaah berkumpul membentuk shaff
dan menghadap kiblat. Dan bagi yang memimpin ratib duduk menghadap para jamaah seperti yang dilakukan imam
dalam shalat seusai salam. Pemimpin ratib kemudian membukanya dengan pembacaan surat al-Fatihah, ayat kursi,
dan (“..aamanar rasul.. hingga akhir) secara jahr, dan para jamaah membacanya secara sirr. Kemudian membaca
dzikir-dzikir yang ada dalam ratib mulai dari dzikir yang pertama hingga dzikir yang terakhir dengan suara keras secara
bersama-sama atau bergantian.
Kemudian membaca dua kalimat tahlil “Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah” dengan satu nafas. Paling sedikitnya
dibaca sebanyak dua puluh lima kali. Dengan demikian, genaplah kalimat tahlil tersebut dibaca lima puluh kali.
Hendaknya pembaca ratib tidak membacanya kurang dari dua puluh lima kali, dan tidak ada batasnya jika ingin
menambahnya lebih dari dua puluh lima kali, walau dibaca sebanyak ribuan.
Kemudian kalimat tahlil ditutup dengan “Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullahi shallallahu alaihi wasallam… hingga
akhir”, dan pemimpin ratib melanjutkannya dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali, al-Falaq satu kali, dan
an-Nas satu kali, dengan jahr dan para jamaah dengan sirr.
Kemudian membaca fawatih (fatihah-fatihah) yang ada pada ratib tidak kurang dari empat fatihah, dan boleh
menambahnya lebih dari empat fatihah.
Kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa secara sirr. Jika ada salah seorang saadah yang hadir di majelis
ratib tersebut, maka seyogyanya pemimpin ratib memintanya untuk membacakan doa.
Jika tidak, maka pemimpin ratib yang memimpin doa, mendoakan dirinya dan para jamaah, kedua orang tuanya dan
orang tua para jamaah, serta seluruh umat Islam. Kemudian membaca doa berikut :
Kemudian membaca dzikir terakhir secara bersama-sama dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Kemudian
pemimpin ratib menutupnya dengan ucapan, “Semoga Allah menerima amal kita, dan menjadikannya semata-mata
karena-Nya.”

Sekilas tentang riwayat hidup Penyusun Ratib al-haddad

Beliau adalah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin
Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin al-Faqih Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Muhammad
Shahibu Marbath bin Ali Khali` Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja`far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Husain bin Ali
bin Abi Thalib, suami Fathimah az-Zahra binti Rasulillah saw.
Nama penyusun Ratib al-Haddad ini sudah akrab di telinga masyarakat Islam Indonesia, Malaysia, India, Pakistan dan
negara-negara Islam di Timur Tengah. Beliau dikenal karena karya tulis serta wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang
disusunnya sekitar empat abad yang lalu, sudah diamalkan oleh masyarakat Islam secara luas.
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dilahirkan pada tanggal 5 Shafar 1044 H, di pinggiran kota Tarim yang bernama Subair.
Dalam kitab Tastbitul Fuad disebutkan bahwa ketika beliau dilahirkan, salah seorang wanita tetangganya membungkus
beliau dengan pakaian ayahnya. Di malam itu, habib Abdullah tidak berhenti menangis dan menjerit-jerit hingga pagi hari.
Ibunya kemudian memerintahkan kepada salah seorang wanita yang berada di rumahnya untuk memeriksa Habib
Abdullah. Wanita tersebut kemudian membuka pakaian yang membungkus Habib Abdullah. Ternyata, di dalam pakaian
yang membungkus Habib Abdullah terdapat seekor kalajengking besar yang telah menyengat badan Habib Abdullah .
Ayahnya, Habib Alwi bin Muhammad adalah seorang yang shalih dari keturunan orang-orang yang shalih. Dimasa
mudanya, beliau sempat berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad al-Habsyi Shahibusy Syi`ib untuk
meminta doa. Habib Ahmad berkata kepadanya, “..anak-anakmu adalah anak-anakku juga, mereka diberkahi Allah.”
Saat itu Habib Alwi tidak mengerti akan maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari
Habib Ahmad, beliau baru sadar bahwa doa Habib Ahmad adalah sebuah isyarat perkawinannya.
Sebagaimana Habib Alwi, Salma juga merupakan seorang wanita yang shalihah dari keturunan orang-orang yang shalih
pula. Dari istrinya inilah Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan shalih pula, diantaranya adalah Habib Abdullah.
Masa Kecil Habib Abdullah
Ketika Habib Abdullah berusia 4 tahun, beliau terserang penyakit cacar yang begitu hebatnya hingga membutakan
kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil
menghafal al-Qur`an dan menguasai berbagai ilmu agama ketika usianya masih kanak-kanak. Rupanya Allah swt
berkenan menggantikan pengelihatan lahirnya dengan pengelihatan batin, sehingga kemampuan menghafal dan daya
pemahamannya sangat mengagumkan.
Sejak kecil Habib Abdullah gemar melakukan ibadah dan riyadhah. Kegemarannya ini seringkali menjadikan nenek dan
orang tuanya merasa tidak tega melihat putranya yang cacat melakukan berbagai ibadah dan riyadhah. Mereka
menasehati Habib Abdullah agar berhenti menyiksa dirinya. Demi menjaga perasaan kedua orang tuanya, Habib
Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyadhah yang sebenarnya amat ia gemari.
Beliau tumbuh dewasa di kota Tarim, Bekas-bekas cacarnya pun tidak tampak lagi diwajahnya. Beliau berperawakan tinggi,
berdada bidang, berkulit putih dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasehat berharga.

Sekilas tentang riwayat hidup Penyusun Ratib al-haddad (2)

Kegemaran Habib Abdullah
Dalam Menuntut Ilmu Dan Berdakwah
Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya seringkali melakukan perjalanan berkeliling ke
berbagai kota (di Hadhramaut) untuk menjumpai kaum shalihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka.
Beliau berguru dengan lebih dari seratus ulama, diantaranya adalah :
1. al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Aththas
2. al-Habib Aqil bin Abdurrahman as-Saqqaf
3. al-Habib Abdurrahman bin Syaikh Aidid
4. al-Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihabuddin
5. al-Habib Sahl bin Ahmad Bahsin al-Hadi Ba Alawi
6. al Habib Muhammad bin Alwi as-Saqqaf
dan masih banyak lagi.
Dari guru-gurunya itulah ia banyak berpengaruh hingga menekuni tasawwuf sampai ia menyusun Ratib al-Haddad
(wirid-wirid perisai diri, keluarga dan harta) yang terkenal ini. Dan dari guru-gurunya tersebut dengan kajiannya yang
mendalam diberbagai ilmu keislaman menjadikannya benar-benar menjadi orang yang `alim, menguasai seluk-beluk
syari`at dan hakikat, memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi dalam tasawwuf hingga memperoleh tingkat al-Qutub al-
Ghauts, seorang dai yang menyampaikan ajaran-ajaran islam dengan sangat mengesankan dan sebagai seorang
penulis yang produktif yang karya-karyanya tetap dipelajari orang sampai saat ini.
Selain giat dalam menuntut ilmu, Habib Abdullah juga salah seorang dai yang gemar berdakwah. Banyak dari para penuntut
ilmu yang datang berguru kepadanya. Keaktifannya dalam berdakwah menjadikannya digelari Quthbid Dakwah wal Irsyad.
Diantara murid-murid beliau adalah :
1. al-Habib Hasan bin Abdullah al-Haddad (putra beliau)
2. al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi
3. al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih
4. al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith
5. al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman as-Saqqaf
6. al-Habib Muhammad bin Umar bin Thaha ash-Shafi as-Saqqaf
dan masih banyak lagi.
Ibadah Habib Abdullah
Pada masa permulaannya, setiap malam beliau mengunjungi seluruh masjid dikota Tarim untuk beribadah. Salah
seorang yang tinggal berdampingan dengan masjid tempat beliau biasa shalat mengatakan, “Setiap malam ketika
penduduk kota ini lelap dalam tidurnya, aku selalu mendapati beliau berjalan ke masjid.” Sahabat beliau menceritakan,
“Suatu hari aku berziarah bersama beliau ke makam Nabi Allah Hud as, malam itu seekor kalajengking menyengatku
sehingga aku terjaga semalaman. Aku amati beliau malam itu tidak tidur, asyik beribadah sepanjang malam. Waktu
kutanyakan hal itu, beliau menjawab bahwa telah tiga puluh tahun lamanya beliau berbuat demikian.”
Meskipun amat gemar beribadah, beliau tidak suka menceritakan atau memperlihatkan amalnya, kecuali bila keadaan
sangat memaksa dan ia ingin agar amal shalihnya itu diteladani. Beliau berkata, “Aku sengaja tidak memperlihatkan
amal ibadahku, meskipun “Alhamdulilah” aku tidak khawatir terkena riya`, akantetapi sebagaimana dikatakan oleh Nabi
Yusuf as, “..aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena nafsu itu selalu mengajak berbuat kejahatan.”
Budi Pekerti Habib Abdullah
Beliau tidak menyukai kemasyhuran atau kemegahan, dan tidak suka dipuji. Beliau berkata, “Banyak orang membuat
syair-syair untuk memujiku, sesungguhnya aku hendak mencegah mereka, tapi aku khawatir tidak ikhlas dalam berbuat
demikian, sehingga kubiarkan mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini aku lebih suka meneladani Rasulullah
saw, karena beliaupun tidak melarang ketika para sahabatnya membacakan syair-syair pujian kepadanya.”
Suatu hari beliau berkata kepada orang yang melantunkan syair pujian untuknya, “Aku tidak keberatan dengan semua
pujian ini, yang ada padaku telah kucurahkan kedalam samudera Muhammad saw, sebab beliau adalah sumber
keutamaan, dan beliaulah yang berhak menerima semua pujian, jadi bila sepeninggal beliau ada manusia yang layak
dipuji, maka sesungguhnya pujian itu kembali kepadanya. Adapun setan, ia adalah sumber segala keburukan dan
kehinaan, karena itu setiap kecaman dan celaan terhadap keburukan akan terpulang kepadanya, sebab setanlah
penyebab pertama terjadinya keburukan dan kehinaan.”
Beliau tidak pernah bergantung pada makhluk dan selalu mencukupkan diri hanya dengan Allah swt. Beliau berkata, “Dalam
segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah, aku selalu menerima nafkah dari khazanah
kedermawanan-Nya.” Beliau juga berkata, “Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi selain Allah swt. Jika
ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya disisiku, karena aku menganggap
orang itu hanyalah perantara saja.” Beliau selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah serta mengamalkan ilmu yang
dimilikinya.
Disamping kesibukan beliau beribadah, dan berdakwah, beliau juga memelihara perkebunan dan ayam, yang mana
dari hasil perkebunan dan ayam tersebut beliau gunakan untuk membantu faqir miskin, anak-anak yatim, janda,
penuntut ilmu, dan orang-orang yang tidak mampu. Habib Abdullah juga mengetahui tentang ilmu pertanian, bahkan
sering kali ia duduk bersama petani-petani untuk mengajarkan ilmu-ilmu pertanian.

Sekilas tentang riwayat hidup Penyusun Ratib al-haddad (3)

Karya tulis Habib Abdullah
Selain dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berdakwah, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad juga dikenal sebagai
salah seorang penulis yang produktif. Keindahan susunan bahasa serta mutiara-mutiara nasehat yang terdapat dalam
karya-karyanya, menunjukkan akan keahlian beliau dalam berbagai ilmu agama. Bukan hanya kaum awam saja yang
membaca dan menggemarinya, akantetapi sebagian ulama pun menjadikannya sebagai pegangan dalam berdakwah.
Diantaranya adalah :
1. an-Nashaih ad-Diniyyah
2. ad-Dakwatut Taammah wa Tadzkiratul `Aammah
3. Risalatul Mu`awanah wal muzhaharah wal Mu`azarah
4. al-Fushulul Ilmiyyah
5. Sabilu Iddikar
6. Risalatu Mudzkarah
7. Risalatu Adab Sulukul Murid
8. Kitabul Hikam
9. an-Nafaisul Uluwiyyah
10. Ithafus Sail Bijawabil Masail
Selain itu, terdapat ucapan dan ajaran-ajarannya yang sempat dicatat oleh murid-murid dan para pecintanya, antara
lain :
1. al-Mukatabat (kumpulan surat menyurat)
2. Ghayatul Qashad wal Murad oleh
3. Tatsbitul Fuad
Diakui oleh para sufi, bahwa ada ketinggian dan keindahan spiritualitas yang tinggi pada kesufian Habib Abdullah.
Dapat dilihat dari karya-karyanya tersebut betapa sejuk dan indahnya bertasawwuf. Tasawwuf bagi Habib Abdullah
adalah ibadah, zuhud, akhlak, dan dzikir, suatu jalan membina dan memperkuat kemandirian menuju kepada Allah swt.
Di dalam salah satu karyanya yang bernama Sabilu Iddikar, Habib Abdullah menjelaskan tentang kehidupan manusia
sejak dalam rahim, di dunia, di alam mahsyar, sampai pada kehidupan yang abadi, disertai dengan ayat-ayat al-Qur`an
dan hadits-hadits yang tersusun rapi dengan uraian yang mengesankan.
Dalam kitabnya Risalatul Mu`awanah, Habib Abdullah menegaskan pesannya kepada ummat Islam untuk berpegang
teguh pada al-Qur`an dan al-Hadits, termasuk di dalamnya kehidupan tasawwuf yang tidak boleh lepas dari al-Qur`an
dan al-Hadits, serta menghindari sesuatu yang menyimpang dari al-Qur`an dan al-Hadits.
Sedangkan dalam al-Mukatabat, beliau berpesan, seorang sufi harus menyaring dan menjernihkan segala perbuatan,
ucapan, dan semua niat serta perilaku dari berbagai kotoran berupa riya`, dan segala sesuatu yang tidak disukai Allah
swt. Selain itu manusia harus menghadap Allah secara terus-menerus secara lahir maupun batin dengan mengerjakan
semua ketaatan hanya kepada Allah dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah Yang Maha Esa.
Dalam al-Fushulul Ilmiyyah, Habib Abdullah menguraikan intinya adalah memurnikan tauhid (akidah) dari sumbersumber
syirik, kemudian menumbuhkan akhlak terpuji seperti zuhud, ikhlas, dan berperasangka baik terhadap kaum
muslimin serta menghilangkan segala sifat buruk seperti cinta dunia, riya`, dan angkuh. Kemudian melaksanakan amal
shalih yang nyata dan menjauhi perbuatan buruk. Mencari nafkah dengan baik melalui jalan wara` (menjauhkan diri dari
segala sesuatu yang haram, dosa dan maksiat) dan qana`ah (mensyukuri sesuatu yang telah diusahakannya).

Sekilas tentang riwayat hidup Penyusun Ratib al-haddad (4)

Ratib al-Haddad
Selain karya tulis, beliau juga meninggalkan banyak doa-doa serta dzkir-dzikir susunannya. Diantara doa dan dzikirdzikir
yang beliau susun, ratib al-Haddad inilah yang paling masyhur di kalangan ummat Islam, khususnya di Indonesia.
Ratib ini beliau susun pada salah satu malam di bulan Ramadhan tahun 1071 H.
Ratib ini disusun untuk memenuhi permintaan salah seorang murid beliau yang bernama `Amir dari keluarga Bani
Sa`ad yang tinggal di kota Syibam (salah satu kota di propinsi Hadhramaut). Tujuan `Amir meminta Habib Abdullah
untuk menyusun ratib ini adalah, agar diadakan suatu wirid dan dzikir di kampungnya, agar mereka dapat
mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang ketika itu sedang melanda Hadhramaut.
Mulanya, ratib ini hanya dibaca di kampung `Amir sendiri, yaitu kota Syibam setelah mendapat izin dan ijazah dari al-
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. kemudian, ratib ini pun mulai dibaca di masjid al-Hawi miik beliau yang terletak di
kota Tarim.
Pada kebiasaannya, ratib ini dibaca secara berjamaah setelah shalat Isya`, dan pada bulan Ramadhan, ratib ini dibaca
sebelum shalat Isya` untuk mengisi kesempitan waktu menunaikan shalat Tarawih, dan ini adalah waktu yang telah
ditartibkan al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad untuk kawasan-kawasan yang mengamalkan ratib ini. Dengan izin
Allah, kawasan-kawasan yang mengamalkan ratib ini pun selamat dan tidak terpengaruh dari ajaran sesat tersebut.
Setelah al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berangkat menunaikan ibadah haji, ratib al-Haddad pun mulai dibaca di
Mekkah dan Madinah. al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi berkata, “Barangsiapa yang membaca ratib al-Haddad
dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, niscaya akan mendapat sesuatu yang diluar dugaannya.”
Ketahuilah bahwa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan dalam ratib ini dipetik dari al-Qur`an dan Hadits
Nabi saw. Bilangan bacaan disetiap doa dibuat sebanyak tiga kali, karena itu adalah bilangan ganjil (witir). Semua ini
berdasarkan petunjuk al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad sendiri. Beliau menyusun dzikir-dzikir yang pendek dan
dibaca berulang kali, agar memudahkan pembacanya. Dzikir yang pendek ini jika selalu dibaca secara istiqamah, maka
lebih utama dari pada dzikir yang panjang namun tidak dibaca secara istiqamah.
Demikianlah Habib Abdullah menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajar, berda`wah dan
mencontohkan, sampai akhirnya pada selasa sore, 7 Dzulqa`dah 1132 H, kembali menghadap Yang Kuasa,
meninggalkan banyak murid, karya dan nama harum di dunia. Di kota itu pula, di pemakaman Zanbal beliau
dimakamkan. Semoga Allah SWT memberi-Nya kedudukan yang mulia disisi-Nya dan memberi kita manfaat yang
banyak dari ilmu-ilmunya.

Keras Hati

Keras hati merupaka suatu sifat yang sangat tercela, hati-hati kita dari salah satu sifat penyakit hati ini,sebab apabila
hati sudah keras, hati tersebut tidak mau lagi menerima nasehat agama, dan hati nya tidak merasa takut apabila
dingatkan denga n ancaman Allah, tidak takut dengan neraka Allah merasa dirinya selalu benar, ketika di ingatkan
dengan kematian tidak takut seakan-akan dia tidak akan mengahapi kematian sesuai dengan perkataan Ulama’ apa
bila hati telah mati tidak akan manfaat lagi nasehat agama diibaratkan seperti tanah yang terlalu asin tidak bisa lagi
ditanami dengan tumbuh-tumbuhan. Alhabib Saw Mengatakan dalam hadist nya yang mulia :
Sesuatu yang bisa menyebabkan seseorang jauh dari Allah Swt adalah sifat keras hati sifat ini sangat berbahaya apa
bila kita tidak berusaha untuk menghidarinya, Nabi Muhammad Saw mengatakan dari lisan nya yang mulia :
Rosuulullah Saw mengatakan ada empat sifat yang sangat berbahaya dan sifat ini menjauhkan dia dari TuhanNya Allah
yang pertama keras hatinya, yang kedua tidak pernah menangis karena Allah, yang ketiga rakus akan dunia, yang
keempat banyak angan-angannya tentang dunia tidak mengingat dia akan meninggalkan dunia ini. Berhatil-hatilah
wahai manusia dengan sifat yang empat ini berusahalah semaksimal mungkin terhindar didalam diri kita sifat yang tadi
disebutkan oleh baginda nabi besar Muhammad Saw. Apa bila hati telah keras pula wahai kaum muslimin dan muslimat
maka akan menimbulkan kelalaian kita ibadah kepada Allah, doapun dari orang yang lalai tidak akan diterima oleh Allah
hadist Nabi Muhammad Saw mengatakan :
Allah sangat tidak suka dengan hati yang selalu lalai, mudah-mudahan Allah Swt mengampunin semua dosa-dosa kita
dan memelihara kita dan keluarga kita dari sifat-sifat yang tercela yang tidak akan mendapatka rido Allah dan rasulnya.

Membenarkan Hati

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimulikan Alla Swt, Didalam tubuh manusia ada hati, yang hati ini harus kita jaga
dari sifat-sifat yang tidak baik, apa lagi dari penyakit hati yang bisa menimbulkan murka Allah Swt.apa bila kita ingin
mendapatkan rido Allah, maka kita sebagai hamba harus menjaga hati kita.
Nabi Muhammad Saw mengatakan dalam hadist yang mulia diatas , Sesungguh nya Allah Swt tidak melihat dari bentuk
tubuh kamu dan perbuatan kamu akan tetapi Allah Swt melihat Hatimu dan niatmu, dengan arti wahai hamba Allah,
benarkanlah perkataanmu dengan perbuatanmu, dan betulkan perbuatanmu dengan niatmu secara ikhlas dengan
pembersihan hati. Saudaraku seagama pembersihan hati sangat penting sekali karena hati merupakan pusat dalam diri
manusia, apabila rusak hati kita maka rusak fikiran kita.
Dari hadist diatas jelas Nabi Muhammad Saw menjelaskan kepada kita , sesungguh nya dibadan kita ada gumpalan
daging, apa bila gumpalan ini benar, sehat maka badan kita semuanya akan sehat dan apa bila gumpalan ini tidak
sehat maka seluruh tubuh kita akan hancur dan rusak, gumpalan ini adalah Hati. Maka wajib bagi kita untuk benarbenar
memperhatikan hati kita dan harus berusaha menjadikan nya hati yang sehat zhohir dan batin, agar kita bisa
selalu mendapatkan keimanan yang kuat dan hidayah dari Allh Swt.
Nabi kita yang mulia Berdoa kepada Allah :
Ini doa yang diajarkan oleh baginda Nabi besar Sayiduna Muhammad Saw, Wahai zhat yang mampu membolak-balik
kan hati, tetapkan lah hati ku selalu dalam agamu.
Sebagaimana dalam firman Allah Swt yang Allah yang mulia :
Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan (yaitu) dihari harta dan anak-anak laki-laki tidak
berguna kecuali orang-orang yang mengadap Allah dengan hati yang bersih.
Maka bersungguh-sunnguhlah agar nati ketika kita mengahadap Allah dengan hati yang bersih hati yang penuh dengan
iman bersih dari pada penyakit hati seperti syirik, munafik, mungkar, sombong, riya’, hasad, Dan lai-lainnya, selalu
mendekatkan diri kepada Allah dan minta pertolongan kepada Allah dan sabarlah dalam segala hal mengahadapi
kehidupan di dunia yang fana” ini, kembalikan semuanya kepada Allah, mudah-mudahan Allah memudahkan kita untuk
membersihkan hati kita, agar kita selalu mendapat hidayah nya dan lindungan nya didunia dan akhirat amin.

Doa dibaca setelah Dzikir Ratib Al-Haddad

Ya Allah, dengan Nabi Muhammad SAW yang terpilih, kabulkanlah maksud kami
dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, Wahai Tuhan yang Maha luas
kemurahannya
Ya Robbibil Mustofa Baligh maqoosidana, Wagh fir lana ma madho ya wasi’al karomi
Ya Hannan Ya Mannan Jud lana bil Ghufron, bil wali Quthbil ‘Irfan, Al Habib Ali bin Abi Bakar As Syakron
Ya Allah Ya Subhan, Jud lana bin nuroni.. Bil wali Quthbir Robbani, Al Habib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani
Ya Allah Ya Quddus, Najjina ming kulli bus, bil wali Syamsi Syumus, Al Habib Abdullah bin Abi Bakar
Alaydrus
Ya Allah Ya Tawwab, Jud lana bil Murod, bil wali Quthbil Irsyad Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad
Ya Allah Ya Sattar, Jud lana bil Mukhtar, bil wali Quthbil Akhyar, Al Habib Umar Al Muhdor
Ya Maulana Ya Maulana istami’ Ya Maulana, Ya Maulana Ya Maulana istajib du’a ana
Ya Robbibil Mustofa, Baligh Makkah wal Madinah, Waghfirlana dzambana Ya Wasi’al Karomi

DO’A

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM - ALHAMDULILLAAHIROBBIL ‘AALAMIIN - HAMDAY
YUWAAFII NI’AAMAHU WA YUKAAFII MAZIIDAH - YAA ROBBANAA LAKAL HAMDU, KAMAA
YAMBAGHII LIJALAALI WAJHIKA, WALI ‘ADHIIMI SHULTOONIK. SUBHAANAKA LAA
NUHSHII TSANAA AN ‘ALAIKA ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALAA NAFSIK, FALAKAL HAMDU
HATTAA TARDHOO, WALAKAL HAMDU IDZAA RODHIITa, WALAKAL HAMDU BA’DAR
RIDHOO - ALLOOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL
AWWALIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL AAKHIRIIN,
WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FII KULLI WAKTIW WAHIIN.
WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL MALA-IL A’LAA ILAA
YAUMIDDIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN HATTA TARITSAL
ARDHO WAMAN ‘ALAIHAA, WA ANTA KHOIRUL WAARITSIIN. ALLOOHUMMA INNAA
NASTAHFIDHUKA WANAS TAUDI’UKA ADYAANANAA WA ABDAANANAA WA ANGFUSANAA
WA AMWAALANAA WA AHLANAA, WAKULLA SYAI-IN A’THOITANA. ALLOOHUMMAH
FADHNAA WA IYYAAHUM FII KANAAFIKa WA AMAANIKa, WA’IYAADIKa, WAJAWAARIKa,
MIN KULLI SYAITHOONI MARIID, WAJABBAARIN ‘ANIID, WADZII ‘AININ, WADZII BAGHYIN
WAMING SYARRI KULLI DZII SYARRIN, INNAKA ‘ALAA KULLI SYAI ING QODIIR.
ALLOOHUMMAA HUTH NA BIT TAQWA WAL ISTIQOOMAH, WA A’IDZ NAA MIM
MUUJIBAATIN NADAAMAH FIL HAALI WAL MAALI INNAKA SAMII’UD DU’AA’,
WASHOLLILLAAHUMMAA BIJAMAALIKA WAJALAALIKA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN
WA’ALAA AALIHII WASHOHBIHII AJMA’IIN, (WARZUQNA KAMAALAL MUTAA BA’ATI LAHU
DHOOHIROW WABAATHINAA, YAA ARHAMARROOHIMIIN ... 3 X),
BIFADHLI SUBHAANA ROBBIKA ROBBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WASALAAMUN
‘ALAL MURSALIN WALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. AAMIIN.
LIRRIDLOO-ILLAAHI TA’ALA AL FATIHAH………………

DO’A

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM - ALHAMDULILLAAHIROBBIL ‘AALAMIIN - HAMDAY
YUWAAFII NI’AAMAHU WA YUKAAFII MAZIIDAH - YAA ROBBANAA LAKAL HAMDU, KAMAA
YAMBAGHII LIJALAALI WAJHIKA, WALI ‘ADHIIMI SHULTOONIK. SUBHAANAKA LAA
NUHSHII TSANAA AN ‘ALAIKA ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALAA NAFSIK, FALAKAL HAMDU
HATTAA TARDHOO, WALAKAL HAMDU IDZAA RODHIITa, WALAKAL HAMDU BA’DAR
RIDHOO - ALLOOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL
AWWALIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL AAKHIRIIN,
WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FII KULLI WAKTIW WAHIIN.
WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL MALA-IL A’LAA ILAA
YAUMIDDIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN HATTA TARITSAL
ARDHO WAMAN ‘ALAIHAA, WA ANTA KHOIRUL WAARITSIIN. ALLOOHUMMA INNAA
NASTAHFIDHUKA WANAS TAUDI’UKA ADYAANANAA WA ABDAANANAA WA ANGFUSANAA
WA AMWAALANAA WA AHLANAA, WAKULLA SYAI-IN A’THOITANA. ALLOOHUMMAH
FADHNAA WA IYYAAHUM FII KANAAFIKa WA AMAANIKa, WA’IYAADIKa, WAJAWAARIKa,
MIN KULLI SYAITHOONI MARIID, WAJABBAARIN ‘ANIID, WADZII ‘AININ, WADZII BAGHYIN
WAMING SYARRI KULLI DZII SYARRIN, INNAKA ‘ALAA KULLI SYAI ING QODIIR.
ALLOOHUMMAA HUTH NA BIT TAQWA WAL ISTIQOOMAH, WA A’IDZ NAA MIM
MUUJIBAATIN NADAAMAH FIL HAALI WAL MAALI INNAKA SAMII’UD DU’AA’, WASHOLLIL
LAAHUMMAA BIJAMAALIKA WAJALAALIKA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA’ALAA
AALIHII WASHOHBIHII AJMA’IIN, (WARZUQNA KAMAALAL MUTAA BA’ATI LAHU
DHOOHIROW WABAATHINAA, YAA ARHAMARROOHIMIIN ... 3 X),
BIFADHLI SUBHAANA ROBBIKA ROBBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WASALAAMUN
‘ALAL MURSALIN WALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. AAMIIN.

DO’A

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM - ALHAMDULILLAAHIROBBIL ‘AALAMIIN - HAMDAY YUWAAFII
NI’AAMAHU WA YUKAAFII-U MAZIIDAH - YAA ROBBANAA LAKAL HAMDU, KAMAA YAMBAGHII
LIJALAALI WAJHIKA, WALI ‘ADHIIMI SHULTOONIK. SUBHAANAKA LAA NUHSHII TSANAA AN
‘ALAIKA ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALAA NAFSIK, FALAKAL HAMDU HATTAA TARDHOO, WALAKAL
HAMDU IDZAA RODHIITa, WALAKAL HAMDU BA’DAR RIDHOO - ALLOOHUMMA SHOLLI WA SALLIM
‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL AWWALIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA
MUHAMMADIN FIL AAKHIRIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FII KULLI
WAKTIW WAHIIN. WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN FIL MALA-IL A’LAA ILAA
YAUMIDDIIN, WASHOLLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN HATTA TARITSAL ARDHO
WAMAN ‘ALAIHAA, WA ANTA KHOIRUL WAARITSIIN. ALLOOHUMMA INNAA NASTAHFIDHUKA
WANAS TAUDI’UKA ADYAANANAA WA ABDAANANAA WA ANGFUSANAA WA AMWAALANAA WA AHLANAA, WAKULLA SYAI-IN A’THOITANA. ALLOOHUMMAH FADHNAA WA IYYAAHUM FII KANAAFIKa WA AMAANIKa, WA’IYAADIKa, WAJIWAARIKa, MIN KULLI SYAITHOONI MARIID, WAJABBAARIN ‘ANIID, WADZII ‘AININ, WADZII BAGHYIN WAMING SYARRI KULLI DZII SYARRIN, INNAKA ‘ALAA KULLI SYAI ING QODIIR. ALLOOHUMMAA HUTH NA BIT TAQWA WAL ISTIQOOMAH, WA A’IDZ NAA MIM MUUJIBAATIN NADAAMAH FIL HAALI WAL MAALI INNAKA SAMII’UD DU’AA’, WASHOLLIL LAAHUMMAA BIJAMAALIKA WAJALAALIKA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA’ALAA AALIHII WASHOHBIHII AJMA’IIN, (WARZUQNA KAMAALAL MUTAA BA’ATI LAHU DHOOHIROW WABAATHINAA, YAA ARHAMARROOHIMIIN ... 3 X),
BIFADHLI SUBHAANA ROBBIKA ROBBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WASALAAMUN ‘ALAL MURSALIN WALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. AAMIIN.

LIRRIDLOO-ILLAAHI TA’ALA AL FATIHAH………………

Website Syababul Huda Mahabbah Qolbu 2011