Allah Menyayangi Orang Yang Pemaaf

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Allah menyayangi orang yg pemaaf dalam jual dan beli, dan pemaaf pada hutang piutangnya” (Shahih Bukhari)



Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur, Maha Menerangi jiwa hamba – hambaNya dengan keluhuran, dan tiadalah yang lebih indah sepanjang kehidupan melebihi iman, melebihi kehadirat untuk dekat kepada Allah, tidak ada kemuliaan dari semua kehidupan yang pernah hidup dari keturunan Adam as Mulai Nabiyullah Adam alaihis salam wa Sayyidatuna Hawa alaiha salam sampai manusia yang terakhir hidup di muka bumi, tidak ada kehidupan yang lebih mulia dari kehidupan para pecinta Allah. Orang – orang yang ingin dekat kepada Allah, orang yang ingin mencapai kesuksesan hakekat dari segenap kesuksesan, puncak dan akhir dari semua karir, jabatan – jabatan tertinggi dari semua jabatan yaitu kedekatan kepada Allah di istana – istana kemewahan yang abadi.

Sehingga mereka yang jiwanya dipenuhi dengan asyik dan rindu kepada Allah, dan itulah seindah – indah jiwa. Mereka tidak lagi terfikirkan pedihnya neraka dan tidak lagi terfikirkan indahnya surga. Tapi yang mereka dambakan adalah dekat dan dicintai Allah. Itulah yang mereka inginkan. Maka kita bertanya, kenapa Sang Nabi saw selalu meminta surga dan minta jauh dari neraka, apakah Sang Nabi saw masih menginginkan surga dan masih risau pada neraka? Bukan itu maksudnya, tapi mereka para shiddiqin dan muqarrabin mengetahui bahwa surga adalah tempat orang – orang yang dicintai Allah dan neraka adalah tempat orang – orang yang dimurkai Allah. Maka mereka meminta surga, karena surga adalah tempat orang – orang yang dicintai Allah.
Image

Allah Swt telah menjamu kita di malam ini dengan mengumpulkan para malaikat yang menyaksikan setiap kehadiran tamu – tamu Allah di masjid – masjid atau orang yang duduk karena untuk beribadah kepada Allah. Sehingga sabda Rasul saw “malaikat laa tazaal yusholli ala ahadikum” (Shahih Bukhari) tiada henti – hentinya malaikat bershalawat dan mendoakan kepada kalian ketika diantara kalian masih duduk didalam masjid dalam keadaan suci atau masih duduk ditempat ia shalat atau ibadah maka malaikat itu terus mendoakannya dengan doa “allahumma shalli a’laihi allahummarhamhu” wahai Allah limpahkan baginya shalawat dan kemuliaan, wahai Allah sayangilah ia. Terus malaikat mendoakan dengan doa itu sepanjang kita masih duduk di majelis ini, didalam istana keridhaan Allah (Masjid), di muka bumi. Betapa Allah memanjakan dan memuliakan kita, betapa indahnya cinta Allah kepada kitas sehingga dikerahkanlah para malaikat untuk mendoakan orang – orang yang ingin dekat kepada-Nya, yang datang bertamu kepada istana keridhaan-Nya, ke masjid – masjid atau ke mushalla atau ke tempat ia ibadah walau hanya sajadahnya sendiri, selama ia masih duduk di tempat itu, malaikat terus dan dan terus – menerus mendoakannya.

Sampailah kita pada hadits mulia di malam ini, riwayat Shahih Bukhari “rahimallahu rajulan samhan idzaa baa’a wa izaa isytaraa wa izaaqtadhaa” kasih sayang Allah selalu berlimpah kepada seseorang yang apabila ia membeli dan menjual (dalam jual belinya) selalu senang memaafkan, memudahkan dan pempermudah. Kalau ia membeli, tidak terlalu sangat banyak menawar, kalau ia menjual tidak terlalu banyak mengambil untung dan tidak menipu pembelinya. “..wa izaaqtadha” dan ketika mereka saling melunasi hutang piutang. Ketika mereka mempunyai hutang kepada orang lain dengan sifat baiknya, ia datangi orang yang ia pinjam uangnya dan ia kembalikan dengan baik , dengan sopan dan dengan mulia. Atau sebaliknya jika ia orang lain berhutang padanya maka ia meminta atau menagihnya dengan sopan dan baik. Orang – orang yang seperti ini dicintai oleh Allah, disayangi Allah. Allah berfirman “wailullilmuthaffifiin; alladzina idzaktaaluu a’lannasi yastawfuun; waidza kaaluuhum awwazanuuhum yukhsiruun; ala yadhunnu ulaaika annahummab’utsun; liyawmin a’dhim; yaumayaquumunnaasu lirabbil a’lamin” (QS. Al Muthaffifiin : 1-5). Allah Swt berfirman : Celakalah orang yang berbuat dhalim dalam timbangan perdagangannya (Qs. Al-Muthaffifiin : 1). Kalau mereka yang belanja, mereka meminta timbangan itu seadil – adilnya, jangan sampai ada berat yang sampai mendhalimi. Jika mereka sendiri yang menjual maka mereka mengurangi timbangannya (Qs. Al-Muthaffifiin : 2), celakalah mereka, kata Allah Swt. Apakah mereka tidak mengira bahwa kelak akan berdiri di satu hari yang sangat dahsyat (Qs. Al-Muthaffifiin : 4-5). Hari yang sangat agung, hari dimana Allah Swt menjadikan manusia itu berdiri satu persatu menghadap-Nya, disaat itu betapa meruginya para pedagang yang berbuat dhalim. Kalau mendhalimi timbangan saja seperti itu, bagaimana mendhalimi penjual dengan penipuan.
Image

Rasul saw menuntun kita kepada seindah – indah tuntunan, kepada semulia – mulia bimbingan dan inilah bimbingan Nabi kita Muhammad Saw. Dan Rasul saw sebaik – baik orang yang beramal. Ketika beliau saw meminjam kepada orang lain, mestilah beliau saw sendiri yang mengembalikannya atau dengan sebaik – baik cara. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, bagaimana Rasul saw meminjam uang kepada seorang yahudi (seorang yang diluar Islam) maka orang yahudi itu, padahal sudah tahu bahwa Rasulullah saw itu adalah orang yang amanah masih meminta jaminan dan Rasulullah saw memberikan jaminan baju besinya. Untuk apa uang itu, untuk menjamu tamunya. Demikian indahnya budi pekerti Sayyidina Muhammad Saw.

Dan beliau saw adalah yang paling sempurna akhlaknya. Sehingga diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika beliau saw berjalan menemukan sebutir kurma yang terjatuh di tanah, seraya mengambilnya dan berkata “lawla antakuna shadaqah la..” kalau bukan takut karena ini kurma shadaqah (karena shadaqah tidak boleh dimakan oleh Rasul saw, namun boleh oleh muslimin lainnya) aku akan memakannya, kata Sang Nabi saw. Dari menghargai rezki yang ada di muka bumi yang asal muasalnya dari Allah. Ini hukumnya luqatah (barang temuan yang tidak berharga). Jadi kalau kita menemukan barang yang tidak ada harganya boleh diambil, tapi kalau barang yang berharga tidak boleh diambil dan waktu penantiannya adalah 1 tahun kalau barang itu barang berharga. Diambil, dipegang saja, dicari orang yang memilikinya atau diumumkan selama 1 tahun. Kalau 1 tahun tidak datang juga pemiliknya, boleh dipakai tapi kalau pemiliknya datang harus dikembalikan atau diganti dengan uang. Demikian hadirin – hadirat, barang temuan.

Ini kita keluar dari pembicaraan ini sudah sangat banyak laporan bahwa para pencopet selalu ikut hadir di majelis ini. Subhanallah!! Orang datang untuk niat berbuat baik dan kau (pencopet) datang untuk mendhalimi orang yang berbuat baik. Tidak terfikir di hati saya, di majelis mulia seperti ini ada orang yang datang dengan niat sengaja untuk mendhalimi dan berbuat jahat kepada orang – orang yang datang kepada keridhaan Allah Swt. Tidak terbayangkan dendamnya Allah di kehidupan mereka di dunia dan di akhirat. Semoga Allah melimpahkan kepada mereka hidayah, tidak terbayangkan kemarahan Allah dan kemurkaan-Nya terhadap mereka yang mendhalimi para tamu-Nya. Orang datang mengaji dan pulang tidak membawa handphone lagi, handphonenya lenyap karena sudah ada orang – orang tertentu yang ingin mengambil handphonenya. Subhanallah, tobatlah!! Wahai engkau yang berniat berbuat jahat di majelis ini karena bala dan musibah akan datang padamu, kemiskinan, kehancuran di dunia dan di akhirat. Semoga Allah memberikan kepada mereka hidayah.
Image

Demikian Sang Nabi saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Bukhari. Rasul saw bersabda “akan datang satu masa kepada manusia ini dimana ia tidak perduli lagi apa – apa yang masuk kepadanya, Apakah dari hal yang halal atau dari hal yang haram”. Ia sudah tidak mau lagi bedakan, mana itu halal mana itu haram. Akan datang masa itu, kata Nabi Saw. Dan masa itu telah datang kepada kita.
Hadirin – hadirat, inilah masa pembenahan bagi kita, inilah pemuda kita dan majelis kita yang selama ini Allah Swt memberikan Inayah selalu semoga kepada kita untuk semakin memakmurkan majelis – majelis kita, majelis – majelis mulia ini. Semoga Allah Swt semakin memakmurkannya, Amin Allahumma Amin. Dan menjadikan orang – orang yang hadir ini dalam kemakmuran dunia dan akhirat.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika bagaimana indahnya Sang Nabi saw memberikan tarbiyah kepada para sahabat dengan seindah – indahnya tuntunan. Abdullah bin Amr bin Ash alaihimaa ridhwanallah, sampai kabar kepada Sang Nabi saw bahwa Abdullah bin Amr bin Ash ini sepanjang malam shalat malam sambil membaca Alqur’an. Siang hari puasa, tiap hari ia lakukan seperti itu. Maka Rasul saw memanggilnya “apakah engkau betul (shalat sepanjang malam) di malam hari berapa banyak kau membaca Alqur’an?” ia berkata “aku khatam Alqur’an setiap malamnya, wahai Rasulullah”. “Lalu siang hari?”, “siang hari aku puasa setiap harinya wahai Rasulullah”. Rasul saw berkata “jangan kau perbuat!, bacalah Alqur’an 1 bulan sekali khatam (1 hari = 1 juz)” itu yang terbaik dan yang sunnah untuk kita. Orang – orang yang mempunyai kesibukkan dan lainnya disunnahkan untuk membaca 1 juz 1 hari bila mampu. Rasul saw mengajarinya, 1 bulan 1X khatam dan berpuasalah 3 hari setiap bulannya. Maka Abdullah bin Amr bin Ash berkata “Wahai Rasulullah, aku mampu lebih dari itu wahai Rasulullah”. Maka Rasul saw terlihat wajahnya berubah, sudah diberi saran malah didebat saran Sang Nabi saw. Maka Rasul saw berkata “kalau begitu 1 minggu 3 hari puasanya”, ia menjawab “ya Rasulllah aku bisa lebih dari itu”. Terus ia meminta dan meminta, sampai akhirnya Rasul saw berkata “kalau begitu 1 hari puasa 1 hari tidak, yaitu puasa Nabi Daud as, dan tidak ada yang lebih dari itu”. Maksudanya Rasul saw tidak memberi izin untuk puasa lebih dari puasa Nabiyullah Daud as yaitu sehari puasa sehari tidak puasa, besoknya puasa besoknya tidak puasa. Itu sudah puasa yang terbanyak bagi umat Nabi Muhammad Saw.

Sampai tak lama kemudian Rasul saw wafat dan sampai khilafah dan sampai Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan hadits ini jauh setelah wafatnya Sang Nabi saw. Ia berkata “coba kalau aku terima saran Sang Nabi saw itu dari awal, jangan sampai tidak, apa artinya ibadahku yang sedemikian banyak kalau seandainya ibadahku itu menyinggung perasaan Rasulullah Saw”. Coba kalau dari awal aku terima saran Sang Nabi saw sehingga Sang Nabi saw gembira kepadaku, sehingga Sang Nabi saw menyayangiku karena menerima wasiatnya saw, coba itu maka jauh lebih berharga daripada ibadahku, yang ibadah – ibadah sunnahnya saw. Walau ia berjuang dengan puasa Nabiyullah Daud nya atau berjuang dengan amalan ibadah lainnya, belum tentu ia menemukan kesempatan menggembirakan hati Sang Nabi Muhammad Saw.

wasiat Rasulullah saw di waktu terakhirnya

Dari Ibnu Mas’ud ra bahawasanya Rasulullah SAW bersabda:

Ajalku hampir tiba, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila’la.”

Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli baitku.

Kami bertanya: Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?

Baginda menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.”

Kami bertanya: “Siapakah yang menshalatkan baginda di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letakanlah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama menshalatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tentaranya. Kemudian masuklah kalian dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula shalat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu sekalian.”

Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan adzannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian ia berkata lagi “Assholah yarhamukallah.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda shalat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda: “Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, karena aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”

Malaikat Maut Datang Bertamu
Pada esoknya, yaitu Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja.

Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!” Siti Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya,

Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?” Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: “Siapakah itu wahai anakku?” Fatimah menjawab: “Seorang lelaki, sepertinya baru sekali ini saya melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia, wahai anakku?” Fatimah menjawab: “Tidak wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan sambil menatap wajah anaknya, seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang “Wahai Fatimah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut.” Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan ‘Assalamualaika ya Rasulullah.” Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika anda izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang.

Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? “Saya tinggal dia di langit dunia” Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW. Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah.”

Ketika Sakaratul Maut Tiba
Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab; “Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut ruhmu.”

Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan ruhmu.”

Rasulullah SAW bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk anda wahai kekasih Allah. Engkaulah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang kabar yang menggembirakan aku?”

Jibril as bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?”

Jibril menjawab: “Saya membawa kabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau (Muhammad) dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.”

Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku” Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW.

Imam Ali kw, bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan anda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga.

Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika ruh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.”

Mendengar ucapan Rasulullah itu, Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?”

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii,ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku”

    Fathimah Az-Zahra` a.s. di masa-masa terakhir Kehidupan Rasulullah SAW
    Di akhir-akhir umurnya Rasulullah SAW, Fathimah a.s. menatap wajah ayahnya yang bercahaya dan mengalirkan keringat dingin. Sambil menangis ia menatap ayahnya. Sang ayah tidak tega melihat putrinya menangis dan gelisah. Akhirnya sang ayah membisikkan sebuah ucapan di telinganya sehingga ia tenang dan tersenyum. Senyumnya pada masa-masa krisis seperti itu terlihat sangat aneh. Mereka bertanya kepadanya: “Rahasia apakah yang telah ia ucapkan?” Ia hanya menjawab: “Selama ayahku hidup aku akan bungkam seribu bahasa”. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, ia membongkar rahasia itu. Fathimah a.s. berkata: “Ayahku mengatakan kepadaku bahwa engkau adalah orang pertama dari Ahlul Baitku yang akan menyusulku. Oleh karena itu, aku bahagia”.

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa alih wasalam. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita..




-------
(Qiyamul lail lah... wahai hamba Allah)


Kupersembahkan untuk kekasih sejatiku 4JJ1

Merataplah karena ratapanmu dapat

Berbuat banyak hal

Bertahajudlah, karena seratus bahaya

Terhindarkan

Hapuslah amarah dengan cintamu

Setetes air mata cintamu pada-Nya

Mampu memadamkan api neraka-Nya

Bangunlah di malam hari wahai hamba Allah,

Karena para kekasih Allah membisikan rahasia

Mereka di penghujung malam

Bangunlah wahai hamba Allah,

Sucikan diri, dan hadapkan wajahmu kepada-Nya

Di penghujung malam

Di tengah sunyinya dunia

Ketika yang lain masih lelap dengan mimpi dan harapannya

Bertahajjudlah wahai hamba Allah

Ia menantimu dengan CINTA

Menanti untaian harapanmu untuk dipenuhi

Menanti ungkapan hatimu untuk dihibur-Nya

Menanti lantunan tobatmu untuk diampuni

Tidak kah kalian ingin menjadi salah satu kekasih-Nya?

Tidakkah kalian ingin menatap wajah-Nya kelak?

Bangunlah wahai hamba Allah...

Ketika semua pintu tertutup rapat di malam hari...

Hanya pintu-Nya yang terbuka lebar untuk kau masuki

Tidak kah kau dengar panggilan lembut-Nya...

Yang menyapamu untuk datang dan bermunajat pada-Nya?

Jangan lalai, wahai hamba Allah...

Bangunlah segera untuk datang pada-Nya

Di penghujung malam, ketika yang lain enggan hadir

dan memilih tetap terlelap dalam mimpi indahnya...

Jangan lalai, wahai hamba Allah...

Bagaimana mungkin kita mengabaikan tawaran-Nya...

Bagaimana mungkin kita melewatkan kesempatan indah

Untuk dapat bermesraan dengan-Nya...

Ketika semua doa, harapan, dan tobat...

Di janjikan untuk dipenuhi oleh-Nya

Ayam - ayam berkokok di pagi buta

Hanya untuk bermunajat pada-Nya...

Bangunlah wahai hamba Allah....

Munajatmu dinanti oleh-Nya...

Mereka yang hadir di penghujung malam

Sibuk bermunajat kepada Tuhannya...

Tidak kah kau dengar panggilan lembut-Nya...

Ia turun ke langit dunia, hanya untuk menantikan

Kehadiran hamba - hamba-Nya...

Bangkitlah dari tidurmu, wahai hamba Allah

Jadilah para pecintaNya...

Pabila kau cuci hatimu dengan air mata tulusmu

Niscaya para malaikat akan turut memebrsihkan hatimu...

Robeklah keheningan malam dengan ratapan hati

Carilah jalan menuju pada-nya dengan munajatmu

Doamu kan di ijabah

Pintamu kan dikabulkan

Taubat mu pun kan diterima

Bangunlah wahai hamba Allah...

Gapailah keberkahan-Nya dengan bangun di penghujung malam

Balaslah sapa pembutnya dengan munajatmu

Qiyamul lail lah... wahai hamba Allah

Tenggelamkan dirimu dalam kekhusyu'an bermesraan dengan-Nya

Hingga kau dapat dengar sapa lembut-Nya

"Ya Allah, akal, hati dan jiwaku telah kuhadapkan padaMu, akal yang penuh keyakinan terhadapMu, hati yang penuh dengan keimanan padaMu, serta jiwa yang senantiasa mencintaiMu. Ku bergantung padaMu untuk setiap langkah yang kubuat. Aku hanyalah hamba yang tak memiliki kemampuan apapun bila tanpa kuasaMu. Sholatku, hidupku dan matiku, ku akui hanya Engkaulah Tuhanku. Ku bersaksi hingga akhir nanti hanya Engkaulah tempatku menyembah. Tuntun aku ya Allah, agar senantiasa mampu selalu mensyukuri nikmatMu. Agar dapat sealu memperbaiku ibadah - ibahdah kepadaMu. Agar aku pulang kepadaMu kelak dalam keadaan KAU Cintai. " Amin...

Website Syababul Huda Mahabbah Qolbu 2011